
Sebuah pemandangan yang sungguh mengerikan, orang yang memiliki mental lemah akan langsung muntah. Bau rambut yang terbakar, seperti itulah aroma yang sangat menyengat memenuhi udara. Desa yang asri hanya menyisakan abu yang dipenuhi kenangan yang kini hanya ada dalam benak masing-masing.
Para gadis tak dapat menampung lebih banyak lagi air mata yang kini telah tumpah melewati wajah, menetes ke tanah. Sebagian besar dari mereka tak dapat bertahan untuk tetap berdiri, kaki terasa lemas dan kini mereka jatuh terduduk di atas tanah.
“Tumpahkanlah seluruh kesedihan kalian, sehingga nanti kalian menggantikan kesedihan itu dengan sisaan kenangan dari desa ini sebagai motivasi untuk hidup. Pengorbanan mereka janganlah kalian sia-siakan, kalian harus berusaha untuk menjalani kehidupan sebaik mungkin. Kuyakin, bila mereka dapat mengutarakan keinginan mereka, takkan jauh dengan apa yang baru saja kukatakan” melihat mereka begitu bersedih sebelum dapat mengurus para korban dengan layak, Veroa tak dapat berbuat apa-apa selain berkata demikian.
Gadis yang dikagumi oleh Veroa menatap padanya, dia saat ini sedang berdiri. Sungguh wanita tangguh, tapi wajahnya tak luput dari tumpahan air mata yang tak terbendung. Berjalan mendekati Veroa, tanpa meminta persetujuan, dirinya menyandarkan tubuhnya pada dada bidangnya. Saat itulah, terdengar isak tangis, wajahnya disembunyikan dalam dada bidang itu, sepertinya dia malu untuk orang – orang melihat wajah menyedihkannya.
Sedikit terkejut memang, tapi Veroa tak melarangnya. Dirinya entah mengapa sangat mengerti dengan perasaannya, tangannya mengelus lembut punggung ramping gadis itu sebagai wujud empatinya. Dia tak berkata apa-apa selama kondisi itu, yang lain pun masih sibuk dalam meratapi kesedihan. Momen ini berlangsung cukup lama, sampai tak terasa matahari sebentar lagi akan segera terbenam.
__ADS_1
Berhubung semuanya telah menjadi abu, bila tak bersegera dilakukan proses pemakaman yang layak, abu akan terbawa angin yang entah kemana mereka membawanya pergi. Maka, tanpa para gadis itu sadari, Veroa mengendalikan angin yang menyelimuti seluruh abu, agar melindunginya untuk tak pergi kemana-mana selama para gadis berkabung.
Pada hari itu, para gadis tertidur dalam kesedihan di atas tanah tak jauh dari abu. Gadis yang dikagumi oleh Veroa juga sama, tapi dia tidur sambil bersandar pada dada bidang Veroa, posisinya tetap berdiri sampai malam tiba, Veroa memindahkannya, disandarkan pada batang pohon terdekat. Akhirnya, abu diurus setelah pagi hari tiba.
Lembaran baru telah dibuka oleh masing-masing gadis, kesedihan yang mendalam tela digantikan dengan semangat untuk tetap hidup dan menjalaninya sebaik mungkin. Wajah-wajah ceria yang sangat cocok untuk mereka menjadi pemandangan indah kedua setelah alam. Mengurusi abu para penduduk desa selesai saat matahari berada di atas kepala. Saat itu, barulah perut beberapa gadis terdengar meminta nutrisi. Ternyata, pagi tadi tak ada yang sarapan dan memutuskan untuk menguburkan abu para penduduk, Veroa sendiri membantu mereka memisahkan abu tiap-tiap individu, sisanya mereka yang mengurusnya.
Dengan bantuan macan penguasa malam, beberapa ekor kelinci bertanduk, babi berbulu hijau, dan rusa lumut berhasil dikumpulkan dalam keadaan siap untuk disembelih dan dikuliti. Memang, Veroa sendiri sebenarnya dapat memburu beberapa, tapi yang menjadi permasalahannya setelah memakan daging bakar adalah air minum. Di hutan belantara seperti ini, sulit untuk menemukan air minum. Tapi beruntung, ada sumur yang bersih di desa yang telah menjadi abu. Memanfaatkan hal itu, acara makan di hutan kali ini terasa lebih nikmat.
Yang ditunggu olehnya adalah gadis yang dikaguminya untuk memperkenalkann diri. Namanya ternyata adalah Yuyue Wulan yang sebenarnya dia bukanlah penduduk asli desa itu, dia adalah pengelana yang selama beberapa waktu lalu tinggal di sana. Waktu itu, setelah dirinya mendapat pertolongan saat terluka, yang saat itu dia tak sadarkan diri di lokasi tak jauh dari desa, seorang perempuan paruh baya membawanya ke desa untuk dirawatnya. Setelah sembuh, dia tak memutuskan untuk pergi begitu saja, dirinya tinggal selama beberapa waktu di sana untuk membalas budi atas apa yang telah dilakukan oleh wanita paruh baya itu. Ikatan perasaan pun terjalin, perasaan seperti ikatan antara anak dan ibu mengikat antara gadis itu dengan wanita paruh baya yang hidup bersama anak laki-laki tunggalnya. Hingga, insiden yang tak terduga merenggut segalanya.
__ADS_1
Saat penyerangan itu, dirinya sempat melawan dan berusaha untuk melindungi wanita paruh baya penolongnya. Seorang diri, sulit untuk menghadapi puluhan goblin. Meskipun dirinya seorang petualang, tapi mustahil untuk dapat mengatasi insiden itu sendirian, apalagi para penduduk desa tak ada yang memiliki kemampuan untuk bertarung. Dirinya merasa terpukul saat tahu tak dapat berbuat apa-apa, melihat orang yang disayangnya dipanah hingga meninggal. Apalagi, dalam kurungan, menyaksikan kobaran api yang mulai melahap seluruh desa, dirinya hanya dapat memegang erat kurungan kayu sekuat tenaga.
“Yuyue Wulan, nama yang khas berasal dari Kerajaan Valkyrie. Menurut kabar yang beredar, katanya orang – orang di sana sangat unik. Tapi, gadis yang bernama Yuyue ini tak ada hal unik yang terlihat darinya selain parasnya yang cantik khas orang – orang Valkyrie dan sikapnya yang membuatku kagum” setelah mendengar nama Yuyue Wulan, serpihan ingatannya menghubungkan pada sebuah pengetahuan terkait orang – orang Valkyrie. Menurut deskripsi dari buku, wajah mereka sangat khas, matanya yang tajam untuk para pria dan bibir yang tipis untuk wanita adalah ciri khas mereka. Berlaku juga untuk gadis bernama Yuyue Wulan ini.
Akhirnya, perjalanan untuk pulang pun dimulai. Para gadis tak membawa apapun, hanya pakaian yang sedang dipakai oleh mereka saat ini. Mental dan fisik mereka telah dipersiapkan. Ada juga satu tambahan personil, bukan manusia, elf, atau yang lain, tetapi seekor binatang buas yang nampak jinak. Binatang buas ini tentunya adalah macan penguasa malam, setelah Veroa mengajaknya malam itu untuk ikut bersamanya dan menjadi peliharaannya. Dia yang memiliki insting yang tajam dan kecerdasan yang cukup untuk membuatnya dapat berpikir, mengerti bahwa dirinya tak dapat menolak permintaan makhluk yang sangat kuat. Apalagi, dirinya telah melihat sebagian kemampuan Veroa yang kemarin siang membuat rahang bagian bawahnya hampir copot.
Kini, perjalanan tak lagi terasa sepi. Para gadis banyak berbincang menghangatkan udara yang terasa cukup dingin. Beberapa jam berjalan kaki, tak ada yang mengeluh dan itu cukup bagus. Hanya saja, kabar buruknya, waktu yang diperlukan untuk sampai tujuan menjadi berkali-kali lipat lebih lama. Tapi, sebenarnya tak seburuk itu, karena lokasi mereka saat ini telah setengah jalan.
Bersama para gadis, Veroa berjalan berdampingan dengan macan penguasa malam dan Yuyue Wulan di samping kiri dan kanannya menuju ke arah sebaliknya dari matahari yang perlahan pergi.
__ADS_1
“Arthemis tak berada di genggaman tangan untuk saat ini, tapi perjalanan pulang ini membawa hal yang lebih baik. Meski, terdapat kejadian yang memilukan, simpan kenangan di hati dan jalani hidup sepenuh hati”