Sistem Katalis

Sistem Katalis
Pemukiman Goblin


__ADS_3

    Hutan begitu gelap, selain jarak pepohonan yang cukup berdekatan, lebatnya dedaunan menjadi faktor utama yang menghalangi sinar matahari. Namun, tak segelap waktu malam hari, sedikitnya jarak pandang dapat melihat adanya binatang melata kecil yang merayap di batang pohon, untuk orang normal memang seperti itu. Kelima indera yang dimiliki Veroa lebih tajam setelah mendapat hukuman dari Dewa beberapa kali lipat. Dalam keadaan yang cukup gelap ini, dirinya dapat menerobos pandangan dalam kegelapan cukup jauh. Malam sekalipun, dirinya masih dapat melihat dalam radius yang cukup untuk dirinya dapat berjalan di kegelapan malam yang tanpa pencahayaan.


    Dia telah cukup jauh berjalan kaki, tak berlari karena dia harus memperhatikan sekitar untuk mencari adanya sumber air minum. Tenggorokannya semakin terasak kering, suaranya lebih serak dibanding sebelumnya, sehingga dia memutuskan untuk diam selama dirinya belum meminum air. Sebetulnya, beberapa rumpun bambu telah dilewatinya, tapi tak ada yang muda dan air minumnya telah kering.


    Secercah harapan muncul, pendengarannya menangkap samar suara tetesan air. Belum dapat ditentukan dari mana arahnya, tapi dirinya tetap merasa senang karena akhirnya akan segera membasuh kekeringan dalam tenggorokannya.


    Dalam kondisinya saat ini, sulit untuk berkonsentrasi seperti yang biasanya dirinya lakukan. Tapi, dirinya tak kehilangan langkah. Setelah memahami dasar-dasar sihir, apalagi dia juga memiliki pengetahuan tentang filosofi sihir, cikal bakal terciptanya setiap mantra sihir di dunia ini, dia dengan mudahnya mengaktifkan sihir yang belum pernah diketahuinya. 


Dengan angin sebagai perantara, dirinya dapat membentuk gelombang infrasonik yang dapat meraba seluruh permukaan benda. Apapun yang dilewatinya, dirinya dapat mengetahui secara singkat benda – benda apa itu. Gelombang infrasonik ini menyebar ke seluruh wilayah di sekitarnya, segala hal yang dilewatinya dirinya mengetahui sebagian kecil nama-namanya.

__ADS_1


    Saat gelombang infrasonik itu merasakan sentuhan air, saat itu pula Veroa bergerak menuju lokasi yang dirasakannya, di mana air itu berada. Dirinya menyadari setelah berlari hendak menuju lokasi, dirinya merasa telah melakukan kesalahan dengan memberikan harapan tinggi pada air yang masih belum diketahui apakah dapat diminum atau tidak. Dia hanya bisa menghela napas setelah menyadari hal itu, namun dia malah tersenyum, merasa kondisinya saat ini dapat dijadikan sebagai pengalama berharga. Bagaimana memperlakukan sesuatu, agar nantinya tak membuat diri sendiri putus asa atau menyesal, begitulah apa yang didapatnya dari kondisinya saat ini.


    Air menetes dari mahkota bunga yang sepertinya dapat hidup dalam leingkungan yan ggelap. Meski tak ada cahaya, tapi sedikitnya ada cahaya yang sulit untuk dilihat oleh kasat mata dan tertangkap oleh tetesan air itu, membuatnya terlihat sangat jernih. Tak menunggu apa-apa lagi, setelah menemukan air jernih itu, dia menarik tangkai bunganya yang membuat mahkota bunga yang berisi air itu bagai cawan emas yang digunakan untuk minum. Mahkota bunga itu memang berwarna emas, andai ada cahaya yang memadai, mungkin dia akan terlihat lebih mengkilap.


    Beberapa tegukan terdengar, tenggorokan yang terasa kering kini telah terobati. Dia merasa lega, pikirannya terasa lebih santai kembali. Pandangan mata dan pendengarannya sekarang lebih tajam lagi. Terbukti, suara serangga kecil yang seharusnya terdengar sama, dia dapat mendengarnya dengan jelas. Jarak pandangnya memang tak meningkat banyak, tapi dia dapat melihat lebih jelas pemandangan alam ini yang ternyata bila diperhatikan, tak peduli dengan kegelapan, hutan ini indah menyejukkan pandangan.


    “Diingat-ingat lagi, aku datang dari arah Timur Laut, berarti aku harus bergerak ke arah Timur untuk dapat pulang” dia memperkirakan arah geraknya, tak peduli posisinya saat ini berada, yang terpenting bergerak ke arah Kota Tungsten.


    Saat dirinya berlari, jauh di hutan sebelah kirinya terdengar seperti adanya keramaian. Merasa penasaran dengan suara yang ditangkap oleh pendengarannya, dia berbelok arah dan berlari menuju arah suara ramai itu.

__ADS_1


    Tak terlalu lama dirinya berlari dengan kecepatan konstan, dia melihat sebuah pemukiman di depan sana. Bukan pemukiman yang dihuni oleh manusia ataupun yang lainnya, melainkan monster goblin, makhluk yang mirip manusia dengan kulitnya berwarna hijau dekil, wajah jelek, perut kebanyakan buncit, wajah tirus dengan hidung mancung yang tak sebanding, kurus pula. Pakaiannya, hanya kain kotor yang penuh robekan menutupi area tubuh bagian bawah, mereka semua berpakaian seperti itu. Beberapa goblin yang dilihatnya membawa pentungan kayu di genggaman tangannya, ada pula yang memegang panah yang terus mengawasi area sekitar pemukiman.


    Dari arah Selatan pemukiman, sepertinya di sana ada gerbang masuk. Dia melihat sekitar tiga puluhan goblin sedang membawa tiga kurungan yang di dalamnya terdapat belasan gadis muda. Telah dapat dipastikan, mereka baru saja berhasil menjarah sebuah desa dan kemungkinan besar mereka membunuh penduduk desa selain gadis – gadis itu.


    “Sepertinya, aku perlu menjadi seorang pahlawan, meski kuyakin telah terlambat jauh, tapi setidaknya aku berhasil menyelamatkan mereka sebelum mereka diperlakukan tidak senonoh. Yah, goblin memang tak berakal, tapi nafsu birahi mereka tinggi dengan spesies manusia dan elf sebagai sasaran kesukaan mereka” honjou masamune telah siap digenggaman tangannya, dia hanya perlu menyusun untuk mengamankan para gadis, lalu membantai habis populasi goblin yang hidup di pemukiman itu.


    “Mungkin, memancing seekor binatang buas dan diadu-dombakan dengan mereka tak buruk juga. Bila pun mereka mampu mengatasinya, apakah perhatian mereka masih tertuju pada para gadis? Mari beraksi, honjou masamune!” dia lalu bergerak mencari binatang buas yang cocok untuk membuat mereka tersibukkan.


    Di Hutan Terbium, kebetulan sekali didominasi oleh binatang buas karnivora, dia juga selama perjalanan dapat merasakan banyak pasang mata yang menatapnya tajam. Tapi, tak ada yang berani menyerangnya, sepertinya binatang buas soliter memiliki insting bertahan hidup yang lebih tinggi dibanding binatang buas berkoloni bergantung satu sama lain, jadi insting bertahan hidupnya tak terlalu terasah, sebagai contoh serigala hutan yang dengan gegabah menyerang Veroa. Jelas sekali perbedaan kekuatan kedua kubu jauh sekali, tapi mereka tetap tak merasa gentar dengannya.

__ADS_1


    Kali ini, dia hendak mengusik salah satu binatang buas soliter, dia akan berpura-pura ketakutan dan membawa binatang buas yang sedang marah itu ke arah pemukiman para goblin. di dekat pemukiman ini, sudah pasti para goblin itu telah mengamankannya, tak mungkin ada binatang buas yang tanpa memiliki keperluan, mencari masalah dengan mereka. Jadi, dia mencari binatang buasnya sedikit berjarak dari area pemukiman goblin.


    Tak jauh dirinya berjalan mencari binatang buas, seekor macan loreng hitam yang tak mungkin macan yang sama dengan maca yang pernah dipukul oleh tinjunya sedang tidur di atas akar pohon yang besar, merambat secara liar. Ekornya melilit akar itu, sedangkan dirinya tidur dengan nyenyak tanpa takut saat bermimpi buruk akan terjatuh ke tanah. Saat dirinya merasakan adanya makhluk hidup yang mendekat, matanya terbuka.


__ADS_2