Sistem Katalis

Sistem Katalis
Sebuah Nasihat dari Seorang Teman


__ADS_3

    Di balik pintu jendela, gundukan dokumen dapat terlihat di atas meja, seseorang sedang membaca dan menuliskan sesuatu pada tiap-tiap dokumennya. Udara di ruangan itu tetap terasa segar, di pojok ruangan sengaja disimpan tanaman hias. Tanaman hias tiap hari secara teratur dirawat oleh pelayan, selama beberapa jam dibiarkan terkena sinar matahari.


    Saat salah satu dokumen yang baru dibaca olehnya, ekspresi matanya terlihat lebih serius. Dokumen yang dibacanya ternyata berupa laporan dari guild mercenary yang menyatakan bahwa salah satu duke dari Kerajaan Rome tercatat telah menyewa ribuan tentara bayaran. Duke yang dimaksudkan adalah Duke Arthemis yang merupakan salah seorang pangeran dari Kerajaan Rome. Mengingat Pangeran Mahkota masih dalam proses penobatan menjadi raja, sepertinya dia hendak melakukan kudeta lebih awal.


    Sudut bibirnya perlahan terangkat ke atas, dia merasa mendapat sebuah jalan untuk membantu pembalasan dendam seorang gadis yang ternodai.


    “Aku harus menemui ketua guild mercenary, untuk memastikan kebenaran itu” ucapnya seraya berdiri dan berlalu pergi tanpa berniat membereskan dokumen yang berserakan di atas meja dan lantai.


    Beberapa pintu telah dilewatinya, banyak pelayan yang berlalu lalang dan membungkukkan badan. Saat dia melewati taman istana, Vina menyerukan namanya. Ternyata, dia sedang bermain bersama kelinci yang telah diberikannya kemarin. Wajahnya terlihat lebih ceria, tak terlihat seperti merasa bosan atau apa seperti sebelum-sebelumnya.


    “Hai Vina, gimana kelincinya? Sepertinya kamu terlihat lebih ceria saat bermain dengannya, itu bagus” ucap Veroa, berhenti sejenak.


    “Iya Kak, makasih banyak hadiahnya. Vina sangat menyukainya” ucap Vina yang masih tetap bermain, tertawa dan menari bersama kelincinya di atas rumput.

__ADS_1


    Veroa menggelengkan kepala dengan pelan, lalu sedikit menorehkan senyum dan lanjut pergi keluar istana menuju tempat guild mercenary berada. Dia tak menggunakan kuda, karena dirinya merasa telah terbiasa berjalan kaki seperti di Dunia Terbengkalai. Apalagi, tak ada tugas atau sesuatu yang mepet, berjalan kaki sembari melihat-lihat barang dagangan di pinggir jalan juga menyenangkan. Apalagi, sesekali ada anak kecil yang nampak berlarian dikejar anak sebayanya. Membayangkan Vina yang berada di sana, tersenyum ceria bersama temannya sambil diawasi oleh ibunya, Veroa kembali tersenyum.


    “Sepertinya, aku harus mencarikan seorang suami untuknya, agar Vina memiliki sesosok ayah yang diimpikannya dan mungkin saja, dia juga akan mendapat seorang adik. Selain itu, Karina juga memang membutuhkan seorang pendamping, tak mungkin dia tetap menjomblo seumur hidup, ‘kan? Haha...” gumamnya pelan.


    Selagi dia berjalan, dia juga memperhatikan sekeliling. Berbagai macam orang dapat terlihat. Saat ini, dia memakai penutup kepala, tak ingin mencari perhatian dan inginnya dapat melihat jalanan kota dengan santai. Penyamarannya, meski tak terlalu bagus, tetap tak ada yang menyadari identitasnya. Selain diuntungkan karena keramaian, perhatian orang – orang juga banyak yang terfokuskan pada barang dagangan, bukan hanya pelanggan saja, para pedagang juga memperhatikan kedua sisi.


    Sebuah bangunan yang besar dengan papan bertuliskan “Guild Mercenary” sengaja digantungkan di depannya, banyak orang keluar-masuk yang membawa persenjataan lengkap. Inilah tempat yang ditujunya saat ini. Setelah melewati pintu masuk, dia tanpa menengok sana-sini, berjalan ke arah meja resepsionis.


    “Ah! Baik Tuan, akan saya sampaikan pada Guild Master” balas wanita itu, tak menunggu tanggapan Veroa, dia berbalik badan dan pergi ke ruangan Guild Master.


    Sembari menunggu, Veroa membalikkan arah pandangnya, melihat para mercenary yang ada di belakangnya. Dari segi perlengkapan, mercenary ini lebih mementingkan kualitas senjata dan pelindung badan, misalnya armor full-plate, tameng logam mulia, dan lain sebagainya. Perlengkapan yang dipakai merupakan perlengkapan yang berbobot besar. Ada yang berseragam untuk satu tim, ada yang mandiri, ada juga yang dalam satu tim sengaja dibuat bervariasi. Dia menyadari saat melihat sekeliling, di belakangnya kini berdiri seorang pria kekar yang didampingi wanita resepsionis tadi. Orang – orang pun kini memperhatikannya, karena bagaimanapun, dia adalah Guild Master. Sebelum tangan itu hendak menyentuh pundaknya, dia mendahuluinya untuk menyambutnya, “Yo! Weildar. Apa kabar, kawan?”


    Guild Master Weildar tak membiarkan tamunya tetap berdiri di depan meja resepsionis, dia segera mengajaknya untuk masuk ke ruang tamu yang dikhususkan bagi orang – orang tertentu dan ruangan itu memiliki beberapa mantra yang ditempelkan di setiap sudut ruangannya. Salah satu mantra itu memiliki fungsi untuk membuat ruangan ini terisolasi dari dunia luar, artinya apa yang terjadi di ruangan ini takkan ada yang dapat mengintip maupun mengupingnya bila berada di luar pengaruh mantra ini. Jadi, pembicaraan yang akan dilakukan akan benar-benar aman.

__ADS_1


    “Kuyakin, dirimu pasti telah mengetahui maksud dari kedatanganku” ucap Veroa memulai pembicaraan yang serius.


    “Hm... baiklah, akan kujelaskan, meski sebenarnya aku sendiri tak terlalu mengetahuinya secara rinci. Duke Arthemis berencana untuk melakukan kudeta. Dia tak memiliki pasukan pendukung yang banyak, untuk itulah dia banyak menyewa mercenary dari berbagai guild untuk membantunya mengacaukan acara penobatan Putra Mahkota. Tindakannya ini dilakukan secara diam-diam, pada dasarnya pihak guild master di cabang guild yang lain akan mengikuti permintaan klien, tapi kamu adalah temanku dan untuk laporan itu, aku menganggap dirimu bukan seorang bangsawan, melainkan seorang teman dan itu tak mengganggu permintaannya.” Jelas Guild Master Weilder panjang lebar sebatas yang diketahuinya.


    “Kau memang benar-benar temanku, terima kasih banyak untuk itu. Dengan sedikit informasi ini, kau telah membantu banyak, kawan tanpa dirimu kira. Kau juga tahu ‘kan, Karina yang mendapat julukan Red Baroness itu, salah satu orangku yang paling membenci orang ini. Maka, aku pun membencinya, apalagi setelah dia mengirimkan surat ancaman untuknya, aku semakin akan melangkah maju untuk menghancurkannya.” Ucap Veroa, berterimakasih dengan tulus pada pria itu.


    “Ahaha... tak perlu sungkan seperti itu, sebagai teman, hal itu bukanlah apa-apa” kata Guild Master Weilder sedikit melambaikan tangan kanannya, merasa dirinya tak terlalu membantu banyak dalam masalah temannya itu.


    “Tak perlu merendah seperti itu, dan lagi aku masih memerlukan bantuanmu. Mungkin, ini terkesan tak adil bagi klien, tapi kuyakin dirimu takkan membiarkan klienmu memanfaatkan pasukanmu untuk melakukan hal yang melanggar hukum, ‘kan? Apalagi sampai membuat kerusuhan yang nantinya orang – orang akan menyaksikannya. Kau harus lebih mempertimbangkannya lagi. Cobalah untuk tak terlalu menerima permintaan klien untuk melakukan suatu hal, tapi lihat juga konseksuansi yang akan didapat oleh guildmu.” Ujar Veroa sedikit memberikan nasihat sebagai kawan dan memberikan sedikit bayangan terkait dampak yang akan diterima setelah melakukan apa yang diminta oleh klien.


    Guild Master Weildar tersenyum mendengar ini, sepertinya dia baru menyadari satu hal yang penting dan dia telah melupakannya sejak lama setelah dirinya ditunjuk menjadi seorang guild master.


    “Terima kasih, kawanku. Kau telah membangunkanku dari tidur panjang. Aku baru mengingatnya kembali setelah sekian lama dan kupikir, bila aku tetap melupakannya, guild ini akan mengalami kemunduran untuk waktu yang sebanding dengan waktu melupakannya. Beruntung sekali!”

__ADS_1


__ADS_2