Sistem Katalis

Sistem Katalis
Latihan Sihir dan Memulai Penyelamatan


__ADS_3

    Berhari-hari, Raja Iblis Azazel mengajari Veroa berlatih sihir. Sehari sebelum latihan, monster – monster bawahan Raja Iblis Azazel dibubarkan. Mayat – mayat rekannya dibawa, namun masih menyisakan darah yang telah mengering. Bau amisnya masih samar tercium, seiring berjalannya waktu, dengan bantuan angin, perlahan, bau amisnya menghilang dua hari setelahnya.


    Di bawah bimbingan Raja Iblis Azazel, kini Veroa dapat mengeluarkan beberapa sihir serangan, pertahanan, dan penyembuhan. Semuanya masih sihir tingkat dasar, ada satu sihir tingkat menengah, yaitu  gravity domine yang dapat menaik-turunkan tingkat gravitasi pada suatu area yang telah ditentukan. Namun, sampai saat ini, dia masih belum dapat melihat akar dari sihir-sihir itu, hanya tahu rapalan dan hasilnya saja, tanpa tahu bagaimana rapalan berinteraksi dengan alam.


    Hingga, pada suatu hari, Veroa bertanya pada Raja Iblis Azazel tentang definisi sihir. Menurutnya, sihir memiliki tiga komponen penting dalam pengaplikasiannya. Komponen – komponen itu ada makhluk hidup sebagai pelaku sihir, bahasa sebagai media perantara, dan alam sebagai respon dari keinginan makhluk hidup. Yang sedang digali oleh Veroa saat ini bukan berbagai macam ilmu sihir, melainkan cara kerja bahasa yang dapat mempengaruhi alam. Raja Iblis Azazel yang ditanyai hal itu pun hanya menaikkan sebelah alinya, tak tahu bagaimana harus berucap.


    Semakin hari, semakin banyak ilmu sihir yang didapatnya, tapi petunjuk mengenai bagaimana bahasa atau rapalan itu bekerja, dia belum menemukannya. Setelah dia belajar, dia banyak merenungkan ajaran yang didapat. Meskipun pemahamannya terhadap sihir semakin meningkat, tapi untuk tujuannya masih belum ada kemajuan.


    “Aku tak boleh menyerah!” ucapnya seraya berdiri, wajahnya ditepuk-tepuk oleh tangannya sendiri. Dia mulai latihan sihir dan mengamati kembali hubungan antara rapalan dengan alam, sehingga menjadi sihir. Berjam-jam, berhari-hari dia lewati dengan latihan dan belajar sihir, tapi masih belum ada perkembangan terkait hubungan rapalan dengan alam yang menjadi kunci penyelamatan Morgana dari siksaan sihir kutukannya yang mengekangnya selama ini.


    Hingga pada suatu hari, dia mencoba menggambar wajah Luna di atas tanah. Butuh beberapa jam untuk mengingat sebagian besar. Tapi, semakin dia menggambarkan wajahnya perlahan sesuai ingatannya yang samar, semakin jelas pula gambaran wajah adiknya yang imut saat meminta sesuatu padanya. Dari situ, dia terperanjat, senang bukan kepalang. Dia akhirnya mengerti, kerterikatan rapalan dengan alam.

__ADS_1


    “Rapalan hanya untuk memperkuat imajinasi, alam akan beriteraksi dengan tekad kita. Mungkin, seperti itulah hasil hipotesisku untuk saat ini. Mari kita coba dengan beberapa sihir sederhana”


    Sihir pertama yang dia coba ada, fire ball. Biasanya, setelah dirapal, sihir fire ball harus segera diluncurkan, bila tidak, nantinya akan meledak dan melukai diri sendiri. Tapi, imajinasinya telah dia ubah sedikit. Fire ball menjadi bola api yang berada di atas genggaman tangannya dan tak melukainya meskipun disentuh oleh tangannya sendiri tanpa memakai pelindung apapun.


    “Berhasil kah? Fyuh... kalau sudah mengerti, enak juga ya. Mungkin, inilah saatnya untuk menyelamatkannya!?”


...


    Sebelumnya, setelah Morgana selesai bermeditasi, dia dikagetkan dengan dua sosok yang sedang berlatih dan melatih sihir dan nampak seru berbincang-bincang. Bukan apa-apa, tapi anehnya adalah Veroa, sosok yang baru saja dikenalinya, namun memiliki tempramen yang baik, sedangkan yang satunya lagi, dia juga mengenalinya sebagai Raja Iblis Azazel yang dikenal sebagai pembawa bencana. Namun, setelah Veroa menjelaskannya, dia akhirnya mengerti, mengapa keduanya bisa seakrab itu. Hanya saja, dia masih merasa heran, “Bukannya Raja Iblis Azazel itu kejam?” begitulah apa yang dipikirkannya.


    Suatu hari, Veroa telah selesai berlatih sihir secara mandirinya lebih cepat daripada biasanya. Matanya memancarkan kebahagiaan dan menatap lekat-lekat pada Morgana yang sedang duduk di atas akar pohon oak di samping Raja Iblis Azazel. Melihatnya yang terlihat bahagia, Raja Iblis Azazel bertanya, “Ada apa Veroa?”

__ADS_1


    “Kenapa bukan Morgana sih yang bertanya? Padahal, mataku terus tertuju padanya agar ditanya yang nantinya aku jawab bahwa aku telah berhasil menemukan kuncinya. Tapi, ya sudahlah”


    Mendengar ini, Morgana nampak kaget bercampur senang, tapi perasaan senangnya segera diurungkannya, takut harapannya sirna. Pada saat itu, dia takkan merasa lebih sakit dari pada saat ini. Melihat Veroa yang mengulurkan tangannya, Morgana sempat melihatnya sejenak. Tapi, karena dia tak mengerti maksudnya, dia pun bertanya, “Ada apa Tuan Veroa?”


    “Ulurkan tanganmu”


    Veroa segera mengalirkan energi sihirnya secara perlahan ke dalam tubuh Morgana. Melakukan hal itu harus sangat berhati-hati, karena sedikit saja dia menyenggol organ dalamnya, dia akan terluka. Apalagi, pada saat itu, Veroa pasti merasa terkejut, energi sihirnya yang masih berada dalam tubuh Morgana akan bergerak acak dan situasi seperti itu sangatlah berbahaya.


    Dengan cara seperti ini, Veroa berencana mencari titik pusat rapalan sihir kutukan dan dia mencoba untuk memecahkannya secara manual. Lokasi pertama yang menjadi incarannya adalah jantung, karena jantung menjadi inti kehidupan manusia. Setelah dicari ke sana, ternyata tidak ada. Dilanjut ke sebelah bawahnya, lokasi yang berada di tengah–tengah perut dan menjadi tempat penyimpanan energi sihir. Sekali lagi, pusat rapalan sihir kutukan tak ada di sana. Lalu, dia mencoba merasakan energi sihir yang terikat dengan bekas rapalan sihir kutukan, ternyata dia dapat merasakannya, apalagi terasa sangat kuat. Yang dia rasakan saat ini, lokasinya berada di bagian tubuh Morgana, lebih tepatnya otaknya yang menjadi pusat saraf.


    Energi sihirnya segera dia pindahkan ke sana. Tak ada waktu untuk bersantai dan waktu telah hampir sejam, sedangkan bila kegiatan ini dilakukan lebih dari sejam, akibatnya akan sangat fatal. Morgana takkan bisa berhubungan lagi dengan sihir, merasakan energinya pun mustahil. Dia mungkin akan menjadi seorang dryad sampah setelah cursed-dryad. Jadi, dia harus berusaha keras untuk mencegah penderitaannya untuk  yang kedua kalinya.

__ADS_1


    Dalam keadaan seperti ini, hati dan pikiran Veroa masih merasa tenang. Dia perlahan membimbing energi sihirnya untuk bergerak ke arah yan sedang ditujunya. Untuk menuju ke saraf pusat sedikit menyulitkannya, karena selain jalannya rumit, juga seperti labirin. Tapi, dia mengandalkan instingnya yang kuat untuk menuju tujuannya. Hasilnya, kini di hadapannya terdapat sesuatu yang luar biasa. Sebuah lilitan aliran energi sihir dari berbagai arah bertempat di satu tempat, pusat saraf. Lilitannya sangatlah rumit, selain itu, waktu sangatlah mendesak.


    Tanpa membuang waktu lagi, Veroa segera mencari energi sihir yang menjadi “Rumah” bagi sihir kutukan untuk dapat tetap aktif.


__ADS_2