Sistem Katalis

Sistem Katalis
Beruntung Mengambil Langkah Lebih Dulu


__ADS_3

            Langit cukup cerah, seolah mendukung mereka yang kini sedang berjalan di bawah sinar matahari sedang menuju ke tempat Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh untuk menyelesaikan masalah. Dedaunan tak terlalu lebat, membuat pandangan mereka dapat menjangkau cukup jauh dan melihat pemandangan yang begitu memukau. Ada beberapa kijang dan ruas di sekitar sedang memakan rumput, namun mereka tak ada yang berniat memburunya. Yang ada dalam pikiran semua orang adalah kepada orang – orang di Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh berubah menjadi koin emas berukuran besar.


            Guild Master Alfrederic melihat gelagat mereka hanya tersenyum, dia dapat memaklumi betapa antusiasnya mereka untuk memenggal kepala para pemuja Malaikat Jatuh ini. Dia sendiri merasa tergiur dan hendak mengambil


beberapa kepala juga untuk uang jajan.


            Di depan, Veroa berjalan di belakang dua orang dari guild petualang yang diyakini termasuk para pengintai yang menerima tugas terkait Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh. Keduanya menjadi pemandu perjalanan ini menuju tempat yang dimaksudkan. Dengan semua orang berjalan beriringan, tapi tak menimbulkan suara bising yang mengganggu. Hanya suara langkah kaki yang beruntung.


            Veroa sendiri masih terdiam, bukan berarti hanya diam semata. Dia sedang memikirkan apa langkah yang akan diambilnya bila ternyata Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh ini di luar genggaman tangannya. “Yang pasti,


aku akan mengeluarkan segenap kemampuanku nanti untuk melindungi semua orang” gumamnya pelan, tak ada yang mendengarnya dengan jelas meski orang yang berada paling dekat sekalipun.


            Beberapa waktu berlalu, matahari telah cukup tinggi, perjalanan mereka berjalan dengan lancar. Kemungkinan, binatang buas takkan ada yang cukup berani untuk menampakkan diri hingga mengahadang perjalanan mereka yang hampir mencapai ribuan orang ini. Hingga tak terasa, akhirnya mereka sampai di sebuah pemukiman yang cukup besar dengan tanpa adanya benteng walau terbuat dari bambu. Malahan, tempat masing-masing orang yang menghuni pemukiman ini hanya sebuah tenda yang terbuat dari kain. Meski begitu, jumlah tenda begitu banyak dan dapat diperkirakan mencapai ratusan, menyesuaikan dengan jumlah orang – orang di pemukiman ini yang sesuai dengan laporan dari para pengintai.


            Veroa mengerutkan dahinya sebelum dia bertanya kepada dua orang pengintai di depannya, "Inikah tempar Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh itu berada?”


            “Benar Tuan, mereka sepertinya tak menetap. Tapi, dapat dipastikan, mereka tak memiliki markas utama atau pun komnitas lain yang serupa denganya. Mereka hanya segini saja, Tuan” jawab salah seorang dari keduanya.

__ADS_1


            Veroa berpikir, akan terlalu mudah untuk menghancurkan komunitas ini bila dia menanganinya sendiri dengan hanya menggunakan sihir elemen api. Membakar salah satu tenda hingga api memakannya habis, membuattenda – tenda lainnya ikut terbakar dan akan terus menyebar hingga ke seluruh tenda. Namun, tujuannya bukan hanya mencegah masalah yang akan timbul di masa depan, tapi dia juga ingin memberikan pengalaman yang bagus untuk para


prajuritnya.


            Veroa mengangkat tangannya cukup tinggi, hingga sebagian besar orang dapat melihatnya dan berhenti berjalan. “Kalian tunggulah di sini terlebih dahulu, aku akan memastikannya seorang diri, apakah mereka sebuah


ancaman atau bukan” ucapnya cukup keras hingga menarik perhatian beberapa orang dari pemukiman tenda itu dan membuatnya terkejut saat menyadari ada begitubanyak orang yang datang. Tak ada yang membantah perintahnya, karena sebagian besar petualang telah mengetahui kekuatan Tuan Kota dan kontribusinya yang


begitu besar dalam mengubah kondisi Kota Tungsten menjadi jauh lebih baik, sehingga membuat semua orang yang mengetahuinya sangat menghormati dirinya.


            “Yosh! Kalian bersiaplah untuk perkumpulan sesat ini!” Seru Veroa dengan lantang setelah dirinya kembali dari pemukiman ini yang cukup membuatnya kerepotan. Semua orang yang melihat dirinya kembali dengan raut


            “SERANG!!!” Teriak Veroa memberi aba-aba untuk mulai menyerang.


            “YA!!!” Seru semua orang termasuk Guild Master Alfrederic yang ikut bersemangat untuk memberantas orang – orang fanatik yang pernah membuat sejarah kekacauan di masa lalu. Semua orang pun segera bergerak menujupemukiman tenda dengan beragam jenis gerakan, ada yang berlari cukup cepat, melesat seperti seekor macan, memasuki bayangan, dan lain-lain.


            Veroa sendiri menyerahkan keroco seperti itu kepada mereka, dia segera melesat ke tempat yang lebih dalam dari pemukiman ini seperti sebelumnya dirinya mendapat penolakan dari salah seorang yang nampak

__ADS_1


arogan sebelum dirinya dapat menyampaikan maksud kedatangannya.


            Beragam jenis sihir saling beradu, hingga membuat area sekitar menjadi kacau. Area pertarungan menyebar hingga memasuki wilayah pepohonan terdekat, karena bila masing-masing bertarung terlalu berdekatan denganpasangan bertarung yang lain, akan terjadi sesuatu yang tak terduga seperti serangan nyasar. Jadi, masing-masing dari pihak Veroa maupun Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh ini dapat menghadapi lawan tanpa harus membagi konsentrasinya. Ada juga beberapa orang dari para petualang yang sengaja membawa dua lawan yang diyakini telah berada di tingkatan yang masuk ke dalam kriterianya, yaitu kepala yang senilai 100 keping koin emas.


            Para prajurit melawan Magician Beginner, cukup seimbang dari jumlah, meski ada beberapa prajurit yang berdua melawan satu orang musuh. Kebanyakan prajurit ini petarung soul master, meski masih berada di tingkatan


Soul Contractor, tapi kekuatannya seimbang dengan Magician Beginner yang merupakan satu tingkat di atas Magician Apprentice, sedangkan Soul Contractor merupakan tingkatan pertama dari petarung soul master. Beragam jenis spirit diaktifkan, ada yang memberikan kekuatan tambahan pada tubuh, kecepatan, dan kelebihan lainnya.


            Guild Master Alfrederic sendiri kini sedang bergerak sedikit lebih jauh ke dalam pemukiman, mencari lawan yang seimbang dengannya bersama beberapa orang petualang yang terpilih. Dia mencari lawan yang dikatakan cukup tinggi dan hanya beberapa orang saja, kini baru saja kedua pihak berhadapan saat pandangannya menerawang ke berbagai tempat.


            “Kalian telah berbuat kekacauan di tempat ini, kalian akan membayarnya dengan nyawa kalian sendiri” ujar salah seorang dari mereka dengan tatapan matanya yang tajam dan tersenyum dingin. Ditanggapi dengan rekannya yang lain bergerak menyerang para petualang yang dibawa oleh Guild Master Alfrederic.


            Hanya Guild Master Alfrederic dan orang yang dirinya kira sebagai pemimpin komnitas ini saling berhadapan sebelum tiba-tiba, keduanya menghilang dari pandangan. Lalu, muncul kembali di tengah-tengah jarak keduanya sebelumnya dengan pedang dan cakar yang saling beradu. Baik Guild Master Alfrederic maupun lawannya merupakan Magician Master. Dalam tingkatan ini, mereka tak bergantung pada rapalan sihir maupun serangan jarak jauh. Guild Master Alfrederic misalnya, dia dapat mengubah gaya bertarungnya sesuai keinginannya, yaitu berpedang. Dengan kemampuannya menggunakan sihir, ilmu berpedangnya dapat berkali-kali lipat lebih kuat dari teknik berpedang yang sama.


            Setelah beberapa benturan pedang dan cakar, keduanya mengambil jarak sebelum menyiapkan serangan lanjutan. Pedang yang dipegang Guild Master Alfrederic kini diselimuti oleh api yang membara, sedangkan cakar


lawannya memancarkan kutukan pada keenam cakarnya. Keduanya kembali menghilang dari pandangan dan muncul di beberapa tempat tak terlalu jauh dengan setiap kemunculan keduanya akan saling membenturkan pedang maupun cakar.

__ADS_1


            Di depan tenda yang lebih besar dan terawat daripada yang lain, Veroa kini berdiri. Saat tangannya hendak membuka tirai yang menutupi bagian dalamnya, tirai itu terbuka lebih dulu dan seseorang keluar dari sana.


__ADS_2