Sistem Katalis

Sistem Katalis
Berandalan


__ADS_3

Tiga orang pemuda dengan baju lumayan lusuh tiba-tiba berteriak sambil mendatangi kursi, di mana Veroa, Rin, dan Luna sedang beristirahat. Hal itu membuat Luna terkejut dan sedikit ketakutan.


Melihat ini, Veroa segera berdiri dengan pandangan yang tertuju pada ketiga. Sorot matanya tajam bak mata elang yang sedang mencari mangsa di atas awan, membuat bulu kuduk ketiga pemuda itu saat melihatnya segera berdiri. Tapi, mereka mengabaikan naluri tubuhnya yang merespon pada bahaya yang ada di depannya.


“Apakah ada masalah?” tanya Veroa dengan memperlihatkan ekspresi wajah yang sedang mengintimidasi, ekspresi yang suram. Beruntung dia membelakangi adiknya, sehingga dia tak melihat ekspresi yang mengerikan seperti ini.


Tubuh ketiga pemuda itu semakin tak tahan dengan intimidasi yang diberikan oleh Veroa. Tubuh mereka menggigil, gemetar tak karuan. Tubuhnya telah diluar kendali. Mereka hanya bisa menggerakkan bola mata saja seakan mengisyaratkan untuk berbalik pergi dengan wajah pucat dan berkeringat dingin yang tak terbendung.


Lima detik yang sangat lama dalam suasana tegang, ketiga pemuda itu akhirnya dapat bergerak lagi. Mereka meringis ketakutan sambil berlari dengan kencangnya seolah melihat hantu yang sangat menyeramkan.


Orang – orang yang melihat tingkah aneh mereka hanya mengangkat sebelah alis yang dilanjut dengan menggelengkan kepala.


Luna dan Rin merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi, karena keduanya tadi menutup mata, merasa terkejut sekaligus sedikit ketakutan dengan teriakan pemuda sebelumnya.


Waktunya memang singkat, namun bagi ketiga pemuda tadi, seperti berada dalam jurang yang sangat dalam dan mereka sedang jatuh ke dalamnya.


“Apa yang baru saja terjadi, Ver? Ada apa dengan mereka?” tanya Rin setelah Veroa membalikkan badannya kembali ke arah keduanya.


“Iya Kak, kok mereka tiba-tiba saja berlari?” ucap Luna menambahkan.


“Ayo, kita harus segera pulang” ujar Veroa mengajak keduanya untuk segera pulang, karena nalurinya mengatakan bahwa bila mereka berlama-lama di luar istana, sesuatu yang merepotkan dan berbahaya akan terjadi. Selain itu, dia juga mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Tapi...


“Iiih... jawab dulu Kak!”


...

__ADS_1


Di sebelah selatan kota, sebuah bangunan bertuliskan “Panti Asuhan” pada papan yang menggantung di depannya mengeluarkan suara yang berisik dari dalam ruangan. Biasanya, panti asuhan berisikan anak-anak kecil yatim piatu dan setidaknya terdapat seorang pengurus panti. Tapi, bila kita melihat ke dalam bangunan yang berkedok panti ini, di dalamnya


bukannya anak-anak yang akan kamu temukan, melainkan sekumpulan pria berandal yang sedang bersenang-senang meminum arak, seperti sedang merayakan kemenangan atau sesuatu seperti itu.


Tiba-tiba, pintu dibuka dengan keras. Tiga orang pemuda yang diyakini bersekutu dengan mereka masuk sambil terengah-engah. Wajah ketiganya pun pucat.


Hal itu mengundang perhatian mereka. Mereka terkejut saat melihat rekannya, ketiga pemuda itu terlihat berantakan (meskipun memang berpenampilan berantakan), bila dilihat dari raut wajahnya.


“Kalian berdua, apa yang telah terjadi?” tanya salah seorang dari mereka sambil berjalan mendekati ketiganya yang masih terengah-engah di dekat pintu, yang lain turut mengikuti.


Mereka pun menceritakan, apa yang baru saja menimpa mereka. Membayangkan kembali bagaimana perasaan saat mereka ditatap oleh mata yang terlihat mengerikan, membuat jiwanya hampir terlepas dari raga, berusaha kabur dari kejadian itu.


Mereka yang mendengarkan ada yang tertawa, merasa aneh, sedangkan pemuda yang bertanya tadi, pemimpin dari sekelompok berandalan ini segera menanggapinya dengan serius.


Dia menjadi pemimpin bukan karena dia kuat dan hebat dalam perkelahian, namun dia cerdik dalam menangani berbagai masalah. Hal itu, membuat dirinya mendapat kepercayaan dari rekan – rekannya dan ditunjuk sebagai pemimpin komunitas kecil ini.


Rekan – rekannya yang lain pun mengangguk. Darah mudanya membara, menyerukan balas dendam untuk ketiga rekannya. Ketiga pemuda tadi merasa terharu. Perasaan takut segera digantikan dengan semangat


membara.


Dengan sedikit memberikan arahan dan rencana singkat dari pemimpin komunitas, mereka pun segera pergi untuk memberikan pelajaran.


...


Istana bertempat di sebelah utara kota, sedangkan saat ini Veroa, Rin, dan Luna masih berada di sebelah barat daya kota, masih lumayan jauh untuk dapat kembali. Memerlukan sekitar tiga puluh menit untuk sampai dengan berjalan kaki.


Veroa telah membujuk keduanya untuk segera kembali, namun Luna yang mengajak Rin untuk melanjutkan mencari hal-hal yang menarik yang ditawarkan para pedagang tak menghiraukan bujukannya.

__ADS_1


“Hey, ayolah Dek. Kita pulang saja yuk”.


Rin hanya tersenyum melihat tingkah pasangan kakak-beradik itu yang sangat dekat. Dia membayangkan, bagaimana jadinya bila dia dapat sedekat itu. Perasaannya melambung ke atas awan. Tanpa sadar, dia berpisah dari Veroa dan Luna, karena terlalu asyik dengan lamunannya.


Berjalan dengan pikiran kosong, saat tersadar, dia ternyata telah terpisah dengan Veroa dan Luna. Jalanan saat ini masih dipenuhi oleh orang – orang asing dari luar. Dia pun melihat sekilas pakaian yang sedang dipakai, mirip dengan pemuda yang berteriak sebelumnya.


Bagaimanapun, pakaian mereka seragam. Jadi, Rin dapat dengan mudah mengingat kejadian singkat itu. Dia segera merasakan firasat buruk saat melihat ekspresi para pemuda yang sedang berjalan di jalur yang sama dan ke arahnya. Saat pemuda yang berteriak itu melihat perempuan yang berhubungan dengan pemuda sebelumnya, dia pun berteriak kepada rekan –


rekannya untuk mengejarnya. Rin pun segera menyadarinya dan turut berlari ke arah berlawanan.


Seperti seekor kelinci putih yang imut sedang dikejar oleh sekawanan hyena. Kecepatan lari Rin memang terbilang cepat bila dibandingkan dengan kebanyakan perempuan, tapi yang mengejarnya adalah laki-laki. Dari stamina, kecepatan, dan ketahanan tubuhnya pun jelas


memiliki perbedaan.


Seberapa keras pun Rin berusaha untuk berlari dengan sangat kencang, namun para pemuda yang mengejarnya semakin dekat dapat menggapai dirinya.


Orang – orang yang menyaksikannya tak menghiraukannya. Tak ada yang berusaha untuk membantunya, atau setidaknya dari sorot matanya tersirat perasaan ingin membantu. Tapi, mereka tak terlihat adanya sorot mata yang berkeinginan untuk membantu, bahkan meskipun itu hanya sedikit.


lancar sudah pengejaran ini. Dalam waktu kurang dari tiga menit, Rin pun akhirnya berhasil ditangkap oleh salah seorang pemuda.


Melihat wajah cantiknya Rin, apalagi bentuk tubuhnya yang baru saja tumbuh dan masih berada dalam pertumbuhan yang subur, para pemuda itu segera terpikat. Gairah mereka bergejolak dan darah mudanya semakin membara. Ekspresi mereka terlihat jelas menyiratkan keinginan mereka, Rin jadi merasa semakin takut. Takut mereka hendak mempermainkan tubuhnya, takut kesuciannya diambil oleh para


berandalan ini.


Dia tak dapat melakukan apa-apa. Tangannya telah dikunci untuk tak dapat melakukan pergerakan yang aneh – aneh. Dia berteriak pun sia-sia, orang – orang menutup telinga dan tak memedulikannya. Meronta-ronta, hanya menghabiskan tenaga.


“Ver, maafkan aku...” hanya itu yang dapat dilakukannya, meminta maaf pada orang yang dicintanya bahwa kesuciannya akan segera diambil orang. Harapannya, Veroa datang membantu, tapi dia tidak ingin orang yang dicintainya terluka akibat menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


Dia pun menutup mata saat tubuhnya dipanggul oleh pemuda itu dan dibawa oleh mereka ke tempat yang tak diketahuinya.


__ADS_2