
Sinar matahari begitu menyilaukan mata saat baru saja tersadar dari mimpi. Suara serangga yang baru memulai aktivitasnya mengalun di balik dedaunan, tetesan embun pagi membangunkan seekor kelinci yang sedari malam bersembunyi di balik semak tak jauh dari tempat Alina berbaring tidur. Udara begitu menyegarkan, membuat rasa letih kemarin berkurang cukup banyak. Sebelum melanjutkan perjalan, beberapa orang yang kehabisan bekal berburu untuk sarapan pagi.
Akhirnya, saat hampir tengah hari, mereka sampai di Kota Tungsten, membawa senyuman lebar yang membuat siapapun yang melihatnya akan menebak bahwa mereka membawa kabar baik. Setelah mendapat arahan dari Guild Master Alfrederic bahwa pembagian imbalannya akan diserahkan sore nanti, mereka sebagian besar orang mulai memisahkan diri dari rombongan. Hampir semua petualang berpartisipasi dalam tugas ini, sehingga tak sulit untuk proses pembagian imbalannya. Ada juga yang mendapat imbalan lebih, mereka yang memiliki tingkatan tinggi dan merupakan petualang pilihan yang bertarung bersama Guild Master Alfrederic untuk bertarung melawan pemuka di Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh.
Untuk para prajurit muda, mereka mendapat imbalan secara langsung dari Veroa, berupa perlengkapan dan beberapa fasilitas lain, termasuk 10 keping koin emas masing-masing.
Kini di meja makan, Veroa, Karina, Vina, dan Alina sedang duduk menunggu hidangan disajikan untuk melakukan sarapan bersama. Kemarin, Karina baru sedikit berbincang dengan Alina, karena kondisi yang tak mendukung. Sehingga, sebelum hidangan datang, keduanya mengobrol cukup akrab dan sekali-sekali Vina juga ikut dalam obrolan itu. Veroa hanya memandang ketiganya sambil memasang senyuman hangat, dia merasa tak sabar untuksegera memberikan kejutan kepada Aluna tentang sayap malaikat agung, namun dia akan mencari waktu yang tepat.
“Jadi, Vina ini anak kalian berdua? Apakah aku ada ruang untuk mengisi keluarga ini?” Tanya Alina dengan ekspresi wajah polosnya, tiba-tiba alur pembicaraan ini masuk ke dalam topik status hubungan kekeluargaan. Setelah melihat Vina, Aluna tentu merasa penasaran, selain tak melihat pria terpandang lainnya selain Veroa di istana ini, membuatnya berspekulasi bahwa keduanya memiliki hubungan khusus dan terciptalah Vina.
__ADS_1
Keduanya saling pandang dengan canggung. Veroa merasa tak baik bila dirinya yang menjawabnya, jadi dia memilih untuk diam. Karina sendiri merasa sulit untuk menjelaskan, karena selain merasa malu, dia juga merasa bingung memulainya dari mana. Saat mulutnya terbuka, hendak menjawab pertanyaan Alina, hidangan pun datang yang membuat pembicaraan ini terpaksa diberhentikan.
Cukup lama menunggu Aluna menghabiskan sarapannya, dia makan sungguh pelan dan penuh etika. Tak ada yang bersuara selama itu, mereka hanya fokus pada diri sendiri, sesekali melirik ke sepasang mata yang sama-sama meliriknya. Lalu, tersenyum.
“Bagaimana?” Akhirnya, Aluna telah selesai menghabiskan sarapannya dan mulai menagih jawaban dari pertanyaan yang tertunda. Rasa penasarannya dan antusiasnya terlihat tak ada penurunan, bahkan terkesan meningkat sedikit.
“Baiklah, dengar baik-baik ya, Nona Aluna. Beberapa tahun lalu, Karina bukanlah penduduk Kerajaan Sylvani, dia dulu menjadi bangsawan di Kerajaan Rome. Ada alasan dia memutuskan untuk berpindah tempat, dan mengetahui Kerajaan Sylvani memiliki jarak tempuh yang paling singkat daripada menuju kerajaan lainnya, akhirnya dia sampai di sini. Raja yang melihat potensinya...” Veroa menyampaikan cukup rinci dan mudah dimengerti, dia menceritakan masa kelam Karina sejauh dirinya ketahui saja tanpa adanya manipulasi cerita maupun yang ditutupinya setelah beberapa kali mendapat persetujuan dari Karina.
Selama mendengar cerita dari Veroa, berbagai ekspresi yang menunjukkan perasaan marah, benci, rasa kasihan, rasa untuk melindungi, dan perasaan lainnya bercampur aduk dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Dia sungguh tak menyangka, dia malah menanyakan hal yang dirinya rasa sangat sensitif ini dan dia merasa bersalah saat akhir cerita telah sampai. Namun, dia tersenyum dengan penuh kehangatan dan kasih sayang pada Karina dengan campuran rasa sedih dan menyesal karena tak bisa membantunya selama dirinya menjadi malaikat jatuh.
__ADS_1
“Maafkan diriku yang bertanya hal yang tak seharusnya ditanyai. Andai, sayapku masih ada, diriku dapat mengembalikan mahkotamu yang telah direnggut...” Aluna menatap dengan lekat-lekat pada Karina, lalu dia melihat ke langit-langit istana, berharap ada keajaiban datang dan mengembalikan sayapnya.
Diam-diam, Veroa membuka Bag sistem yang tak dapat disadari oleh orang lain, lalu menyuruh pada Aethelfaed untuk memberikan hadiah yang berupa sayap malaikat agung untuk Aluna. Dia hanya tersenyum sambil menatap Aluna yang sedang mendongak ke atas, lalu...
Sinar yang begitu menyilaukan dan memancarkan kehangatan yang menenangkan ke seluruh ruangan tiba-tiba muncul di punggung Aluna. Perlahan, cahaya itu meredup dan menampilkan enam pasang sayap yang sangat indah menempel di punggungnya. Sontak saja, hal itu membuat semua orang yang ada di ruang makan yang hanya mereka berempat sangat terkejut, termasuk Veroa sendiri karena tak menyangka akan melihat hal yang menakjubkan tanpa dirinya ketahui akan seperti itu. Tentunya, Aluna yang paling merasa terkejut, karena dirinya yang saat itu tengah berharap tentang sayapnya yang kembali, tiba-tiba saja harapannya terkabul. Selain itu, sayap yang kali ini menempel di punggungnya merupakan pertanda baginya yang menjadi seorang malaikat agung tertinggi. Sensasi yang lebih menakjubkan melebihi saat dirinya menjadi malaikat agung, kini dirasakan olehnya tanpa tahu bahwa dirinya kini melayang di udara dengan aura suci yang senantiasa menyelimutinya.
Baik Veroa, Karina, maupun Vina merasa sangat takjub dengan keindahan dan keagungan ini, melihat malaikat agung tertinggi di depan ketiganya setelah baru saja selesai sarapan membuat ketiganya lupa untuk bernapas. Veroa masih merasa takjub dengan aura suci yang dipancarkan, soalnya Dewa yang menghukumnya sekalipun tak sesuci ini, meski intensitas auranya tak setinggi Dewa, ini lebik baik menurut Veroa. Dia berpikir, bila merujuk pada kualitas, aura yang dipancarkan oleh Aluna saat ini kualitas auranya lebih tinggi dibandingkan dengan aura Dewa, namun kuantitasnya lebih sedikit darinya.
Sebetulnya, kejadian ini harusnya mengundang perhatian orang – orang di istana. Berhubung tak ada perasaan buruk ataupun ptertanda adanya bahaya dari ruang makan, para pelayan maupun penjaga istana tak ada yang berani mengintip walau sedikit saja. Mereka hanya merasakan rasa hangat yang menenangkan hati dan membuat siapapun yang berada di sekitar istana akan merasa bersamangat untuk melakukan aktivitas. Rasa malas karena baru saja bangun tidur, kulit yang kedinginan karena udara pagi, ataupun yang lain hilang begitu saja. Dengan begitu, orang – orang di istana bekerja begitu bersemangat selama seharian penuh dan membuat Veroa, Karina, Aluna, maupun Vina yang melihatnya merasa aneh dengan tingkah para pelayan maupun pekerja setelah mereka keluar dari ruang makan.
__ADS_1