
Langit masih berwarna merah, bulan senantiasa setia menerangi daratan dengan cahaya seadanya. Di daratan ini, tanah tandus, tak ada pepohonan yang mampu tumbuh dan bertahan hidup. Namun, terdapat pohon yang menjulang tinggi menembus atmosfer Dunia Terbengkalai yang entah ketinggiannya sampai mana, berdiri dengan kokoh di tengah-tengah dataran ini.
Pohon itu adalah pohon oak, terdapat sesosok makhluk yang mendiami pohon ini. Dia adalah cursed-dryad, Morgana. Sebenarnya bukan dia yang mendiami pohon itu, tetapi adanya pohon itu karena dia. Makhluk yang disebut dryad biasanya dianggap sosok agung dan suci oleh manusia, yang satu ini memiliki sejarah yang kelam.
Veroa bersama pasukannya berjalan di tanah tandus, dari ketinggian ini, dia seperti setitik tinta yang diteteskan pada sebuah kertas. Arahnya saat ini searah dengan tempat pohon aok itu berada. Dia memang bertujuan untuk pergi ke sana, karena pastinya dia merasa sangat penasaran dengan keberadaan pohon itu. Bagaimanapun, baru kali ini dia melihatnya setelah selama ini mendiami dunia ini. Lagipula, yang menjadi harapannya saat ini adalah bahwa di pohon itu terdapat buah yang bisa dimakan. Selama ini, dia hanya memakan daging monster yang dibakar. Tanpa bumbu atau penyedap lainnya, daging yang keras dan bau itu terpaksa dia makan.
“Tak disangka, ternyata pohon ini sangat besar!” ujar Veroa merasa terkejut setelah dia bersama pasukan sihirnya sampai di kaki pohon itu. Awalnya, dia memang mengira bahwa pohon yang dilihatnya dari jarak jauh berukuran besar, tapi ukuran setelah dilihatnya dari jarak dekat membuatnya terkejut. Pohon oak itu sangat besar, diameter batang pohonnya diperkirakan mencapai 200 meter lebih dengan tinggi pohon yang tak dapat diperkirakan.
“Benar Tuanku, saya juga merasa terkejut” ucap Zaldot, dia sependapat dengan Tuannya, diikuati oleh pasukan sihir lainnya yang mengangguk secara serentak.
Beberapa waktu lalu, hydra yang menjadi lawan tertangguhnya saat itu, telah berhasil dikalahkan. Dia terbunuh oleh serangan sihir yang memiliki daya serang luar biasa dahsyat yang dipatulkan oleh skill Veroa, skill deflection. Ditambah lagi, hydra yang tak bisa meregenerasi tubuhnya dengan baik, akibat salah satu kepalanya yang memiliki kemampuan meregenerasi tubuhnya dengan sangat cepat dipotong menjadi beberapa bagian oleh Veroa, terluka parah seperti itu, dia menjadi sangat lemah. Akhirnya, Veroa mendapatkan pencapaian “The one last stand” dengan hadiah yang didapatnya berupa pengetahuan tentang filosofi sihir dan efek yang didapat berupa skill pasif, keep alive before the enemy die.
Merasakan kehadirannya, Morgana segera keluar untuk menyambut tamu tak diundang itu. Masih setengah transparan saat menampilkan wujudnya, dia segera menyerang Veroa yang sedang mengagumi pohon di depannya. Rapalan sihir curse deity physiology yang merupakan sihir kutukan tingkat tinggi yang menyerang jiwa target secara langsung kini baru saja dilancarkan dengan Veroa yang menjadi serangan sihirnya.
Veroa yang masih terkagum-kagum dengan ukuran pohon itu, tak siap untuk menghindari serangan sihir itu. Dia terkena dengan telak beserta seluruh pasukan sihirnya. Kecuali Zaldot, seluruh pasukan sihir segera tumbang. Zaldot masih berusaha keras memanggil Tuannya, ingin mengetahui keadaannya dalam keadaan terkutuk seperti itu. Efek sihir itu, membuat jiwa target terisolasi dari raganya, pada saat yang sama menyerap energi kehidupannya dan disalurkan pada pengguna sihir. Tapi, target utama masih berdiri dengan gagah dan menatap sosok yang baru saja muncul.
__ADS_1
Morgana, melihat manusia yang menjadi target utama serangan sihirnya seperti tak berefek padanya merasa terkejut. Soalnya, sihir yang baru saja dirapalkannya merupakan sihir tingkat tinggi yang tak seorangpun dari spesies manusia mampu untuk bertahan dari serangannya.
Dia perlahan turun. Setelah kakinya menyentuh tanah, dia berjalan mendekati Veroa. Langkah kakinya begitu anggun, lekuk tubuhnya sangat ideal, bentuk wajahnya cantik, namun kulitnya penuh dengan noda, bukan noda debu atau serpihan tanah atau semacamnya, tetapi semacam penyakit kulit yang membuatnya terlihat jelek serta bau tubuhnya seperti bau bangkai.
Setelah jarak antara keduanya dekat, Morgana sedikit membungkukkan badannya seperti seorang putri untuk memberikan penghormatan pada sosok yang dia anggap hebat sebagai bagian dari spesies manusia. Lalu, dia berkata, “Perkenalkan, saya Morgana, spesies dryad yang terkutuk. Apakah anda berkenan untuk memperkenalkan diri?”
Veroa yang sedari tadi memperhatikan Morgana merasa, di balik kutukannya itu, terdapat sejarah hidup yang kelam. Makanya, dia tak berusaha untuk menyerang balik. Lagipula, serangan sihir kutukan itu tak berpengaruh padanya. Malah, saat berhadap-hadapan dengan Morgana yang bau tubuhnya tercium oleh hidungnya, dia semakin bersimpati.
“Salam kenal, Nona Morgana. Saya Veroa Fliff, seorang manusia biasa yang masih hidup yang tiba-tiba saja dihukum oleh Dewa di Neraka, Taman Surga, dan berakhir di sini” ujar Veroa memperkenalkan diri dengan sedikit membungkukkan badan ala seorang pangeran.
Sebelum berbincang lebih jauh, Veroa meminta Morgana untuk melepaskan sihir curse deity physiology yang masih aktif pada pasukan sihirnya. Sihir kutukan pun dinonaktifkan. Pasukan sihir masih berusaha untuk bangkit dalam beberapa waktu setelahnya.
Dan tebakannya pun benar. Ada alasan tertentu, mengapa dia menyerang siapapun yang memasuki wilayahnya. Namun, Veroa tak menanyakannya lebih lanjut.
Layar sistem tiba-tiba muncul, menampilkan tugas yang perlu diselesaikan.
__ADS_1
Nama Tugas: Menyelamatkan Dryad yang Terkutuk.
Kesulitan: -
Batas Waktu: -
Hukuman: Menerima hukuman ketiga sampai batas waktu yang telah ditentukan.
Hadiah: Spirit tingkat legend; Kembali ke Dunia Cosmic.
Matanya berbinar melihat hadiah kedua yang akan diperoleh bila dia dapat menyelesaikan tugas itu. Tetapi, selain itu juga, dia memang ingin menyelamatkan Morgana, bila memang bisa diselamatkan. Mendapat tugas seperti itu dari sistem, berarti dia memiliki kesempatan untuk dapat membebaskannya dari kutukan yang membelenggunya.
Selama perbincangan ini, Veroa telah menilai secara garis besar, sikap yang dimiliki oleh Morgana. Dia merasa bahwa kutukan itu tak pantas untuknya yang memiliki sikap lemah lembut sepertinya. “Siapapun yang memberinya kutukan, aku harus memberinya pelajaran, bahkan sekalipun itu Dewa” ujarnya dalam hati, memendam kegeraman bila mengingat kasus yang dialami oleh Morgana. Seandainya, alasan Morgana mendapat kutukan itu tanpa alasan, sudah pasti dia merasakannya saat ini dan sedang mengalaminya. Sudah sepatutnya, dia dapat merasakan penderitaan itu. Apabila Aethelfaed tak berada di dalam jiwanya, apalah daya menghadapi hukuman dari Dewa.
Raut wajah yang terlihat memendam rasa sedih, sakit, dan kesepian, di balik noda yang menutupi kulitnya, nampak samar untuk dilihat dengan mata, namun bila diiringi dengan pandangan hati, siapapun dapat melihat penderitaan yang telah dialaminya. Spesies yang abadi, mengalami penderitaan yang entah telah berapa abad berlalu, Morgana adalah sosok yang sangat tangguh. Penghuni dunia ini kebanyakan tak memiliki akal, adapula yang menikmati kehidupan runyam ini, atau bahkan ada yang memiliki ambisi untuk dapat keluar dari dunia ini dengan mengumpulkan pasukan monster dan menerobos Gerbang Dunia. Sehingga, untuk makhluk suci seperti dryad, tinggal di dunia ini, apalagi dengan kutukan yang menempel di tubuhnya, dia pasti sangat tersiksa, baik raga maupun jiwanya.
__ADS_1
Maka dari itu, Veroa tak mempedulikan kulit Morgana yang tertutupi noda yang menjijikan, dia memegang tangannya sambil memperlihatkan tekad yang kuat.
“Telah diputuskan! Aku akan menyelamatkanmu, Nona Morgana. Entah kamu mengetahuinya atau tidak, apakah meskipun kamu tahu tetapi tidak ingin memberitahukannya padaku, aku akan tetap menyelamatkanmu”