
Setelah melihat keadaan Karina dan Vina yang nampak baik-baik saja, Veroa segera dapat bernafas dengan lega. Mereka yang sedang dikhawatirkan sebenarnya sedang memakan cemilan di ruang kerjanya Karina yang kebetulan, Vina juga sedang bermain di sana.
“Memangnya ada apa, Tuan?” tanya Karina yang tidak tahu-menahu tentang serangan diam-diam itu. Vina masih sibuk dengan mainannya sendiri, tak merasa tertarik dengan pembicaraan orang dewasa.
Veroa pun sedikit menjelaskan tentang kejadian sebelumnya dan dia juga memperlihatkan kertas yang nampak mencurigakan yang disengaja dililitkan pada jarumnya. Dia sendiri belum membukanya, sebelumnya dia tak sempat untuk membukanya saat teringat dengan keadaan Karina dan Vina. Jadi, dia segera membukanya di sana dan membiarkan Karina juga mengetahui isinya yang kemungkinan semacam surat.
Dalam surat itu, terdapat tulisan tangan yang lumayan rapi. Keduanya membacanya dengan seksama, sampai akhir paragraf, tertanda Duke Arthemis. Isi suratnya merupakan surat ancaman bahwa dirinya telah menemukan bukti Karina yang mencoba melakukan pembunuhan terhadapnya. Sebagai kompensasinya, dia menginginkan tubuhnya dan menjadikan dirinya sebagi pemuas nafsu birahinya.
Sepertinya kejadian lampau terlalu mengerikan bagi Karina, apalagi dulu dia masih muda. Meski dia terlihat seperti berusia dua puluhan lebih, tapi nyatanya usianya masih belasan, mendekati usia dua puluh. Namun, di usia semuda itu telah memiliki gadis kecil berusia empat tahun. Tubuhnya merespon mengingat ingatan itu, terlihat dari tangannya yang gemetaran, seakan takut bahwa dirinya akan menjadi mainan lelaki yang telah merusak masa depannya.
“Kamu tak usah risau, Karina. Aku takkan membiarkan pria seperti itu tetap berkeliaran terlalu lama. Besok, akan ada berita tentang jatuhnya seorang duke dari Kerajaan Rome. Tapi, kudengar dari para prajurit, di sana sedang terjadi perebutan takhta, aku takkan membunuhnya sampai waktunya tiba. Apalagi, sepertinya menyenangkan bila aku menyaksikannya dari sana. Kalian mau ikut?” ujar Veroa dengan nada santai.
“Wah! Kakak mau pergi ke Kerajaan Rome? Vina ikut! Vina ikut!” seru Vina yang mendengar ajakan Veroa di sela-sela bermainnnya.
Karina masih merenungkan sesuatu, dia sepertinya masih merasa enggan untuk pergi ke kerajaan itu. Apalagi, setelah mendapat surat ancaman dari seseorang yang paling dibencinya. Bila bukan Veroa yang mengajaknya ke sana, dia mungkin akan menolaknya mentah-mentah. Tapi, pada akhirnya, “Baiklah, aku akan menyerahkan keberuntunganku padamu, Tuan. Tolong, lindungi aku dari pria semacam itu. Juga, perlihatkanlah sosok menyedihkan pria itu setelah perebutan takhta berakhir”
__ADS_1
“Tentu, Tuan Putri”
Veroa berencana mempercayakan Kota Tungsten pada Zaldot beserta beberapa pasukan sihirnya, karena dia belum memiliki orang kepercayaan selain Karina. Berhubung tak ada marquis di sini, hanya ada earl saja, jadinya memerlukan kekuatan lebih saat dirinya tak ada.
“Oh iya, Aethelfaed, tolong keluarkan kelinci bulan” ucap Veroa setelah keluar dari ruang kerja Karina dan hendak menuju ke kamarnya, berhubung saat ini tak ada yang melihatnya.
Dari ruang hampa, sebuah lingkaran membelah udara dari ukuran kecil yang perlahan membesar hingga lingkaran itu muat untuk dimasuki seekor kelinci. Dari sana, kelinci bulan melompat dan mendarat di pundak Veroa. Bulunya lembut, warnanya cantik, gemuk pula, itulah kelinci bulan yang sebelumnya penuh luka dan telah mendapat perawatan khusus dari sistem.
“Sepertinya, lebih baik kuberikan saja ya kepada Vina, selain sebagai temannya bermain, juga sebagai penjaganya. Dari keterangan yang kudapat, kelinci bulan juga hebat dalam bertarung. Akan bagus bila kelinci ini memiliki kemampuan yang mampu melindungi tuannya” gumamnya.
Dibukanya sebuah pintu, ruangan yang megah terlihat di dalam. Memang megah, tapi dekorasinya dibuat sederhana, tak ada foto, patung, atau semacamnya. Kamar yang dikhususkan untuk seorang penguasa, telah diubah olehnya menjadi sesuai seleranya. Seleranya memang simpel, tapi sebagai seorang bangsawan, dia berperilaku selayaknya seorang petualang, tak terlalu mementingkan pandangan orang. Di kamar yang megah dan sederhana ini, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk. Dia segera tertidur lelap.
Keesokan harinya, di ruang kerja, Veroa sedang duduk bermain dengan dokumen negara. Banyak pekerjaan yang tertunda, selain membaca dan memeriksa, dia juga harus menandatangani dan mempertimbangkan segala sesuatu pada dokumen terkait. Pekerjaan yang menguras mental dan pikiran, untungnya dia telah terlatih untuk itu.
Pada saat teriknya matahari, seseorang mengetuk pintu. Setelah diberikan izin untuk masuk, pintu pun dibuka. Dua orang penjaga ternyata sedang membawa seseorang yang berkaitan dengan kejadian kemarin. Dalam keadaan kedua tangan terikat, sebenarnya kakinya masih dapat menyerang, tapi tanpa energi sihir, tersangka tak dapat berbuat apa-apa. Tali yang digunakan untuk mengikat kedua tangannya dibuat khusus untuk menyerap energi sihir. Jadi, siapapun yang hanya bergantung padanya, takkan mampun berbuat apa-apa saat dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
“Beruntungnya, di Dunia Cosmic, mayoritas orang bergantung pada energi sihir” pikirnya, teringat dengan Raja Iblis Azazel dan membayangkan bila dia berada di posisi menjadi tersangka seperti itu.
“Kerja bagus kalian, sebagai imbalan, kalian mendapat liburan sehari dan kepada siapapun yang berhasil menangkap orang ini, mendapat liburan juga. Tolong beritahukan” ucapnya selagi kedua orang yang mengantar terangka masih ada. Tak perlu perlindungan, dia memang menyuruhnya seperti itu kepada seluruh prajuritnya. Kecuali hanya untuk mengawasi istana, itu memang tugas mereka.
Mengesampingkan kumpulan dokumen di atas meja, Veroa berdiri dan mendekati tersangka. Dia melepas cadar yang menghalangi wajahnya dengan sekali tarikan dan itu membuatnya sedikit terengah kesakitan.
“Ternyata hanya lelaki berwajah cantik toh” ujarnya dengan nada sedikit mengejek. Dia mengiranya tersangka itu adalah seorang pria, karena meski berwajah cantik, eskpresi wajah yang ditampilkan terlihat bengis. Sedangkan dia belum pernah melihat seorang perempuan berekspresi seperti itu, bahkan perempuan yang sebelumnya telah dibunuh olehnya sebagai penculik anak kecil di Desa Illiod, berekspresi selayaknya seorang wanita.
“Cuih!”
Air ludahnya tak mengenai apapun dan malah mengambang di udara. Veroa langsung mengendalikannya dengan energi sihir, agar tak mengotori dirinya maupun lantai, dia segera menguapkannya dengan memanaskan suhunya hinggi maksimal.
“Sungguh, sikap bawahan tergantung sikap pemimpinnya. Pemimpin macam apa yang memberikan contoh buruk hingga mengajarkan cara berekspresi jelek seperti itu? Mungkin, orang yang bernama Arthemis saja kali ya yang memiliki selera baik seperti itu. Haha...” ujarnya kembali memanas-manasi tersangka di depannya.
“Aku takkan membunuhmu, bawahanku juga hanya mendapat racun pelumpuh doang. Bahkan aku akan membiarkanmu pergi, kembali ke Kerajaan Rome. Asalkan! Kamu menyampaikan pesan dariku untuknya” ucap Veroa yang terdengar seperti angin semilir melewati telinga tersangka, membuatnya merasa lebih lega, karena masih memiliki nyawa.
__ADS_1
“Baik! Aku saya lakukan, Tuan” ucapnya sedikit tergagap, namun nadanya terkesan sopan setelah mendengar dirinya akan dilepaskan pergi.