Sistem Katalis

Sistem Katalis
Daging Antelope Memang yang Terbaik! Tapi...


__ADS_3

    Veroa kembali dengan tangan kosong. Kini, di perjalanan pulang, dia bergerak dengan santai, tapi santai di sini tetap saja lebih cepat dari pada laju kecepatan kuda perang yang hanya menanggung seorang ksatria. Dalam kecepatan konstan, dia akan sampai di Kota Tungsten sekitar dua pekan bila dia melaju tanpa henti. Tapi, dia melihat pemandangan alam yang memukau, yang tak diperhatikan sewaktu dirinya pergi. Hal itu tentunya membuat dirinya semakin tak perlu terburu-buru, dirinya berniat untuk beristirahat di beberapa tempat. Sesekali, dia ingin merasakan kembali rasanya berburu di hutan, perburuan nyata dan dimakan oleh diri sendiri dengan membakarnya setelah disembelih.


    Saat ada sebuah tempat yang cocok untuk dijadikan tempat peristirahatan, dia berhenti. Pas sekali saat dirinya melihat ke arah kanan, seekor antelope sedang memakan rumput dan baru saja menyadari kedatangannya. Antelope itu memiliki insting bertahan hidup yang umum dimiliki oleh binatang liar, dirinya merasa terancam dengan kedatangan Veroa. Tak menghiraukan rumput yang begitu nikmat, antelope itu berlari dengan sangat kencang ke arah yang berlawan dengan posisi Veroa saat ini.


    “Oh, ingin bermain kejar-kejaran, kah?” melihat antelope itu pergi tepat setelah kedatangannya, dia yang baru saja berhenti berlari, kembali berlari untuk mengejar buruannya.


    Di sekitar sini, pepohonan sedikit berjarak satu sama lain, sinar matahari dapat menyinari rerumputan, terbukti begitu subur dan hijau. Biasanya, di hutan yang dedaunan lebat menghalangi sinar matahari, tanah sedikit ditumbuhi dengan tumbuhan jenis rumpur liar. Area hijau seperti ini cukup luas, semakin rontok di sekitar area gelap.


    Antelope itu ternyata berlari ke arah hutan yang gelap, mungkin instingnya mengatakan untuk berlari ke sana. Berharap, Veroa tak berani mengejarnya setelah dirinya berhasil masuk ke area pepohonan yang lebat itu. Nyatanya, Veroa tak mempedulikannya, dia tetap berlari mengejar antelope itu. Sebenarnya, mudah saja bila dirinya hendak memburunya secara serius. Tapi, dia hendak bermain kejar-kejaran terlebih dahulu, mempermainkan sang mangsa yang menyedihkan dalam tekanan ketakutan.


    Dari gelapnya hutan, sebenarnya tak terlalu gelap, masih dapat melihat-lihat jalan dan batang pohon namun terbatas, tak terlihat adanya tanda-tanda makhluk hidup di depan, tiba-tiba seekor macan loreng yang sekujur tubuhnya berwarna hitam legam melompat, menerkam antelope yang sedang dikejar oleh Veroa. Kedua kaki bagian depannya mengoyak kulit antelope, giginya memotong pembuluh darah di lehernya, tubuhnya terdorong ke arah lompatan macan itu.

__ADS_1


    Veroa sampai berhenti berlari melihat buruannya dicuri begitu saja, apalagi dia melihatnya tak jauh dari dirinya berdiri saat ini. Antelope memiliki rasa daging yang gurih dan kenyal, orang yang tak memiliki keahlian memasak pun dapat menikmati daging itu hanya dengan membakarnya setengah matang. Jarang juga pedagang jalanan maupun restoran yang menyediakan daging yang satu ini, karena para pemburu kesulitan memburunya sekaligus sedikit langka.


Sudah pasti, Veroa tak terima mendapat perlakuan seperti itu. Sebelum macan loreng hitam itu berbuat lebih jauh, dirinya melesat cepat dan memukul kepalanya hingga macan itu melekik kesakitan. Beruntungnya, macan itu baru menggigit leher antelope, daging yang lain masih dapat dimakannya.


Tak sampai di situ, dia kembali memukul macan loreng hitam hingga macan itu terpental sampai menabrak pohon yang searah geraknya. Dua kali mendapat perlakuan seperti ini tanpa dirinya dapat melakukan perlawanan atau sekedar menghindar, macan loreng hitam merasa, manusia di depannya berbahaya. Tak ingin nyawanya terancam, macan loreng hitam itu berlari ke arah gelapnya hutan, tubuhnya segera menghilang di sana.


“Akhirnya, aku dapat merasakan daging yang super nikmat ini!”


Belum ada api. Dia menancapkan daging yang telah ditusuk di atas tanah, dirinya mengumpulkan ranting pohon kering yang ada di sekitar. Tak perlu pemantik api atau semacamnya, hanya dengan meningkatkan suhu udara di sekitar tumpukan ranting yang telah dikumpulkannya, mulai muncul api kecil yang perlahan membesar, melahap ranting-ranting kering yang bertumpuk.


Daging pun dibakar, diputar agar pembakaran merata ke seluruh permukaan daging. Lemaknya meleleh, sungguh banyak sampai-sampai hampir setengah ember mungkin bila ditampung di bawahnya. Tapi, tak semuanya menetes, sebagian masih menempel di atas permukaan daging, sisaan lemak inilah yang membuat daging ini terasa begitu gurih. Setelah diputar-putar, tetesan lemak telah berhenti, daging pun telah berwarna kecoklatan, pertanda sebentar lagi dagingnya siap untuk dimakan.

__ADS_1


Sekali gigitan, lemaknya meleleh di dalam mulut, rasa nikmat yang membuat imajinasi melayang-layang. Di depan api unggun, dia menghabiskan seluruh daging antelope yang dibakarnya sendirian, tak berniat menyisakannya untuk nanti. Sayang bila dimakan dingin, rasa nikmatnya berkurang, karena lemaknya akan mengeras. Dibakar ulang sekalipun, takkan senikmat dibakar saat masih segar. Kini, dia merasa sangat kenyang, puas dengan waktu istirahatnya kali ini.


Setelah itu, dia melanjutkan perjalanan, tenggorokannya terasa kering setelah memakan daging berlemak itu, tapi dia tak menemukan adanya air di sekitar. Yang diketahuinya, jauh di depan sana ada Sungai Prometium, tapi bila dia ingin segera minum, dia harus bergegas dan mempercepat laju larinya. Tapi, dalam keadaan tenggorokan yang terasa kering, dia tak dapat berlari secepat itu, tetap saja dia harus menahan rasa haus itu sedikit lebih lama.


Sebelum dirinya dapat menemukan air minum, malah bertemu dengan serigala-serigala hutan lagi. Wilayah kekuasaannya lumayan luas, jarak dirinya saat ini berhenti berlari karena dihadang belasan ekor serigala hutan cukup jauh dengan Sungai Prometium.


“Aduh, bahkan untuk berbicara pun susah, saking terasa keringnya tenggorokan ini” dia hendak menggerutu, memarahi serigala-serigala hutan yang menghadangnya lagi. Andai mereka dapat melihat energi kalor yang dihasilkan tubuh Veroa, seperti kemampuan yang dimiliki binatang melata, mereka pasti takkan berani menghalangi jalannya.


Veroa tahu, di depan sana, dia akan dihadang lebih banyak lagi oleh serigala hutan. Dalam serpihan ingatannya, terdapat pengetahuan mengenai cara bertahan hidup di hutan, bagaiman cara mengatasi kekurangan air minum pun ada, hanya saja tetap memerlukan pengalaman untuk menjalani kehidupan di hutan dengan mudah. Sedikit kemungkinan bila dirinya beralih haluan, tak melewati wilayah kekuasaan serigala hutan ini, dia yang kehausan ini dapat menemukan pohon bambu muda yang berisikan air minum walau sedikit. Bila beruntung, dia dapat menemukan sumber mata air bersih.


“Aku tak boleh membuang waktu” katanya dengan suaranya yang mulai sedikit serak sebelum dirinya berbelok arah untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.

__ADS_1


__ADS_2