Sistem Katalis

Sistem Katalis
Benteng yang Mulai Runtuh


__ADS_3

    Sihir dari elemen api, air dan elemen alam yang lain diluncurkan menuju benteng Kota Barium. Getaran yang dahsyat dapat dirasakan orang – orang saat sihir – sihir menghantam benteng, apalagi orang – orang  yang pada saat itu berada di atas benteng maupun ruangan dalam benteng. Selain merasakan getaran hebat itu, telinga mereka juga terasa sakit mendengar suara ledakan yang memekakan telinga. Sayangnya, meski telah dihujani berbagai serangan sihir jarak jauh, benteng itu masih tetap kokoh.


    Kejadian ini mengundang hampir seluruh penduduk sipil setelah mendengar ledakan maupun getaran yang mirip gempa itu. Namun, sebelum mereka dapat menyaksikan apa yang sedang terjadi, para prajurit menyebar ke satu per satu rumah. Itu terjadi setelah pengumuman singkat dari Raja Arthur melalui sihir pengendali suara yang membuat suaranya dapat menyebar secara merasa ke seluruh kawasan Kota Barium. Semua penduduk sipil segera diungsikan ke belakang istana yang berupa lapangan luas dan cukup dekat dengan salah satu gerbang sebagai jalur pelarian, bila sewaktu-waktu terjadi hal yang tak diinginkan.


    “Sialan anak ini!!! Dia ternyata bersungguh-sungguh dengan suratnya...” Raja Arthur bergumam pelan, menyesal karena mengabaikan surat pernyataan perang itu. Dia sekarang merasa stress dan khawatir saat bala bantuan dari Kota Ferrum baru tiba setelah Kota Barium telah menjadi puing-puing bangunan saja. Sederhananya, mereka hanya memiliki 500 pasukan secara total, terlebih dia tak terlalu memiliki hubungan khusus dengan guild lain, sehingga dia harus mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mendapat bantuan dari mereka. Harapannya saat ini adalah benteng dapat menahan pasukan Veroa setidaknya selama beberapa waktu sampai dia mendapat bantuan dari guild petualang, guild pemburu, dan guild mercenary, atau setidaknya salah satunya.


    Satu per satu juru negosiasi diturunkan untuk melaksanakan tugasnya. Jenderal Perang pun segera diperintahkan untuk menyiapkan pasukan dan strategi yang tepat untuk menghadapi badai yang akan segera datang. Sedangkan burung merpati yang menjadi harapan kosong bagi Raja Arthur, penerima surat takkan pernah mengetahui apa isi surat itu dan hanya burung merpati saja yang hinggap di jendela, sebab Veroa memotong ikat kertas pada kaki burung setelah melihat burung merpati terbang dari istana, dan dia telah menebak apa isi surat itu.


    Benteng mulai terdapat retakan, meski hanya sebesar helaian rambut, tapi jalan akan mulai terbuka secara perlahan mulai dari sekarang. Benteng ini sungguh kokoh dengan bantuan sihir penguatan dan pengerasan, sehingga entah telah berapa ratus serangan sihir jarak jauh dari berbagai elemen menghantamnya, baru sekarang terdapat retakan halus. Hal ini belum ada yang menyadarinya, kecuali Veroa yang memiliki indera yang tajam.


    Malam ini sampai dini hari, orang – orang yang ditugaskan untuk menghancurkan benteng telah melakukan beberapa kali pergantian. Benteng itu selama beberapa jam terus-menerus menerima kerusakan yang dari waktu ke waktu semakin nampak kerusakannya. Pada beberapa jam awal, para penyerang merasa frustasi bahwa serangan sihir mereka seperti tak bekerja, namun kini mereka melihat retakan yang mulai terlihat dari jarak pandang mereka saat ini berdiri, terlebih dalam kegelapan ini. Yang pasti, retakan semakin membesar dan beberapa batu dan semen mulai runtuh.

__ADS_1


    “Kukira, kita melakukan ini sia-sia, tapi...” salah seorang dari petualang yang mendapat bagian untuk menghancurkan benteng yang awalnya merasa frustasi, kini kembali bersemangat setelah melihat hasilnya yang cukup memuaskan.


    “Iya, aku berpikir juga begitu, sedangkan ini masih termasuk ke dalam perhitungan Tuan Kota” seseorang yang tak terlalu jauh mendengar seseorang bergumam seperti itu, dia menanggapi.


    Dalam hal ini, moral pasukan di pihak Veroa mulai meningkat kembali, sedangkan moral para prajurit di Kota Barium turun drastis dan tubuhnya gemetar membayangkan kota ini tak dapat bertahan dari serangan musuh. Apalagi mereka yang berada di atas benteng, menyaksikan secara langsung gempuran itu dan melihat retakan pada dinding benteng semakin membesar. Mereka tentu merasa sangat cemas, berharap bantuan datang.


    Pada akhirnya, sebelum benteng itu akan runtuh, para prajurit maupun pekerja yang berada di sana segera menjauhi area yang diperkirakan dapat membahayakan nyawa. Melihat ada pasukan di jalanan yang berjejer dengan rapi, mereka diminta untuk bergabung ke dalamnya. Sedangkan untuk para pekerja, mereka dipandu oleh beberapa prajurit untuk pergi ke tempat pengungsian.


    “Bagaimana situasinya?” Dia bertanya kepada salah satu pengintai yang sebelumnya diperintahkan untuk mengamati situasi di depan dengan harap-harap cemas, namun dia tetap mempertahankan kewibawaannya.


    “Benteng telah hampir runtuh, Yang Mulia. Sebentar lagi, tak dapat dipungkiri kita harus bertempur dan membuat kota ini bermandikan darah...” Pengintai itu memberikan laporan dengan nada yang cukup bergetar dan keningnya juga berkeringat dingin mengingat banyaknya ahli sihir dari pasukan musuh dengan tingkatan yang cukup tinggi. Dia juga menjelaskan jumlah perkiraan dan memberitahukan tingkatan ahli sihir itu yang katanya melebihi para ahli sihir di kota ini, atau bahkan bila para ahli sihir di kerajaan ini digabung, hanya akan menyainginya sedikit bila keduanya beradu. Belum lagi, dia juga belum dapat mengidentifikasi tingkatan para soul masternya.

__ADS_1


    Raja Arthur tentunya sangat terkejut mendengar laporan itu. Dia yakin, surat pernyataan itu ditandatangani atas nama pribadi dan bukan kerajaan. Tak mungkin mendapat pasukan yang dapat menyaingi kekuatan pasukan kerajaannya bila digabung. “Apa hasil pengamatanmu begitu meyakinkan? Berapa persen keakuratannya?” Raja Arthur mencoba untuk tetap tenang, ada kemungkinan kekuatan musuh masih lebih lemah atau bisa juga lebih kuat dari laporannya saat ini, pikirnya.


    “Saya yakin 92% akurat, Yang Mulia” ucapnya dengan pasrah, dia juga menyadari betapa bahayanya situasi yang sedang dihadapi Kota Barium ini.


    Helaan napas terdengar cukup panjang, Raja Arthur sungguh menyesali perbuatannya di masa lalu yang berakibat Kota Barium menghadapi situasi yang sekarang ini. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Kewibawaannya sedikit luntur dengan terbentuknya kerutan di dahinya, dia tak sadar saking pusingnya mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ini, agar Kota Barium tak runtuh.


    “Kita tunggu benteng hancur, agar para penyihir itu berhenti menembakkan serangan sihir jarak jauhnya. Lalu, Jenderal Willford akan mengikutiku untuk melakukan negosiasi. Semoga, masih ada ruang untuk itu” di akhir kalimatnya, dia bergumam pelan, berharap jalan yang akan diambilnya kali ini tepat.


    Saat Raja Arthur sedang bersiap-siap untuk melakukan negosiasi setelah bentengnya runtuh, hatinya bergetar. Suara benteng yang runtuh terdengar ke seluruh penjuru kota, benteng yang telah ada selama beberapa dekade itu hanya tinggal nama.


    “Maafkan aku, leluhur...”

__ADS_1


__ADS_2