Sistem Katalis

Sistem Katalis
Rencana Kejutan


__ADS_3

Langit begitu bersih berwarna biru. Apalagi, burung – burung yang beterbangan di bawah sinar matahari menghiasi langit yang cerah itu. Di bawahnya, sebuah kota besar yang sangat ramai dipenuhi orang – orang yang berlalu lalang yang bercampur antara pribumi


dengan pengunjung.


Di antara mereka, dua orang remaja terlihat sedang menemani seorang gadis cilik yang sedang melihat sana-sini dengan antusias. Mereka adalah Veroa dan Rin yang sedang menemani Luna pergi berjalan-jalan di jalanan Kota Sylvania.


“Kak, lihat permen itu... kentang goreng itu... buah aneh itu... Kak...” begitulah, betapa semangatnya Luna menyebutkan setiap jenis makanan yang disediakan para penjual di pinggir jalan.


Orang – orang pribumi yang melihat tingkahnya hanya dapat tersenyum dan membungkukkan badan, guna memberikan rasa hormat kepada Pangeran Veroa.


Bagaimanapun, mereka telah mengetahui kejeniusannya, apalagi dia adalah pangeran ketiga


yang kata anak – anak remaja, dia sangat ramah.


“Kamu sangat populer ya” ucap Rin dikala orang – orang telah kembali ke kesibukkannya masing-masing.


“Yah, mau bagaimana lagi. Toh, aku seorang pangeran yang baru saja meraih prestasi. Setelah waktu berlalu, orang – orang akan melupakannya” jawab Veroa tak merasa bangga dengan prestasi yang telah dicapainya.


“Aku tidak akan melupakannya kok. Apalagi, saat kamu memberikan sandaran dikala aku sedang bersedih. Aku sangat tersentuh lho” ucapnya lagi, jujur pada perasaannya.


Akhirnya, keduanya mengalihkan perhatian pada suara Luna yang memanggil kakaknya sambil melambaikan tangan di depan meja milik seorang nenek penjual manisan yang terlihat berbeda. mereka pun segera menghampirinya.


“Sebentar Dek! Maaf Nek sebelumnya. Saya ingin memastikan terlebih dahulu, ini manisan apa ya?” tanya Veroa pada nenek itu, mencari tahu terlebih dahulu, manisan apa sebenarnya yang sedang dia pegang ini.


Nenek itu tersenyum sebelum menanggapi pertanyaan pemuda yang sopan dan terkesan ramah ini. Dia adalah pendatang dari luar yang mencoba keberuntungannya di Kota Sylvania. Orang jenis ini biasanya tidak memiliki tempat tinggal yang tentu dan selalu berpindah tempat, dari desa ke desa, dari kota ke kota, dan bahkan bisa saja dari kerajaan ke kerajaan.


“Ini manisan turun temurun dari leluruh saya, Tuan Muda. Manisan ini disebut konpeito”

__ADS_1


“Kalau boleh tahu, Nenek ini berasal dari mana?” tanyanya lagi setelah berusaha mengingat, apakah dia mengetahui tentang manisan konpeito atau tidak. Tapi, ternyata dia pernah sekilas dalam ingatannya muncul tulisan yang bertuliskan “Manisan Konpeito” dari buku yang ada di perpustakaan istana. Hanya saja, dia kesulitan untuk mengingatnya dengan jelas, karena ingatan itu muncul dari serpihan ingatan masa depannya.


“Saya dari berbagai tempat, Tuan Muda” jawabnya, tak terlihat adanya ekspresi kebohongan, meskipun itu sedikit.


“Hm... Bukan perta-“ ucapannya terpotong oleh teriakan Luna yang merajuk, menyaksikan kakaknya malah sibuk menanyakan hal-hal yang aneh menurutnya.


“KAKAAK! Ish, aku tuh pengen jajan permen itu. Tapi, kakak malah banyak bertanya pada nenek penjualnya. Luna jadi kesel kan sama kakak”


Veroa menanggapi dengan senyuman, lalu dia mengusap rambut pirang adiknya dan berkata, “Dek Una, kakak hanya memastikan apakah manisan itu aman atau berbahaya. Kakak takut Una kenapa-napa setelah memakannya. Dek Una mau, melihat kakak sedih saat menyaksikan Una sakit setelah memakan manisan itu?”


Setelah mendengar penjelasan dari kakaknya, dia sedikitnya mengerti bahwa kakaknya hanya ingin melindunginya. Jadi, dia pun menunggu kabar baik darik kakaknya saja dengan perasaan senang, karena kakaknya begitu perhatian dengannya.


Sambil melirik Rin yang segera dibalas lirikannya, dia menjulurkan lidahnya untuk mengejeknya. “Aku lebih diperhatikan sama kakak daripada dirimu, lho”, kira-kira seperti itulah pikirnya.


Tapi, saingannya malah tersenyum menanggapi ejekannya. Malahan, Rin mengelus rambutnya di area bekas elusan kakaknya. Yang pasti, dia tak mengerti dengan situasi saat ini.


“Kalau begitu, saya ingin membeli semuanya ya. Nanti, akan datang utusan yang datang kemari untuk mengambil seluruh manisan yang sedang anda jual”, itu adalah hasil akhir setelah bertanya beberapa hal terkait manisan konpeito.


“Hore! Manisannya diborong sama kakak”, Luna bersorak mendengarnya dan segera menyerbu manisan yang biasanya dia sebut permen. Dia pun segera mengambil manisan dengan jumlah yang disanggupi oleh kedua tangannya.


Kata permen sebenarnya masih misterius, karena hanya Lunalah yang mengetahui kebenarannya. Namun, karena yang dimaksudkannya adalah manisan, orang – orang berpikirnya semakna. Nyatanya, permen dan manisan merupakan jenis makanan yang berbeda.


Kemudian, jalan-jalan di jalanan kota dilanjutkan sampai hari mendekati sore.


...


Ini adalah waktu setelah sarapan pagi. Di ruang tamu, ada tiga orang manusia yang telah dewasa baru saja memulai perbincangannya. Mereka adalah Raja Danmark, Ratu Roya, dan M. S., Cruiser.

__ADS_1


“Saya yakin, kedatangan anda ke sini sudah pasti ada sesuatu untuk dibicarakan atau yang lainnya, tentunya berhubungan dengan gadis yang bernama Rin itu” ucap Raja Danmark memulai pembicaraan.


“Ah, tidak perlu terlalu formal, Raja. Baiklah, memang benar tebakanmu. Aku membutuhkan kesaksian atas pengangkatan Rin sebagai anak angkatku. Apakah Raja tak keberatan?”


Mendengar ini, keduanya terkejut, karena orang setingkat magician saints hendak mengangkat seorang anak yatim piatu.


Lalu, Raja pun berucap dengan senangnya “Oh, itu kabar bagus. Melihat Anakku, Veroa yang begitu dekat dengan gadis itu, dia pastinya menyimpan perasaan padanya. Yah meskipun terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan, tapi, itu berarti, setelah keduanya menikah, kita pastinya dapat semakin akrab. Baiklah, kapan pengangkatannya akan digelar?”


Mendapat tanggapan baik darinya, Cruiser merasa senang. Dia pun memegang dagunya sambil memikirkan waktu yang tepat untuk menggelarkan acara pengangkatan anaknya.


“Kalau bisa, secepatnya. Bahkan, kupikir, hari ini dan saat ini pun juga, aku siap” katanya dengan semangat di usia senja.


“Baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya dengan cepat dan buatlah kejutan nanti sore saat mereka kembali dari jalan-jalannya” yang berbicara bukan Raja, melainkan istrinya, Ratu Roya. Dalam hal mempersiapkan segala sesuatu, Ratu Roya selalu cekatan.


Nah, terkait pengangkatan anak ini, Rin tidak mengetahuinya. Rencananya, Cruiser akan meminta persetujuannya di saat sebelum acara dimulai, supaya persentase disetujui oleh Rin akan meningkat.


Terlihat tidak adil, tapi itulah takdir.


...


Terik matahari lumayan menyengat, ditambah lagi kerumunan orang di jalanan semakin menambah suhu yang terasa. Terlihat begitu jelas setiap tetasan air keringat yang jatuh ke lantai jalan berbatu yang langsung menguap begitu saja.


Di pinggir jalan, terdapat sebuah kursi yang memanjang sebanyak dua buah, berjejer tak berjauhan. Di sana, Veroa, Rin, dan Luna sedang duduk beristirahat sambil meminum air kelapa muda.


Mereka telah belanja lumayan banyak, namun semuanya ditunda terlebih dahulu untuk nantinya dibawa oleh para pelayan. Jadi, mereka tak perlu repot-repot untuk membawa banyak barang belanjaan. Semua itu telah ditulis oleh Veora pada kertas catatan kecil yang dibawanya. Dia mencatat nama pedagang atau nama perusahaan, nama barang yang dibeli beserta harganya.


“Oi!!!...”

__ADS_1


__ADS_2