
Sebelum matanya terbuka sepenuhnya, sebelah tangannya terasa kesemutan menahan wajahnya selagi dirinya
tertidur di meja kerjanya. Ternyata, matahari telah cukup tinggi menyinari dunia, dia baru saja terbangun setelah cahaya menyinari wajahnya.
“Huuh... aku menyesal tak segera pergi ke kamar tadi malam, malah tidur di sini yang membuat tubuh terasa pegal” dia meregangkan seluruh tubuhnya setelah berdiri. “Benar juga, mengapa tak ada orang yang
membangunkanku, ya? Kuyakin, setidaknya pagi-pagi buta akan ada yang mencariku yang berkaitan dengan masalah kemarin. Tapi... biarlah” lanjutnya setelah setelai meregangkan tubuhnya.
Dia tak tahu, Guild Master Alfrederic memang ke sini untuk membicarakan terkait monster chimera itu yang dibawa pergi oleh sekelompok orang yang misterius dan termasuk membicarakan kelompok yang
dimaksudkan. Namun, dia dilarang masuk ke ruang kerjanya setelah Karina melihat wajah Veroa yang masih nampak kelelahan saat dia masih tidur pulas di meja kerjanya.
“Eh? Wah... para pelayan sungguh pengertian, aku memang lapar setelah bangun kesiangan” saat dia menoleh ke arah depan, dia baru menyadari di atas meja yang dikhususkan untuk tamu di ruangan ini ada makanan yang telah tersaji dengan rapi, siap untuk disantap olehnya.
Setengah yang tersisa dari sarapan itu sebelum habis, suara ketuka pintu terdengar, disusul dengan suara lembut yang terkesan dipelankan. Tak menunggu jawaban darinya, pintu terbuka dan Karina pun muncul dari balik pintu itu memasuki ruangan.
__ADS_1
Wajahnya nampak kebingungan saat dirinya memandang ke arah meja kerja Veroa. Sepertinya, orang yang dimaksud tak ada di sana dan telah bangun beberapa saat yang lalu. “Tuan ke mana ya?” setelah berkata seperti itu, dia memilih untuk kembali dan betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang dicarinya itu sedang makan di meja tamu tanpa disadari olehnya.
“Eh Tuan. Kirain, anda sedang tak ada di sini. Maafkan saya yang telah lancang ini memasuki ruangan Tuan, saya tak bermaksud untuk-“ ucapannya terhenti akibat Veroa memotong ucapannya.
“Aku tahu alasanmu, jadi tak mengapa. Oh iya, kalau kamu tak menyadari aku ada di sini sebelumnya, berarti bukan kamu dong yang membawakan makanan ini, ya?” Veroa nyatanya tak mempermasalahkan hal sepele seperti itu, sebetulnya dia merasa risih juga karena Karina sering meminta maaf terhadap kesalahan kecil yang diperbuatnya. Dia telah beberapa kali memberitahunya untuk tak memikirkan hal itu, tapi sepertinya Karina sulit untuk tak melakukannya.
“Kalau itu, saya menyuruh pelayan untuk mengantarkan sarapan ke ruang kerja anda selagi saya menerima tamu” Karina menyebutkan bahwa Guild Master Alfrederic setelah dirinya sarapan berkunjung ke istana. Guild Master ini sepertinya memiliki suatu topik yang cukup penting untuk dibahas dengan Veroa, sehingga beberapa kali membujuk sampai sedikit memaksa Karina yang sampai akhirnya dia menyerah untuk menemui Veroa saat itu dan berniat menunggu.
“Ah, dia menunggu di taman istana? Baiklah, aku akan segera pergi ke sana setelah menghabiskan sarapan ini. Tak enak bila sarapannya masih ada sisa, kasihan koki yang telah lelah memasaknya”
Kedatangannya ke sini ternyata masih membahas terkait sekelompok misterius yang dikatakan oleh para petualang sangat kuat. Dia meminta pendapat Veroa terkait masalah ini, apakah ditindaklanjuti lebih jauh atau dibiarkan begitu saja, mengingat kelompok misterius itu hanya memiliki urusan dengan monster chimera yang mana sebenarnya tak ada kaitannya dengan Kota Tungsten.
“Sebelum kita mengetahui identitas mereka dan apa motifnya mengincar monster chimera ini, kita harus tetap mencari tahu terlebih dahulu dan tetap waspada. Kita tidak akan tahu, apakah mereka berbahaya atau tidak, meskipun untuk saat ini tak ada petunjuk. Setidaknya, kirim pengintai ahli untuk menyelidikinya dengan prioritas keselamatan diri. Bila sampai mengancam kota ini, aku yang akan bertanggungjawab” Veroa kali ini berkata dengan serius yang segera ditanggapi dengan anggukan oleh Guild Master Alfrederic penuh kesungguhan.
Karina yang mengamati pembicaraan itu mengangkat kedua alisnya. Dia tak menyangka Veroa akan bertindak sejauh itu hanya untuk sesuatu yang belum pasti. Terlebih, dia mengetahui tentang pertempuran pribadi yang akan terjadi dalam waktu dekat ini yang menyangkut dirinya. Meskipun dia merasa terharu, karena Veroa sampai berbuat sejauh itu, dia juga merasa khawatir dengan kondisi Veroa.
__ADS_1
Setelah perbincangan itu selesai, Veroa mengantar Guild Master Alfrederic sampai ke gerbang istana. Dia lalu mengajak Karina untuk sedikit menghabiskan waktu bersama Vina di taman, dia pikir Karina terlalu fokus dengan pekerjaannya sehingga lupa meluangkan waktu untuk menemani Vina dan yang terpenting ada
istirahat. Beruntung, Vina memiliki teman bermain, kelinci bulan yang senantiasa menaminya setiap saat.
Keduanya duduk di bawah pohon yang berada di samping kolam, dedaunan mengalangi cahaya matahari yang membuat di sekitar mereka teduh dan terasa sejuk. Veroa tak berniat untuk mencari topik maupun terlihat ingin berbicara, dia justru menunggu Karina mengeluarkan suaranya yang sedari tadi ditahan olehnya.
Akhirnya, setelah terdengar hembusan napas panjang dari Karina, dia menoleh dan memandang Veroa lekat-lekat, seperti tak mempedulikan statusnya yang hanya seorang baroness. Dia pun berkata, “Boleh kutahu, apa alasan anda sampai berbuat sejauh ini, tentang orang yang paling kubenci hingga anda memutuskan untuk memerangi Kerajaan Rome itu?”
“Kau tahu, aku tak suka ada orang yang mengganggu orang – orangku, terlebih dirimu yang selama ini membantu tugas – tugas pemerintahan. Kuyakin dirimu juga mempertanyakan tindakanku terkait sekelompok orang misterius itu, ‘kan?” dia balas memandang Karina, memandang sepasang mata indah bak permata biru, cahaya
pun terpantulkan begitu jernih. Setelah melihat anggukan kepalan pelan Karina, dia lanjut berkata “Masih ada waktu untuk peperangan itu, kenapa aku tak memanfaatkan waktu ini untuk mencegah masalah yang mungkin akan datang di kemudian hari?”
Karina tertegun mendengarnya, dia tak menyangka beban yang ditanggung pundak Veroa begitu berat. Dia tahu, peperangan berskala besar sampai melibatkan satu kerajaan setidaknya harus memiliki persiapan yang matang jauh-jauh hari. Veroa berniat mencegah masalah yang akan datang meski masih samar, memang ada waktu untuk itu tapi waktu untuk mempersiapkan perang yang akan datang akan banyak tersita, sedangkan perang yang telah dijadwalkan adalah dua pekan dari sekarang. Kabar ini belum beredar, dan itu membuat Karina merasa bingung dengan tindakan Tuan Kota ini.
“Tak mungkin Tuanku takkan melibatkan para prajurit kota ini, ‘kan? Belum ada tanda-tanda dia akan memberitahu para prajurit terkait hal ini. Atau jangan-jangan, dia telah mengumpulkan pasukan tanpa sepengetahuanku!?” mengingat belum ada kehebohan terkait pernyataan perang sepihak dan pribadi ini, dia merasa tak mengerti dengan situasi.
__ADS_1