Sistem Katalis

Sistem Katalis
Kehangatan di Pagi Hari


__ADS_3

Dua hari kemudian, pesta yang diadakan untuk merayakan pencapaian luar biasa yang telah diraih oleh Pangeran Veroa telah usai. Kini, orang – orang sibuk membereskan kekacauan itu. Tak semuanya, tapi cukup banyak untuk dapat membereskan kekacauan di sepanjang jalan dalam waktu singkat.


Di halaman istana, terdapat dua buah kursi yang menghadap kolam yang berisikan bunga teratai biru dan ikan – ikan hias, sedang diduduki oleh dua orang remaja dengan jenis kelamin yang berbeda. Mereka adalah Veroa dan Rin yang sejak kemarin banyak menghabiskan waktu berdua.


Rin yang jatuh hati padanya tentu merasa senang mendapat kesempatan untuk melakukan pendekatan seperti ini.


Untuk Veroa, dia yang memiliki seprihan ingatan dari masa depan, tentunya ingatan itu berhubungan dengan kejadian – kejadian pada saat posisi Rin yang pernah mengisi kekosongan hatinya. Namun, keputusan yang diambil dalam ingatan itu memberikan perasaan menyesal yang berefek padanya. Sehingga, perasaan rindu pun muncul yang membuatnya merasa ingin terus menghabiskan waktu bersama seseorang yang pernah mengisi hatinya.


Pada pagi hari ini yang dingin ini, suasana di taman kecil terasa hangat.


Dalam waktu singkat, keduanya dapat akrab dengan cepat. Mereka kini sedang mengobrol dengan riang. Yang satu, merasa senang, karena memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan pujaan hati. Yang satunya lagi, perasaan rindunya perlahan terobati.


“Kamu baik sekali, Pangeran. Saking baiknya, sampai-sampai mau berinteraksi dengan gadis biasa yang bahkan tak memiliki apa-apa” kata Rin mengutarakan kebaikan Veroa yang sebelumnya dikira memiliki sikap yang biasanya para bangsawan miliki, enggan untuk


berinteraksi dengan rakyat biasa. Ya mungkin di hadapan banyak orang, sebelumnya bisa saja Veroa hanya ingin mencari muka, tapi inilah hasil akhirnya yang dapat dia ambil sebagai kebenaran sikap Veroa.


“Gadis biasa? Tak memiliki apa-apa? Kamu bahkan tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan!” itulah apa yang sedang dipikirkan oleh Veroa setelah mendengar ucapan Rin. Tapi, dia juga senang mendengar pujian dari Rin seperti itu. “Aku tak sebaik itu kok. Lagipula, aku yakin, kamu di masa depan akan menjadi seorang gadis yang luar biasa. Percayalah” katanya memberikan ramalan yang optimis, namun sebenarnya memang akan terjadi.


“Un! Aku percaya kok”


Dari arah belakang, seseorang memanggil keduanya. Dia adalah seorang pelayan pribadi Veroa, sekaligus pengawal yang dapat diandalkan.


“Tuan Muda, Nona Rin, kalian berdua dipanggil oleh Ayah Tuan Muda untuk sarapan bersama”.


“Oh, Jacque. Ok, baiklah. Kami akan segera ke sana. Kamu duluan saja”.


Kemudian, Veroa mengajak Rin untuk pergi ke ruang makan. Memerlukan beberapa menit untuk keduanya sampai, karena istana yang luas, apalagi harus melewati beberapa ruangan dan tempat tertentu seperti ruang perpustakaan, ruang latihan pribadi, ruang tamu,

__ADS_1


ruang khusus barang antik dan berakhir di ruang makan.


Ternyata, di sana juga telah duduk Cruiser yang ikut sarapan bersama di sini. Dapat dimaklumi, dia dapat dengan cepat datang kemari dari penginapan, karena dia dapat berteleportasi menggunakan Sihir Ruang: Teleportasi.


“Jomblo Tua, apakah anda tidak memiliki uang untuk sarapan di tempat umum? Sehingga ikut sarapan bersama kami di sini dengan gratis” ucap Veroa membuat terkejut seisi ruangan, karena tutur katanya yang tak sopan terhadap Cruiser Sang Magician Saints.


Ayahnya memelototinya, menyuruhnya untuk menarik kembali perkataannya. Bukannya takut, dia hanya tak ingin membuat masalah dengan orang yang tak seharusnya disinggung.


Tapi, Veroa hanya mengangkat bahu dan lanjut berjalan ke tempat duduk yang kosong, diikuti oleh Rin yang membuntuti di belakangnya.


“Hmph! Aku hanya ingin menemui Nak Rin. Tapi, Raja mengajakku untuk sarapan bersama. Apa boleh buat, ‘kan? Rezeki tak baik bila ditolak” ucapnya tak merasa tersinggung.


Sarapan pun dimulai, karena sejak tadi, mereka menunggu sambil melakukan obrolan ringan sampai kedatangan keduanya. Sebagai etika yang baik, mereka fokus dengan sarapan dan tak bersuara. Hanya sesekali, suara dentingan kecil dari sendok atau alat makan lainnya yang bergesekan dengan piring terdengar jelas dalam keheningan.


Baru, setelah semuanya selesai menghabiskan makanan masing-masing atau telah selesai dengan sarapannya, Raja memulai pembicaraan.


Luna, saudari keempat, adik Veroa mengangkat tangan dengan semangat. Dia baru berusia 4 tahun, gadis kecil yang manis dan selalu ceria mencerahkan suasana di pagi hari. Katanya, “Aku ingin jajan permen bersama Kak Ver. Mau ‘kan Kak?”


“Hm... Gimana ya~” jawab Veroa hendak menjahili adik kecilnya.


“Iih, Kakak kok gitu...!?”


“Ahaha... Bercanda Dek. Iya, tapi Kak Rin juga boleh ikut ya” ucapnya menghentikan candaannya, takut membuat adiknya menangis. Melihat semangat yang dipancarkannya, bukan waktu yang tepat untuk diajak bercanda.


Rin merasa senang, karena baru saja dirinya diajak oleh Veroa untuk ikut jalan-jalan bersamanya. Wajahnya sedikit memancarkan rona merah muda sambil tersenyum.


“Ehem...” Cruiser mencoba untuk menggoda dan menjahili mereka berdua, agar dipermalukan dengan memberikan tanda seperti itu sebagai bentuk pembalasan dendam kecilnya yang tadi.

__ADS_1


Hal itu membuat orang – orang mengerti, Veroa baru saja secara resmi masuk ke jajaran orang – orang dewasa, sudah wajar untuk berhubungan dengan persoalan asmara. Sedangkan untuk Luna, dia tak mengerti apa-apa, hanya mengangguk saja sebagai persetujuan.


“Tapi, jangan coba-coba ambil Kak Ver ya!” katanya memperingati Rin sambil menunjukkan jari telunjuknya padanya.


Di hadapan semua orang, apalagi sampai ditunjuk oleh seorang Putri Kerajaan, Rin


sebenarnya merasa gugup bercampur malu, karena perlakuan Cruiser yang menggoda


keduanya.


Untuk Veroa, dia terlihat biasa saja, tapi dalam hatinya dia malah merasa senang, bukan


malu. Bagaimanapun, dia ingin membuat keluarganya dapat cepat akrab dengan Rin dan memperlakukannya sebagai bagian dari keluarganya.


Sebagai bentuk terima kasih, dia mengacungkan jempol secara tersembunyi kepada Cruiser yang membuat pria tua yang menjomblo itu merasa salah mengambil langkah.


“Hm... Kalo aku, boleh ikut gak, Dek?” tanya Dizz berpura-pura ingin ikut.


“Tidak! Sudah cukup betiga aja”


Suami-Istri itu hanya saling pandang dan tersenyum melihat kedekatan anak – anaknya, sedangkan untuk Cruiser hanya bisa menyesal, tidak mencari pasangan dan terlalu fokus dengan segala risetnya.


“Kalian berdua sungguh beruntung. Aku baru menyadarinya, betapa pentingnya menjalin hubungan kasih dan membangun keluarga. Tapi, waktu tak dapat dikembalikan dan semuanya telah terlambat”


Mendengar ungkapan dari orang yang dihormatinya, Raja Danmark pun segera memberi pendapat, “Belum terlambat, Tuan. Anda masih dapat menjalin hubungan kasih dengan seseorang, namun mestinya lebih cocok dengan orang yang berumur tak jauh dari umur anda saat ini.”


Cruiser setuju dengan pendapat Raja Danmark. “Aku akan mencoba untuk mencari seseorang yang cocok. Kalaupun bisa, bila anda menemukan kandidatnya, boleh tuh menginformasikanya kepada saya.”

__ADS_1


“Oh, tentu-tentu. Itu pasti. Saya akan mencoba untuk membantu anda mencari kandidat yang paling cocok.”


__ADS_2