
“Maaf, hanya itu yang dapat kulakukan agar kutukannya terlepas dari tubuhmu” Veroa membungkukkan kepala, merasa bersalah karena mengambil keputusan dengan begitu gegabah. Dia dapat merasakan betapa pentingnya sayap bagi seorang malaikat, namun bila memungkinkan, dia ingin memperbaiki kesalahan ini dengan cara mengembalikan sayap milik perempuan itu atau setidaknya menggantikannya dengan sayap yang baru, yang membuat dirinya dapat menarik kembali statusnya yang sebagai malaikat.
Perempuan itu menggelengkan kepala pelan, tak ada yang bersalah menurutnya. Justru, dirinya merasa berhutang kepada pria yang telah melepaskan belenggu kutukan itu, meski dengan bayaran yang sangat mahal. Karena memang, tak ada jalan lain dan dia mengetahui itu.
“Aku bersyukur telah bebas dari kutukan itu, sehingga tidak membuat diriku ini membahayakan banyak nyawa dan berbuat kekacauan yang tak terkendali. Justru, saya yang harusnya berterimakasih kepada anda, Tuan...” perempuan itu berhenti sejenak, lalu dia melanjutkan ucapannya “Saya Aluna, salah satu dari empat malaikat agung. Jikalau boleh tahu...”
“Veroa Fliff, saya adalah seorang Duke Tungsten” jawab Veroa sedikit membungkukkan badannya.
“Ah, Tuan Veroa. Terima kasih atas pertolongannya, saya sungguh bersyukur dapat terbebas dari kutukan itu. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, bila tak ada yang membebaskan diriku dari kutukan itu, mungkin saya akan menjadi bencana bagi dunia. Maaf, saya tak memiliki apapun lagi sebagai imbalannya...”
“Apa yang anda katakan. Saya telah memutuskan status anda sebagai malaikat agung yang saya pikir, untuk mencapai posisi tersebut tidaklah mudah. Namun, saya dengan ringannya mengayunkan senjata saya untuk memotongnya. Saya rasa, sayalah yang seharusnya memberikan kompensasi yang setimpal untuk itu” raut wajah Veroa secara alami menunjukkan perasaan bersalahnya. “Bila memungkinkan, saya ingin mengembalikan sayap itu kepada anda...” lanjutnya.
“Tak apa...” kini, raut wajah Aluna menjadi lebih cerah. Dia berpikir, mungkin menjadi manusia tak seburuk itu. Dia berniat untuk menjalani kehidupan yang telah berubah ini dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
Melihat wajah yang begitu menenangkan jiwa, Veroa tersenyum. “Sebagai kompensasi awal, aku menawarkan pada anda untuk selalu berada di sisiku sebagai keamanan. Anda saat ini cukup lemah, energi sihir pun sedikit lebih rendah dari kebanyakan orang. Namun, aura anda sebagai malaikat masih terpancar. Setelah anda kuat, mungkin anda-” ucapan Veroa terpotong.
“Aku setuju! Apalagi berada di sisimu selamanya, aku juga tak keberatan” tiba-tiba saja Aluna berkata dengan penuh semangat, seolah tak ada kejadian yang membuatnya sedih sebelumnya.
“Uhuk... Yah, jikalau dia menyetujuinya, aku akan bahagia didampingi oleh malaikat dan gadis pujaanku” Veroa mencoba menolaknya dengan halus, tak ingin malaikat yang telah dirinya sakiti itu bertambah sakit dengan penolakan yang tiba-tiba. Meskipun dia sempat terpesona, tapi dia segera sadar kembali, ada sebuah janji yang harus ditepati dengan seorang gadis pujaannya.
Veroa pun mengajaknya untuk pergi dari sana menuju ke area pertempuran para pasukan dan petualang. Suasana cukup memanas saat dirinya tiba, telah terlihat beberapa korban yang terluka cukup parah dari kedua belah pihak. Beruntungnya, belum memakan korban jiwa dari pihak para prajurit dan petualang.
“Apa yang sedang terjadi? Mengapa mereka saling melukai satu sama lain?” Tanya Aluna merasa bingung dengan orang – orang di depan sana.
“Aku sekarang malaikat jatuh, tapi sebelumnya aku malaikat yang sesungguhnya, namun mendapat kutukan. Kamu juga tahu ‘kan apa maksudnya?” Jelas Aluna, yang membuat Veroa mengangkat kedua alisnya.
Veroa mengangguk. Aluna sebelumnya bukanlah malaikat jatuh, namun komunitas ini ada saat dirinya masih merupakan seutuhnya seorang malaikat, bahkan termasuk jajaran malaikat agung. Berbagai pemikiran kini sedang bergejolak dalam pikirannya. Ada kemungkinan, Aluna mendapat kutukan karena orang – orang ini. Tapi, dia segera menepis pemikirannya untuk saat ini dan memprioritaskan hal yang ada di depannya.
__ADS_1
“Apakah lebih baik kuberhentikan saja?” Tanya Veroa kepada Aluna yang berada di sampingnya.
“Mengapa tidak? Secara sadar, aku sendiri tak ada ikatan apapun dengan mereka. Lebih baik, menghentikan pertempuran yang tak ada artinya ini, ‘kan?” Dengan jujur, dia menyatakan dirinya tak ada hubungan apapun dengan para manusia berjubah putih itu.
“Ada berbagai manfaat maupun kerugian dari kedua belah pihak, tapi kurasa aku tak boleh mempertaruhkan nyawa dengan pengalaman. Baiklah” dia lalu berjalan meninggalkan Aluna di belakang menuju ke area pertempuran.
Tekanan besar dalam area pertempuran membuat setiap orang yang berada di dalamnya dipaksa bertekuk lutut tak berdaya. Adu sihir maupun pedang berhenti begitu saja, menyisakan keringat dan darah yang kini baru saja dirasakan oleh setiap orang. Pandangan mereka segera tertuju ke satu arah, orang yang berdiri di tengah-tengah dan menatap satu per satu orang. Semua orang cukup kesulitan untuk menelan ludah, nyatanya bukan hanya gravitasi yang menjadi berat, tetapi juga secara keseluruhan tubuhnya tertekan oleh sesuatu yang tak nampak.
“Kalian sudah tenang?” Dia memandang ke semua orang yang kini menatapnya dengan ngeri. “Para prajurit maupun petualang, berkumpul di sebelah sana!” Tangannya menunjuk ke arah jalan mereka datang sebelumnya dan mereka yang merasa termasuk ke dalam bagian yang disebutkan segera melaksanakan perintah Veroa. Aneh rasanya, perasaan takut yang luar biasanya menyelimuti hati semua orang setelah merasakan tekanan yang begitu besar darinya.
Kini, di medan tempur hanya tersisa orang – orang yang berpakaian serba putih, mereka masih mematung dan menunggu apa yang akan diucapkan oleh Veroa untuk mereka. Ada seseorang yang sebelumnya bertarung di area yang penuh dengan pepohonan, dia merasa cukup aman untuk melakukan pelarian seorang diri. Lalu, saat dirinya baru setengah berotasi dari posisinya saat ini, sebuah tekanan yang dahsyat kembali menghantam tubuhnya. Dia menjadi pusat perhatian karean suara hentakan kakinya yang cukup keras setelah menerima tekanan itu.
Veroa berjalan ke arahnya pelan sambile berkata “Kau pikir, bisa luput dari perhatianku?”
__ADS_1
Beberapa orang yang hendak menelan ludahnya cukup merasa kesulitan, menebak-nebak apa yang akan terjadi kepada pria yang baru saja hendak melarikan diri secara diam-diam. Meski begitu, entah harus bersyukur karena tak melakukan hal yang bodoh atau khawatir karena nyawa mereka takkan dapat bertahan setelah ini.
Saat tangan Veroa bergerak ke arah leher pria itu, semua orang semakin tegang. Meski tak terlihat adanya senjata, tapi mereka yakin tangan itu dapat memotong batang pohon sekalipun. Namun, apa yang mereka takutkan malah menguras mental diri mereka sendiri. Nyatanya, Veroa hanya menepuk pundak pria itu beberapa kali. Lalu, dia kembali memperhatikan semua orang, dan berkata “Siapa pemimpin komunitas ini? Atau kalau ada, pendirinya sekalian”