
Beberapa hari telah berlalu semenjak datangnya Duke Tungsten yang menjadi pemimpin baru Kota Tungsten, banyak perubahan yang telah terjadi. Perubahan itu dapat dilihat dengan mata telanjang, bukan hanya pada lahan kosong yang telah mulai dimanfaatkan, bukan pula perekonomian yang mulai meningkat, tetapi wajah berseri para penduduk yang menandakan bahwa Kota Tungsten di bawah kepemimpinan Duke Tungsten adalah keputusan yang tepat yang telah diambil oleh Raja Danmark. Veroa memimpin Kota Tungsten dengan sangat baik.
Di samping itu, kabar tentang pembunuhan Duke Arthemis yang gagal telah menyebar ke seluruh penjuru Kerajaan Rome. Duke Arthemis, sebagai salah satu orang berpengaruh di kerajaan itu, tentunya mendapat kabar tentang pembunuhan terhadap dirinya, semua orang menjadi heboh. Meskipun, banyak orang yang telah menjadi korban pemerkosaannya, itu semua tak memengaruhi reputasi baiknya di hadapan publik. Jadi, tak ada kasus buruk yang dapat dijadikan bukti kebejatannya.
Red Baroness, Karina, setelah mendapat kesempatan untuk dapat membalaskan dendamnya, dia malah menyia-nyiakan hal itu, lebih tepatnya dia gagal untuk dapat membunuh dengan tangannya sendiri, karena terlalu ceroboh dengan tidak memeriksa secara menyeluruh area target. Tapi, Veroa tak terlalu mempermasalahkannya, selama identitas Baroness Karina tak diketahui oleh siapapun, sebagai pembunuh itu.
“Maafkan atas kecerobohan saya, Tuan” ucapnya kala itu.
“Ya, gapapa. Aku mengerti kok kondisimu. Tapi ada baiknya, kamu dapat mengesampingkan perasaan saat melaksanakan tugas, apabila perasaan itu dapat menghambat pada penyelesaian tugas yang diberikan, apalagi sampai membuatnya gagal. Namun, bila
perasaan itu menyangkut hal-hal baik, seperti perasaan iba pada orang yang butuh pertolongan yang darurat yang menyangkut nyawa misalnya, maka prioritaskanlah itu dan bilapun kamu tak mampu menyelesaikannya, mintalah bantuan orang lain. Ok?”
Di lapangan latihan di bawah teriknya sinar matahari, seorang anak berusia 4 tahun sedang mengayunkan pedang kayu. Sepertinya dia telah berlatih cukup lama, keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Gerakan ayunan pedang yang ditampilkan menarik perhatian para prajurit yang ada di sekitar. Itu karena anak itu berusaha untuk melampaui batasan tubuhnya untuk dapat tetap melakukan ayunan pedang. Banyak yang bersimpati, sebagian orang ada juga yang merasa kagum dengan tindakan anak itu.
Saat ada Duke Tungsten, barulah orang – orang segera bubar dan melanjutkan aktivitas masing-masing.
“Jangan terlalu memaksakan tubuhmu, Dek Vina. Tak baik lho”
Anak itu, Vina, berhenti mengayunkan pedang kayunya dan beralih pandangan pada orang yang berbicara barusan. Vina, gadis cilik yang merupakan anak dari Karina tanpa mengetahui siapa ayahnya, dia dengan semangat melatih diri, agar dapat berpetualang untuk mencari ayahnya yang kata ibunya hilang saat melakukan ekspedisi. Karina membohongi anaknya bahwa ayahnya adalah orang yang hebat dan sangat berjasa pada kerajaan ini. “Eh, Kak Ver. Aku masi kuat kok Kak”
Kening gadis cilik itu dijitak dengan sangat pelan, Veroa tersenyum padanya dan memberikan sedikit arahan pada setiap ayunan pedang. Hampir setiap hari, Veroa membimbing Vina dalam berlatih pedang, tapi ayunannya masih terlalu lambat dan dia masih mudah lelah.
Itu karena dia masihlah sangat muda, dapat dimaklumi dan mestinya dia patut untuk dipuji.
Beberapa saat kemudian, Veroa mengajak Vina untuk beristirahat.
__ADS_1
“Di masa depan, Vina ingin menjadi apa?” tanya Veroa setelah Vina mengambil nafas dan minum segelas air yang telah disediakan pelayan.
“Aku ingin menjadi kesatria yang dapat melindungi Ibu dan Kak Ver, kemudian menikahi Kak Ver” jawabnya dengan
semangat dan mata yang berapi-api.
“Bagus, melindungi keluarga adalah hal yang paling utama. Kakak mengandalkan dirimu ya, Vina” ucapnya memberi pujian dan mengabaikan keinginannya untuk menikahi dirinya, karena ia mendengar hal itu dari anak kecil.
“Um...”
Veroa menatap gadis cilik itu dengan pandangan penuh perhatian, merasakan bagaimana sakitnya hati bila mengetahui kebenaran tentang ayahnya dan bagaimana nantinya dia akan bereaksi. Bagaimanapun, perasaan itu mirip seperti apa yang telah dia rasakan dari serpihan ingatan masa depannya, tentang ayahnya yang dibunuh oleh kakaknya. Tapi, masa depan telah banyak diubahnya, dia harus menghadapi hal yang tak pasti di masa depan.
“Oh iya. Ngomong-ngomong, kakak mau berkunjung ke Desa Illiod. Kabar yang baru
diterima kemarin, katanya beberapa anak telah hilang tanpa jejak. Kakak ingin mengobservasi
“Whaa... Mau-mau!”
...
Matahari seperti mengikuti perjalanan mereka. Di bawah bayang-bayang dedaunan, kereta kuda melaju dengan santai. Jalanan cukup datar, sehingga tak terlalu berguncang. Vina
sedang tertawa senang melihat pemandangan alam yang meneduhkan dari jendela. Sesekali,
dia menunjukkan sesuatu yang menarik perhatiannya pada Veroa, seperti buah yang bentuknya mirip kepala monyet yang sedang tertawa, uniknya, kulit buah itu sesekali berubah warna tergantung suhu yang diterimanya.
__ADS_1
Dalam kurun waktu kurang dari sejam, mereka telah keluar dari jalanan di area hutan
dan memasuki lahan pertanian. Desa Illiod berfokus pada pengelolaan tanaman gandum, begitulah apa yang diperintahkan oleh Veroa sebagai Duke Tungsten dan pada setiap desa yang berada di bawah kepemimpinannya, dia perintahkan hal yang serupa, namun berbeda.
Dalam sistem pemerintahannya, dia menggunakan sistem serah-terima. Di mana, setiap desa tidak dibiarkan untuk beroperasi sendiri. Dalam hal ini, Kota Tungsten menjadi pusat distribusi kebutuhan pada masing-masing desa. Dengan kata lain, sebanyak 30% hasil panen atau produksi, atau setidaknya mereka mengambil separuh hasilnya untuk kebutuhan pribadi dan sisanya dikumpulkan di gudang kota. Setelah itu, hasil yang telah terkumpul akan dibagikan kembali pada masing-masing, sesuai kebutuhan. Misalnya, Desa Illiod yang telah memanen gandum, mereka membutuhkan daging, sayur-sayuran, buah-buahan atau yang lainnya selain gandum, maka mereka berhak mendapatkannya di gudang kota, sesuai kontribusi yang diberikan.
Di masing-masing desa, terdapat petugas jaga yang secara teratur silih berganti. Secara merata, terdapat 15 petugas yang ditugaskan di masing-masing desa dan 2 orang pengintai yang secara rutin memeriksa kondisi sekitar. Namun, kemarin terdapat insiden hilangnya enam orang anak secara misterius tanpa diketahui apa penyebabnya, bahkan dua pengintai yang ditugaskan di sana pun mengangkat tangan.
Di sinilah tugas seorang pemimpin yang bertanggungjawab mengambil langkah saat anak buahnya telah merasa tak kuasa untuk memecahkan masalahnya.
“Anak yang hilang kah?” setelah bergumam pelan, layar sistem tiba-tiba muncul dan menampilkan tugas yang dimaksudkan.
Nama Tugas: Selidiki kasus di Desa Illiod!
Kesulitan: Normal.
Batas Waktu: 3 hari.
Hukuman: Reputasi -5% & Populasi penduduk berkurang.
Hadiah: Reputasi +10%; Populasi tetap atau bertambah; dan Skill tingkat C (Pilihan)
“Tugas muncul setelah dipikirkan kah? Sepertinya, ini hipotesis untuk saat ini. Tapi, untuk hukuman dan hadiah, kukira sepadan. Untuk batas waktu, sepertinya bergantung dengan kondisi lapangan dan itu merujuk pada keselamatan anak – anak yang telah hilang atau lebih tepatnya, diculik?”
Tepat setelah kemunculan tugas ini, dunia terasa sempat berhenti berputar, tapi karena terlalu singkat untuk dapat dirasakan, apalagi itu berhubungan dengan waktu, tak ada yang dapat merasakan bahwa dunia baru saja berhenti sejenak.
__ADS_1
Tapi, hati Veroa terasa berat dan merasakan firasat yang sangat buruk yang mengkhawatirkan.