
Masalah keamanan di hutan telah kembali cukup aman dengan disembuhkannya monster chimera yang sebelumnya dirasuki energi kegelapan yang membuat siapa saja akan menjadi gila, termasuk manusia. Jalan menuju ke Kota Tungsten kembali seperti semula, cukup dikatakan aman.
Selama beberapa hari, Veroa menugaskan kepada para petualang untuk bergantian menjaga dan merawat monster chimera yang sedang dalam masa pemulihan. Dirinya juga setiap hari, sebanyak tiga kali secara rutin memeriksa keadaan di hutan tempat monster chimera dirawat.
Monster chimera itu memang telah sadarkan diri. Awalnya monster ini merasa dirinya merasa terancam dengan keberadaan para manusia yang selalu mengamatinya. Tapi, beberapa hari berlalu, instingnya mengatakan orang – orang ini tidak memiliki niat yang jahat. Terlebih, dirinya menyadari, sepertinya selain menjaga dirinya untuk memulihkan kondisi tubuhnya dari pengaruh energi kegelapan, mereka juga merawatnya cukup baik.
Kembali ke dua hari setelah monster chimera dibebaskan dari pengaruh energi kegelapan, Veroa mengirim surat dengan tujuan Kota Barrium, Kerajaan Rome yang menjadi tempat Raja Arthur berada. Surat yang dikirimkannya menggunakan burung merpati tak ditempeli segel Kerajaan Sylvani, melainkan berupa surat pribadi yang akan membuat pihak yang akan membacanya tertawa terbahak-bahak menanggapinya.
Di sisi lain, beberapa hari setelah Veroa mengirimkan surat cintanya, akhirnya burung merpati telah sampai di tujuan dengan aman berkat pengawalan secara diam-diam pasukan sihir yang dipanggil Veroa. Dan seperti dugaan Veroa sebelumnya, Raja Arthur sampai mengeluarkan sedikit air matanya saking tak tahan dengan isi surat yang dibacanya.
Veroa nyatanya mengirim surat perang yang bersifat pribadi yang menantang satu kerajaan. Siapapun yang membacanya pasti merasa orang yang mengirim surat adalah orang gila, konyol dengan tindakan yang telah dilakukannya. Tapi, bila orang yang memiliki kepribadian yang waspada dan hati-hati, dia akan tetap menganggapnya serius dan mempersiapkan segalanya untuk menghadapi ancaman itu.
Veroa telah menentukan waktu perang akan berlangsung kapan dan di mana. Tapi, karena dirinya merasa yakin bahwa orang yang membacanya takkan menanggapinya dengan serius, pada waktu itu, dia hanya akan mengirim pengintai terlebih dahulu ke tempat yang telah ditentukan olehnya selagi dia pergi bersama para pasukannya untuk menyerang secara langsung Kota Barrium, sebagai peringatan awal.
__ADS_1
Kabar ini hanya sedikit orang yang tahu, bahkan para bangsawan di Kerajaan Sylvani sendiri tak ada yang tahu termasuk keluarganya, kecuali Karina yang memang bertempat tinggal di istana bersama Veroa. Sebenarnya tak ada yang perlu ditutupi menurut Veroa, tapi dia tak ingin terlalu menarik perhatian lebih besar, meskipun kenyataannya, cepat atau lambat semua orang akan mengetahuinya juga.
Selagi memandang langit senja yang begitu indah dari balik jendela di ruang kerjanya, pintu masuk ruangannya ada yang mengetuknya yang disusul dengan suara seorang perempuan yang dikenalnya meminta izin untuk masuk.
“Masuklah!” Veroa masih memandang langit senja sebelum Karina membuka pintu, memasuki ruangan dengan raut wajah yang sepertinya sesuatu yang kurang bagus baru saja terjadi.
“Tuan-” ucapannya segera terhenti, karena Veroa juga berucap pada saat yang bersamaan.
“Katakanlah!” Veroa berniat menanyakan kedatangannya sekedar berbasa-basi, tapi dia tak mengira keadaannya cukup parah bila dilihat dari raut wajahnya dan tindakannya yang terkesan terburu-buru.
“Para petualang mendapat serangan dari sekelompok orang misterius yang memakai pakaian yang seragam. Beberapa orang terluka cukup serius, tapi tak ada yang sampai membahayakan nyawa. Yang lebih penting lagi, monster chimera menjadi incara mereka, dan mereka membawanya pergi dengan bantuan sihir pemindah ruang.” jelas Karina.
Veroa tak segera beraksi setelah mendengar penjelasan dari Karina yang sebenarnya cukup mengejutkannya juga. Dia berpikir dan mencerna kabar ini, hingga beberapa kemungkinan dan sebuah kesimpulan telah didapat olehnya dalam waktu yang cukup singkat hingga tak terlalu membuat Karina menunggu lama untuk mendengar ucapannya sebagai tanggapan kabar buruk ini.
__ADS_1
“Tolong suruh para pengguna sihir untuk menemuiku di ruangan ini. Untuk sebagian masalah, kuserahkan kepada Guild Master Alfrederic...” ucap Veroa yang terhenti akan sesuatu yang terasa ada yang harus diucapkannya. Sebelum Karina memutuskan untuk pergi, karena dia pikir, dirinya harus berinisiatif untuk pergi selagi Veroa memikirkan banyak hal agar tak mengganggunya, Veroa lalu bertanya “Apakah orang – orang itu tak ada satu pun yang mengucapkan sesuatu? Siapa tahu bisa menjadi petunjuk dalam menangani masalah ini”
Ternyata Karina melewatkan sesuatu yang termasuk penting, sedangkan dia melupakannya. Lalu, dia pun menyampaikannya dengan perasaan malu namun berusaha diabaikan olehnya dan memprioritaskan informasi penting itu, “Mohon maafkan saya Tuan, saya melupakan hal itu. Benar, orang – orang itu mengatakan bahwa mereka telah lebih awal mengincar monster chimera ini. Mereka mengira, para petualang sengaja mencuri buruannya. Makanya, mereka menyerang para petualang setelah berucap seperti itu tanpa berniat mendengarkan penjelasan dari para petualang”
“Hm... mereka sebelumnya menargetkan monster chimera ini? Apakah mereka pelaku yang menanamkan energi kegelapan pada monster chimera?” Tanya Veroa mencoba memahami situasi lebih jauh.
Namun, Karina menggelengkan kepalanya pelan seraya berkata “Maafkan saya Tuan, saya tidak mengetahuinya. Apakah saya perlu memberikan perintah kepada para petualang yang berspesialis di bidang pengintaian untuk mencari informasi tersebut?”
Veroa kembali berpikir sejenak sebelum menjawabnya. Dia mempertimbangkan dampak yang akan menimpa para pengintai dan keamanan kota ini bila mereka tak suka diintai, sedangkan bisa saja saat para pengintai ini melakukan tugasnya, mereka ketahuan. Dia sendiri belum mengetahui karakteristik sekelompok orang ini, yang pasti menurut kabar yang diterimanya, mereka sangat kuat. “Sungguh potensi resiko yang akan terjadi sungguh besar” gumam Veroa dengan suara pelan.
Menyadari dirinya terlalu lama membuat Karina berdiri, dia meminta maaf dan membiarkannya pergi selagi dirinya larut dalam pikirannya hingga malam. Keningnya berkerut, memikirkan langkah yang harus diambil olehnya dalam masalah ini. Belum lagi, dia telah terlanjur mengirimkan surat cintanya untuk nasib Kerajaan Rome.
Dalam benaknya yang cukup dalam, ada sesuatu yang sepertinya hendak disampaikan pada dirinya sendiri, sesuatu yang dilewatkan olehnya. Dia mencoba untuk menyelami benaknya, namun terasa sulit selagi pikirannya memikirkan hal-hal lain. Dia duduk di kursi yang berada di samping jendela hingga tengah malam dengan keningnya yang terus berkerut tak luntur-luntur. Barulah saat itu, kerutan di keningnya perlahan menghilang, sesuatu yang dia lewatkan ternyata adalah hal dasar dan sepele yang sudah pasti orang – orang telah menyadarinya juga.
__ADS_1
“Monster chimera itu bukanlah milik siapa-siapa, tapi mengapa aku harus mempermasalahkannya saat chimera itu diambil oleh sekelompok misterius? Memang mereka melukai para petualang, tapi tak ada korban jiwa, menurut kabar yang kudapat.” Dia baru menyadarinya, inilah bisikan dari hati yang cukup dalam yang baru tersampaikan padanya. “Ternyata, aku terbawa suasana oleh Karina yang membawa kabar ini dengan ekspresi yang membuatku harus berpikir keras. Ah sungguh, sia-sia waktu dan tenagaku memikirkan hal yang tak perlu” gumamnya seraya mengalihkan pandangan pada bulan yang bersinar terang begitu cerah menghiasi malam tak berbintang, tak ada awan.
“Tapi, entah mengapa aku ingin membawa chimera itu kembali, seolah monster itu sedang meminta bantuan dan merasa tersiksa di sana...”