Sistem Katalis

Sistem Katalis
Yuyue Wulan


__ADS_3

    Penghuni istana kini bertambah personil, sebelumnya banyak pelayan perempuan, kini bertambah lagi beberapa, apalagi yang baru ini masih gadis. Pada hari berikutnya, semua gadis itu telah memulai rencana masing-masing. Ada yang belajar kepada orang yang telah berpengalaman, ada pula yang sebelumnya memiliki fondasi untuk dapat memulai. Untuk para gadis yang rencananya hendak menjadi pelayan pribadi Veroa, mereka belajar kepada para pelayan istana. Untungnya, tak ada yang merasa terganggu dengan keberadaan mereka yang terkesan lebih bebas. Meski pekerjaan mereka sedikit terganggu, mereka tersenyum dengan tulus saat mengajari para gadis.


    Di ruang kerja, seorang gadis yang sebaya dengan Veroa baru saja memasuki ruangan setelah mendapat izin untuk masuk. Setelah merias diri, tak disangka dia sangat cantik dengan mata tajamnya bagai seekor ular. Meski masih dalam masa pertumbuhan, bentuk tubuhnya cukup matang. Tapi, Veroa tak memperhatikannya lebih jauh, hanya merasa kagum dengan keindahan tubuhnya. Dia yang seorang pria muda, tentunya bakalan tergoda, tapi beruntung hatinya telah terlindungi oleh kurangan tak kasat mata di sekitar hatinya.


    “Silahkan duduk, Yuyue” setelah membalas senyumannya, Veroa berdiri dan mempersilahkannya untuk duduk di kursi yang telah tersedia.


    “Terima kasih, Tuan” Yuyue Wulan duduk setelah dipersilahkan olehnya, caranya duduk tak mencerminkan penampilannya. Seorang petualang memang penuh kebebasan, dia duduk bebas tanpa sadar, mungkin karena kebiasaan yang telah mendarah daging. Dia tak menyadari perubahan raut wajah Veroa setelah tahu, penampilannya hanya sebatas penampilan, tidak dengan sikap.


    “Jadi, apa yang membawamu kemari di pagi hari menuju siang ini? Bukankah tugasmu menjadi penjaga pribadiku diresmikan sepekan ke depan? Agar kamu memiliki persiapan untuk itu, penjaga pribadi takkan memiliki waktu untuk beristirahat atau yang lainnya lho” Veroa menatap matanya, berusaha untuk menebak maksud kedatangannya menemui dirinya setelah beberapa saat selesai sarapan pagi.


    “Saya ingin... kalau bisa, ajarkan saya teknik berpedang sewaktu anda menghabisi para goblin itu, Tuan. Atau, jika anda tak berkenan atau tak ada waktu untuk itu, setidaknya... apakah anda mengenal seseorang yang cocok untuk dijadikan guru bertempur untuk saya?” ekspresinya, entah dirinya menyadarinya atau tidak, siapapun yang melihatnya akan terasa silau. Sungguh menggemaskan, bila hati Veroa belum ada yang memiliki, mungkin tak lama dia juga akan segera tertarik padanya.

__ADS_1


    Kedua alisnya terangkat, melihat mata yang penuh tekad tak peduli ekspresi wajahnya yang menyilaukan, dia merasa harus memenuhi keinginannya. “Aku hanya mengurusi dokumen dan mengawasi wilayahku secara berkala, kapanku aku mau, aku bisa mengajarimu teknik berpedangku. Tapi, teknik ini bukan teknik pedang yang diketahui oleh orang pada umumnya, bisa dikatakan hanya aku yang mengetahui teknik ini, setidaknya di seluruh daratan ini. Apa kamu yakin ingin mempelajarinya?”


    “Iya Tuan, saya yakin! Sebenarnya saya merasa aneh, saya yang seharusnya menjadi penjaga pribadi anda dan harus lebih kuat dari anda, malah belajar teknik bertempur dari anda. Sungguh hubungan yang aneh bukan?”


    “Tidak juga, kamu memang masih sangat muda, tak ada keanehan untuk itu. Oh iya, sebelum mempelajari lebih jauh, ada baiknya mencoba-coba terlebih dahulu, apakah kamu cocok atau tidak dengan teknik berpedang ini. Sekiranya memang tidak cocok, kamu mungkin ingin meningkatkan kemampuan bertempurmu saat ini, aku akan mencarikan seseorang yang dapat mengajarimu” Veroa justru merasa kagum, gadis itu memiliki pemikiran yang lebih dewasa dibandingkan remaja seusianya. Untuk dirinya sendiri, dia sepertinya melupakan ketidaknormalan dirinya yang jauh melampaui semua orang dalam berbagai bidang.


    Hari itu beserta hari – hari berikutnya, Veroa banyak menghabiskan waktu untuk mengajari Yuyue Wulan teknik berpedang kendo yang ternyata teknik berpedang ini cocok untuknya, apalagi dia menyukai bentuk pedangnya yang bilahnya hanya bermata satu dan ramping. Selama sepekan, dia belajar dan berlatih, kemahirannya dalam penguasaan teknik kendo cukup cepat.


    Sesuai kesepakatan awal, di hari teakhir pelatihannya, Veroa akan menguji kemampuannya dengan cara berlatih tanding secara langsung dengannya. Tentunya, keduanya hanya menggunakan katana kayu, tak mungkin juga Veroa menggunakan honjou masamune.


    “Sudah siap?” saling berhadapan, Veroa bersikap santai, kuda-kudanya nampak tak siap untuk menahan atau menghindari serangan, tapi dia malah menanyakan kesiapan lawan bertarungnya.

__ADS_1


    Di tengah lapangan latihan istana, para pekerja, prajurit, maupun pelayan dapat melihat  pertarungan ini. Setelah Yuyue Wulan mengangguk, saat itu pula orang – orang yang melihatnya membelalakkan matanya. Meraka tak menyangka dan kini merasa sangat terkejut menyaksikannya. Mereka berpikir, betapa beruntungnya dapat menyaksikan kejadian langka seperti itu.


    Veroa hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya, dia melesat maju ke depan dan menghunuskan katana kayunya secara vertikal. Kecepatan geraknya membuat lawan tak mampun untuk menghindar dan hanya bisa menangkisnya dengan susah payah. Disusul dengan gerakan kedua kakinya yang melebar, katana kayunya mengikuti arah gerak tubuhnya dan diayunkan secara horizontal, mengarah pada perut lawan.


    Sekali lagi, Yuyue Wulan tak memiliki waktu untuk menghindar, dia segera mengalihkan katana kayunya untuk kembali menangkis serangan lawan yang menyerangnya dengan cekatan. Kali ini, dia termundur beberapa langkah untuk menahan serangan itu. Tapi, kaki kanannya segera dihentakkan dan tubuhnya yang terdorong ke belakang diubah arah geraknya dengan paksa. Dia melesat maju, bergerak zig-zag ke depan, lalu katana kayunya diayunkan, memotong udara secara diagonal.


    Normalnya, harusnya lawan tak dapat menghindar, untuk menangkis pun akan sulit karena posturnya saat ini masih postur yang digunakan untuk menyerang. Nyatanya, Veroa sedikit menggerakkan kaki kanannya ke arah kanan agar tubuh bagian atasnya dapat ditarik ke belakang untuk menghindari tebasan lawan. Alhasil, Yuyue Wulan hanya menebas udara kosong. Tapi, dia tak berhenti hanya dengan satu serangan, dia kembali sekali secara horizontal, disusul dengan gerakan tusukan.


    Bukan Veroa yang mendapat serangan pada perut yang seharusnya menjadi sasaran tusukan, tapi Yuyue Wulan sekarang tak memiliki senjata untuk melanjutkan ujian latih tanding. Katana kayunya terlepas, terbang jauh ke belakang akibat Veroa membalikkan serangan tusukannya. Dari sini, siapapun telah mengetahui siapa pemenangnya.


    “Aku kalah...” Yuyue Wulan merasa tak percaya, dirinya yang telah berlatih tanpa henti selama sepekan untuk menguasai teknik pedang kendo, dia juga telah cukup mahir. Terlebih lagi, dirinya merasa, teknik ini lebih hebat meski belum menguasai sepenuhnya dibandingkan dengan teknik pedang ganda yang dia kuasai.

__ADS_1


    “Selamat! Kamu lulus ujian ini. Jangan risau, sistem ujiannya bukan menang atau kalah, tetapi lulus atau tidaknya dirimu selama pelatihan ini, ditentukan olehku. Kamu yang hanya sepekan berlatih, tak mungkin dapat mengalahkan diriku yang bahkan membunuh semua goblin kemarin saja tak menggunakan kemampuan yang sesungguhnya. Jadi, wajar saja kalau kamu kalah untuk saat ini”


__ADS_2