
Setelah menyelesaikan permasalahan di Desa Illiod, keduanya akhirnya kembali pulang ke Kota Tungsten. Tak lupa juga mereka berpamitan kepada orang – orang desa. Pada akhirnya, kereta dipenuhi oleh buah tangan. Meski tak terlihat mewah, tapi barang – barang yang didapat sangatlah berarti.
Matahari yang mulai meninggi, menyinari seisi daratan, memberikan semangat kepada seluruh makhluk, kereta kuda pun turut ditarik oleh dua ekor kuda setelah kusir menyuruhnya untuk berjalan. Jalanan yang diiringi oleh sepetak luas lahan gandum, kondisinya hampir sama seperti kemarin, kini mereka kembali melewati jalanan ini.
“Sangat disayangkan, Vina tak ada kesempatan untuk bermain bersama mereka” ucapnya dengan nada keluhan, merasa bahwa kunjungan ke Desa Illiod terlalu singkat baginya, tapi Veroa tak dapat meninggalkan Kota Tungsten terlalu lama juga. Jadi, itulah pilihan yang terbaik.
Mereka mulai memasuki area hutan, pemandangan yang disuguhkan sungguh indah. Sinar matahari yang lolos dari halangan dedaunan, sampai menembus tanah, membuat tumbuhan – tumbuhan kecil mendapat kesempatan untuk berfotosintesis.
Hutan ini adalah hutan perbatasan antara Hutan Californium dengan Hutan Copernisium. Meski tak ada tanda pembatas yang menonjol, tetapi dapat dilihat pada dua buah batu besar yang berada di sebelah kanan dan kiri yang sedikit berjauhan. Yang mengindikasikan bahwa dari batu yang satu ke batu yang lainnya secara garis lurus memisahkan kedua hutan ini.
Dari balik semak-semak, sering kali terdengar suara gemerisik, menandakan banyaknya makhluk hidup yang bersembunyi di sana. Bisa saja binatang pengerat, pemangsa yang sedang membuat jebakan, serangga, atau bahkan reptilia. Binatang melata di hutan perbatasan ini termasuk langka, sangat sulit untuk menemukannya di sini. Tapi, sekalinya ditemukan, binatang melata yang muncul merupakan binatang melata yang sangat langka pula, langka di manapun.
Binatang langka dan unik, pastinya mahal bila dijual. Makanya, sering kali terlihat beberapa petualang yang sedang menguji keberuntungannya untuk mendapatkan binatang melata, apapun itu. Yang penting, bila dijual memiliki nilai jual yang tinggi.
__ADS_1
Saat itu, memang suasana terasa sedikit bising dari pedalaman hutan. Perlahan, suara gemerisik terdengar semakin jelas. Itu suara langkah kaki manusia yang sedang berlari terburu-buru, seperti sedang dikejar oleh sesuatu yang berbahaya.
Kusir kuda yang merasakan firasat buruk pun hendak mempercepat laju kereta, tapi Veroa mencegahnya dan menyuruhnya untuk menunggu sesuatu yang sedang datang itu. Kusir kuda itu tak mampu berbuat apa-apa dan hanya menurutinya saja. Meski dia percaya dengan kemampuan Tuannya, tetapi selain mengkhawatirkan diri sendiri, dia juga mengkhawatirkan keselamatan Tuannya dengan gadis kecil yang bersamanya. Yang datang belum diketahui identitasnya, bisa saja sesuatu yang sangat kuat dan berbahaya, dia tak ingin membayangkan kemungkinan terburuknya.
Dari balik pepohonan, dua orang manusia terlihat sedang berlari ketakutan. Kebetulan, mereka berdua berlari menuju ke arah kereta kuda yang sedang dinaiki oleh Veroa dan Vina. Hal yang dikhawatirkan oleh kusir kuda tadi.
“Kalian! Segera pergi dari sini” seru salah seorang dari keduanya setelah berada tak jauh dari posisi kereta kuda saat ini. Mereka masih tetap berlari, dari tingkahnya terlihat jelas, sebenarnya mereka ingin berbelok arah, agar tak memancing sesuatu itu ke arah Veroa. Tapi, semuanya telah terlambat, seekor laba-laba yang berukuran sangat besar telah terlihat di belakang sana dan dia juga sedang melihat ke arah mereka.
Laba-laba berkaki pedang, setiap kali dia melompati pohon, pohon itu akan tumbang dengan sekali pijakan kakinya. Badannya memang ramping, tapi terdapat lima bagian tipis, kuat, dan tajam yang memanjang dari leher hingga bokongnya. Lima bagian ini, terdapat satu di tengah, satu pasang di samping kiri dan kanannya. Tinggi bagian ini sekitar 10 cm dan dapat dilihat dari kejauhan bahwa laba-laba berkaki pedang ini bukan hanya memiliki bagian runcing, tajam, dan kuat di bagian kaki saja, tetapi hampir di seluruh tubuhnya.
Sepanjang jalur yang dilewatinya telah banyak merusak tatanan hutan. Laba-laba itu melompat tinggi dengan kedua kaki bagian depannya siap memenggal kepala Veroa yang sedang berdiri menunggu kedatangannya.
[Kendo master: delayed effect]
__ADS_1
Saat kedua kaki yang berbentuk seperti pedang itu hendak memenggalnya, kedua kaki itu malah tergeletak, terlepas dari tubuhnya. Sebuah pedang aneh bermata satu baru saja disarungkan kembali.
Ternyata, entah dari mana datangnya, honjou masamune tiba-tiba muncul di genggaman tangannya, dia pun dengan senang hati memotong kedua kaki itu dengan sedikit bergaya, menggunakan salah satu skill andalannya.
Sontak saja laba-laba berkaki pedang itu menjerit kesakitan. Dia berlari kesana-kemari dan kembali banyak menumbangkan batang pohon. Tapi, sebelum lebih banyak pohon yang tumbang, Veroa segera mengangkatnya dengan sihir gravity domine dan laba-laba itu hanya bisa meronta tanpa daya di udara.
Setelah itu, Veroa menyerahkan binatang yang telah tak berdaya pada kedua orang sebelumnya, sedangkan dia akan melanjutkan untuk kembali.
Tapi sebelum itu, Veroa menanyakan perihal sesuatu pada mereka berdua, “Laba-laba berkaki pedang pada dasarnya takkan keluar dari sarangnya, apalagi di pagi hari seperti ini. Apa sebenarnya tujuan kalian mengganggunya? Sedangkan kalian sendiri tak mampu untuk mengalahkannya, untuk mendekatinya saja kalian harus ekstra hati-hati. Konyol bukan kalau kalian melakukan itu hanya untuk sekedar bermain saja?”
Keduanya saling pandang mendengar pertanyaan dari Veroa, tapi salah satunya segera menjawabnya, “Saat itu, kami sedang berburu seekor kera hijau yang sedikit berukuran besar. Kera itu meloncat kesana-kemari, tak melihat adanya jaring laba-laba yang begitu besar di depannya dan dia terjebak di sana. Tak lama kemudian, laba-laba berkaki pedang muncul dari balik dedaunan yang lebat dan segera memangsanya. Kami yang dilihat olehnya pun menjadi sasaran selanjutnya, karena laba-laba yang begitu besar, memakan tubuh kera hijau yang dirasa kecil, tentunya masih memerlukan asupan. Hingga, sampai di sinilah kami dan bertemu dengan anda sekalian. Syukurnya, anda sangat hebat bisa mengalankan binatang buas itu. Meski tak berniat membantu kami pun, saya pikir...”
“Ya, ya, gak masalah. Lebih baik, kalian juga berhati-hati saat menggiring buruan. Juga, kalian uruslah binatang itu, aku akan melanjutkan perjalanan bersama yang lainnya” ucap Veroa yang memotong pembicaraan pria itu yang hendak berterimakasih padanya, dan dia segera berlalu pergi.
__ADS_1
Saat di dalam kereta, Veroa melamun memikirkan cerita aneh dari pria yang sebelumnya dikejar oleh laba-laba berkaki pedang bersama kawannya. Soalnya, laba-laba berkaki pedang biasanya bersarang di dalam goa atau di tempat yang gelap. “Harus kuselidiki! Daripada nanti sampai terjadi sesuatu yang lebih parah” pikirnya.