Sistem Katalis

Sistem Katalis
Mamah Muda yang Kasmaran


__ADS_3

    Matahari tertutupi awan, tapi posisinya masih menunjukkan bahwa saat ini waktu siang hari. Tak terlalu membuat daratan gelap, malah bagus bagi orang – orang, sinar matahari terlalu menyengat bila terus-menerus terpapar olehnya.


    Dalam arus bolak-balik banyak orang, Veroa berjalan dengan kepalanya yang masih sengaja ditutupi oleh kerudung. Wajahnya terkenal, dia memang seorang pemimpin, sudah pasti dapat menarik perhatian, apalagi sampai ada yang menyentuh-nyentuhnya dengan genit dari para wanita. Dia sebenarnya merasa terganggu, tapi apalah daya, dia tak mampu untuk menolaknya. Dengan cara ini, dia dapat menghindari itu semua. Pakaian yang tak mencolok dengan wajah yang tertutupi kerudung, dia dapat berbaur dengan orang – orang.


    Kota Tungsten memiliki luas wilayah yang tak jauh berbeda dengan kota – kota lainnya di Kerajaan Sylvani. Lokasi bangunan guild mercenary berada di pertengahan kota, sedangkan istana berada di ujung sebelah Barat. Berjalan kaki dari sana ke istana, tentunya memerlukan waktu yang lumayan lama. Dari yang awalnya dia pergi dari istana pada tepat saat matahari berada di atas kepala, kini telah bergeser belasan derajat.


    Pada posisi matahari yang sedikit mengalami perubahan rona dari sinarnya, saat itulah dia baru sampai di depan gerbang istana. Tak perlu repot-repot menggunakan tangannya, gerbang telah dibuka oleh para penjaga. Sampai pintu masuk ke aula pun, tetap ada yang membukanya, tetapi mereka para pelayan. Dia sungguh dimanja sebagai penguasa, padahal dia tak meminta mereka untuk melakukannya.


    Dia tak melupakan posisinya sebagai penguasa, sebelum memutuskan untuk masuk ke ruangan kerjanya, dia pergi ke ruangan kerja Karina, memeriksanya apakah dia bekerja terlalu berlebihan atau tidak.


    “Tuan Putri, sebentar lagi, orang yang kamu benci akan sirna. Setelah itu, aku sarankan, dirimu mencari seorang kekasih, agar Vina mendapat kasih sayang dari ayahnya, meski bukan ayah kandung”


    Mendengar dirinya mendapat sebuatan ‘Tuan Putri’ untuk yang kedua kalinya, dirinya merasa malu. “Tuan, jangan sebut aku seperti itu, malu tahu. Tapi, semoga saja ada yang mau menikahi gadis beranak sepertiku” katanya.


    “Ah... kau tak perlu merendah seperti itu, kuyakin banyak orang yang menginginkan dirimu. Toh, nyatanya kamu memang berparas cantik, takkan sulit mencari seorang suami yang sesuai kritariamu, kurasa”

__ADS_1


    Mendengar satu kata “Cantik” yang keluar dari mulut Veroa, wajah Karina perlahan timbul rona merah muda. Dia sebenarnya tak terlalu memikirkan kata itu, tapi tubuhnya tak terkendali, sedikit memanas dan membuatnya merasa gerah. Dia sedikit berkeringat sekarang, suhu tubuhnya meningkat.


    Veroa merasa aneh dengan sikap Karina, dia melihat wajah yang kian merona. Dia pikir, Karina sedang sakit. Dia pun menyentuhkan tangannya pada kening Karina secara tiba-tibad dan tangannya merasa sedikit panas dan lengket.


    “Kau sakit, Karina?” tanyanya, tangannya masih tetap menempel pada dahinya.


    Karina yang mendapat perlakukan seperti itu, pikirannya tak bisa tenang, malah melayang ke langit, sulit untuk dikendalikan. Dia sendiri tak terlalu mendengar ucapan Veroa. Seperti orang yang sedang melamun, matanya seolah menatap pada satu titik, nyatanya hanyalah sebuah pandangan kosong.


    “Kau memang benar-benar sakit. Istirahatlah! lupakan soal dokumen – dokumen sialan itu” dirinya merasa bersalah, karena memang dia salah paham.


    Memperhatikan wajahnya yang merah merona, dia pun berpendapat “Ya, kupikir kamu memang sedang sakit. Wajahmu terlihat memerah gitu, terus kulitmu terasa panas juga. Apakah kamu masuk angin?”


    “Eh... enggak-enggak, aku sehat kok, Tuan. Kalo boleh jujur, itu karena...” tak berani menatap balik Veroa, selain itu lidahnya tiba-tiba terasa kelu saat hendak mengutarakan perasaannya. Dia sadar, perbedaan usianya memang tak terlalu jauh, tapi dia telah ternodai, terlebih lagi Veroa merupakan atasannya.


    “Karena apa? Katakan saja, tak apa” Veroa merasa sedikit penasaran dengan alasan Karina yang memiliki gejala seperti orang yang sedang sakit, tapi dia tidak sakit. Jadi, dia sedikit memintanya untuk mengungkapkan apa yang ingin diucapkannya.

__ADS_1


    “Tapi, Tuan gak boleh menertawakanku atau lebih buruk lagi, jangan sampai melihatku dengan jijik ya...” Karina merasa takut bila nanti Veroa menjauhinya dan malah tak ingin melihatnya lagi.


    “Gak akan. Aneh juga kalo aku merasa jijik padamu. Toh, faktanya kamu orangnya baik, cantik pula. Tak ada alasan bagiku untuk merasa jijik saat melihatmu nanti” ujar Veroa apa adanya.


    Menarik napas dalam-dalam, setelah keberaniannya terkumpul, dia berkata “Aku, sepertinya menyukai Tuan. Setiap kali aku berada di dekat Tuan, hatiku terasa tenang. Beberapa saat yang lalu juga, hatiku terasa berbunga-bunga, mendengar pujian dari Tuan bahwa aku memiliki paras yang cantik. Aku menyimpulkan bahwa aku memang mencintai Tuan dan alasan wajahku merah merasa, adalah karena Tuan barusan memuji parasku, ‘kan?”


    “Ah... begitukah...” dirinya tak menyangka, seorang Red Baroness yang berperilaku tegas dan disiplin akan jatuh hati padanya. Tapi, hatinya telah ada yang memiliki, dia merasa bersalah padanya. “Dipikir-pikir lagi, ada baiknya memang dia menungkapkan perasaannya. Jadi, tak ada masalah yang terpendam nanti” pikirnya sebelumnya akhirnya, dia berkata dengan perlahan, “Seperti itukah... tapi, aku sungguh minta maaf, Karina. Bukannya kamu tak menarik, tapi aku telah mencintai seseorang. Aku tak mungkin mengkhianati perasaannya juga. Bila berjodoh, kita bisa saja bersatu, namun kemungkinannya kecil”


    Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan ucapannya, “Nyatanya, masih banyak kok, pria yang lebih dewasa dan lebih cocok untuk mendampingimu, melindungimu, dan mengurus Vina. Asalkan, hatimu lebih terbuka untuk seseorang itu, maka jodoh pasti akan segera bertemu”


    Hatinya terasa lega setelah mengungkapkan perasaannya, meski jawaban yang didapat bukan positif. Tapi, dia memang telah dapat menduganya dan tak mengharapkan lebih akan cintanya dibalas. Setelah menghelas napas panjang, dia berkata “Iya, aku tak berharap lebih sih. Semoga, ada yang mau menikahi gadis beranak ini”


    “Aku juga akan bantu mencari kok, tenang saja” setelah beberapa saat saling terdiam, Veroa teringat akan sesuatu. Dia pun kembali berkata, “Satu hal yang terlupakan, aku merasa lebih baik kamu dan Vina tak ikut ke Kerajaan Rome. Tapi, akan kuusahakan untuk membawanya ke sini untuk mendapat hukuman lanjutan setelah aku melancarkan rencanaku”


    “Iya, kupikir juga begitu, mestinya Vina akan kecewa karena tak dapat ikut ke sana dan dipikir-pikir, aku dapat mengajaknya kapan-kapan. Tentang pria itu, aku menunggu kabarnya saja nanti” wajahnya tak terlihat sedikitpun berekspresi kecewa, tapi hatinya bisa saja berbeda.

__ADS_1


    “Iya, kita kapan-kapan dapat liburan ke sana” Veroa berusaha untuk menghiburnya, meski tak berefek. “Kalau begitu, kamu beristirahatlah dulu, kita telah mengobrol terlalu lama. Aku juga, masih ada yang perlu kulakukan” dia tak segera pergi ke ruang kerjanya sebelum memastikan Karina benar-benar beristirahat.


__ADS_2