
Angin bertiup dengan lembut tak menghiraukan suasana yang tegang di antara kedua belah pihak. Bau amis darah terbawa ke mana angin pergi.
Veroa merasakan bahaya dari sosok di hadapannya. Tapi, dia tak merasa gentar, malah tersenyum seraya membalas tatapan tajam sosok itu.
Melihat tak adanya pergerakan yang mencurigakan dari para monster itu, dia pun meminta Zaldot yang berada di depannya untuk tak menghalangi pandangannya. Dia segera mengerti, makhluk di depannya hendak menantangnya satu lawan satu tanpa melibatkan bawahan.
“Engkau yakin?” tanya sosok itu setelah melihat gerak-gerik bawahan anak manusia di depannya mundur ke barisan pasukan sihir. Melihatnya mengangguk, dia tersenyum puas, karena lawan di hadapannya memiliki keberanian yang tinggi. Ekspresi wajahnya segera berubah menjadi ekspresi seorang psikopat. Tanpa peringatan, dia menghilang dari pandangan semua orang dan tiba-tiba, muncul di hadapan Veroa, tangan yang besar melayang menuju tubuh Veroa yang nampak kecil bila harus dibandingkan.
[Deflection]
Secara reflek, skill itu digunakan untuk menangkis serangannya.
Merasakan adanya serangan balik dari serangannya sendiri setelah merasa bahwa serangannya telah mengenai secara telak tubuh lawan, dia melompat mundur. Tubuhnya tiba-tiba sedikit dibungkukkan, sebuah penghormatan terhadap mereka yang dianggap setara, dia pun berkata “Mohon maafkan saya, engkau yang telah kuanggap kuat atas kelakuan lancang saya sebelumnya. Sebelum dilanjut, saya mohon untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan, saya Azazel, untuk saat ini, saya menguasai seluruh daratan dunia ini”
“Tak apa, Azazel atau kupanggil Raja Azazel? Haha... perkenalkan juga, saya Veroa Flif, seseorang yang masih hidup, namun entah mengapa, mendapat hukuman dari Dewa. Kini pun, saya masih menjalani hukuman ketiga, yaitu bertahan hidup di Dunia Terbengkalai ini” balas Veroa dengan dibumbui sedikit sikap candaan.
__ADS_1
Untuk para monster bawahan Raja Iblis Azazel, mereka merasa geram mendengar candaan yang terlontar dari mulut Veroa, mereka menganggapnya seperti sebuah penghinaan pada Tuannya. Mungkin, mereka memang bawahan, tapi mereka sangat setia pada Tuannya, meskipun Tuannya tak terlalu memperhatikannya. Sedangkan untuk para pasukan sihir, mereka terkejut sekaligus merasa kagum melihat sikap Tuannya yang begitu tenang menghadapi Raja Iblis Azazel yang mereka rasa merupakan lawan yang sangat berbahaya.
Keduanya bersiap pada posisi masing-masing, melakukan kuda-kuda dan menatap lawan di depannya. Masih belum ada pergerakan, masing-masing masih mencari kelemahan, titik buta lawan untuk mengatur serangan, dan melihat jalur yang perlu diambil saat melancarkan serangan.
Sekali lagi, Raja Iblis Azazel menghilang dari pandangan semua orang. Pergerakannya yang sangat cepat tanpa memperlihatkan arah geraknya, ditambah lagi, momentum yang dihasilkan seperti massa tubuhnya yang mungkin bernilai sangat besar dikalikan dengan kecepatan vektor yang bernilai nol, tak terlihat adanya hentakan dan tiba-tiba saja menghilang dari pandangan.
Beberapa milidetik kemudian, dua kepalan tangan yang disatukan hendak mendarat dengan target hantaman, kepala Veroa yang terlihat sedikit celah.
[Deflection]
Veroa masih berdiri dengan gagah, tak terlihat postur bertahannya mengalami kegoyahan. Walau satu sentimeter saja, tak terlihat adanya pergeseran pada kakinya. Bagai benteng tak tertembus. Itulah gambarannya untuk saat ini.
Raja Iblis Azazel kembali perlahan turun, agar pertandingan itu nampak adil, dia mau tak mau harus mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri, padahal tak ada yang melarangnya. Nyatanya, dia hanya ingin mencari sensasi pertarungan yang membuatnya merasa tegang. Dan untuk pertama kalinya, selain tak berdaya di hadapan Dewa, dia bertemu lawan yang tangguh saat ini.
Kini, giliran Veroa yang menyerang duluan. Tepat setelah kedua kaki Raja Iblis Azazel menyentuh tanah, Veroa melesat dengan kecepatan tertingginya. Arah gerakkannya terlihat jelas, momentum yang dihasilkan terlalu besar, namun kecepatan geraknya nyaris tak terlihat. Dalam gerakkannya, dia mengikuti alur yang telah direncanakannya. Saat dia berada di depan tak terlalu jauh dari tempat Raja Iblis Azazel mendarat, di mengubah arah lesatannya. Arah yang diambil adalah sebelah kiri dari sudut pandangnya yang bertujuan untuk memutari hingga 180 derajat dari arah belokannya. Tanpa mendapat hambatan, dia berhasil tiba di bagian belakang Raja Iblis Azazel.
__ADS_1
[Kendo master: multi-hit strike]
[Kendo master: delayed effect]
Dalam waktu sedetik, Veroa telah menebaskan honjou masamunenya sebanyak puluhan kali, beberapa poin lebih banyak daripada saat dia memotong-motong salah satu kepala hydra. Di waktu sesingkat itu, dia mengambil keputusan dengan sangat cepat dan dapat merasakan kulit Raja Iblis Azazel yang sangat tangguh. Dia hanya memfokuskan pada tiga titik serangan. Di titik itu, dia menebaskan honjou masamune sampai satu detik. Setelahnya, dia mengambil jarak dari posisi lawannya saat ini. Saat itulah, dia memasukkan honjou masamune ke dalam sarungnya dan efek dari tebasannya baru saja aktif.
Siapapun yang mendapat serangan dari tebasan Veroa yang menggunakan skill [kendo master: delayed effect], dalam kurun waktu efek skill, dia takkan dapat bergerak dan faktor luar pun tak dapat mempengaruhinya sebelum pengguna skill ini memasukkan katananya ke dalam sarungnya. Raja Iblis Azazel pun sama, dia hanya bisa merasakan punggungnya ditebas puluhan kali dan tak dapat melakukan pergerakan. Namun, punggung yang ditebas belum terasa sakit sebelum lawannya memasukkan katana ke dalam sarungnya.
Punggungnya kini terluka. Darah hitam perlahan menetes. Tanah yang ditetesi oleh darah hitam itu seperti ditetesi oleh cairan asam kuat. Darah Raja Iblis Azazel sangat korosif, setetes darahnya saja membuat tanah yang ditetesinya terkikis hingga menjadi lekukan kecil. Mendapat luka seperti ini, dia malah tersenyum. Dia menoleh ke arah tempat Veroa menjaga jarak, saat matanya berkedip sekali, dia menghilang tanpa memperlihatkan ke mana arahnya pergi.
[Deflection]
Dari arah belakang, sebuah tangan yang berukuran besar ditinjukan ke arahnya. Tapi, lagi-lagi, efek serangannya berbalik arah pada Raja Iblis Azazel. Dia terpental mundur, menghantam beberapa monster bawahannya di belakang sana. Tenaga yang digunakan untuk melakukan serangan barusan lumayan besar, sehingga sedikit darah hitam termuntahkan dari mulutnya.
Kondisi lawan memang seperti tak diuntungkan dengan adanya skill [deflection], tetapi penggunaan skill itu telah berakhir untuk saat ini. Bila dia menggunakannya sekali lagi, tubuhnya akan terluka. Dan bila menggunakannya lagi setelahnya, tubuhnya akan semakin terluka. Tapi, jumlah penggunaan skill ini tergantung daya serang yang diterimanya. Semakin besar daya serang yang diterima oleh skill ini, semakin besar pula tenaga yang harus digunakan. Dalam pertarungan ini, 5% pertama, tenaganya telah digunakan untuk menahan serangan uji coba. Serangan yang kedua sebanyak 15% dan yang ketiga 20%. Harusnya, bila kondisinya masih prima, dia dapat menggunakannya sampai lima kali paling sedikit, tapi staminanya telah terkuras setengahnya saat membantai monster – monster bawahan Raja Iblis Azazel.
__ADS_1
Kini, keduanya berhadap-hadapan, tak terburu-buru untuk menyerang lawan.