
Veroa nyatanya tetap pergi meski telah dibujuk beberapa kali oleh Guild Master Alfrederic. Tak ada pilihan lain, dia juga mengerahkan cukup banyak para petualang yang berpengalaman. Dia sendiri juga akan ikut dalam rencana Veroa yang katanya besok pagi dia hendak mulai menyelesaikan masalahnya.
Veroa kini seperti pimpinan rombongan para petualang yang hendak melakukan penaklukan labirin yang nyatanya, mereka mengikuti Veroa atas suruhan Guild Master Alfrederic untuk membantu Veroa dalam menyelesaikan masalahnya bersama dirinya. Veroa tak menolak hal itu, justru dia merasa senang, karena mereka akan menyaksikan kehebatannya dalam bertarung.
Atas bimbingan arah dari dua orang pengintai yang telah melaksanakan tugas pengintaian terkait monster chimera kemarin, mereka tak terlalu sulit untuk menemukan lokasi monster itu berada saat ini yang sudah pasti telah berpindah tempat, meski diperkirakan takkan jauh sampai keluar dari perbatasan hutan ini.
Melihat beberapa jejak yang dikenalinya terkait monster chimera, kedua pengintai itu mengangguk dan memberikan gerakan isyara kepada semuanya untuk mulai meningkatkan kewaspadaan.
Setelah cukup jauh mereka berjalan mengikuti jejak yang ditinggalkan chimera, akhirnya telah mulai ada tanda-tanda aura kegelapan yang masih tertinggal bekas aura kegelapan yang terpancar dari tubuh besar chimera. Mereka semua semakin meningkatkan kewaspadaannya, mereka takkan tahu apa yang akan menimpa mereka dalam waktu dekat ini.
Veroa yang telah merasakan keberadaan monster chimera itu semakin dekat, dia mengangkat tangannya untuk menghentikan langkah kaki semuanya. Dia merasakan aura kegelapan dari atas. Pandangannya segera diarahkan ke arah asal aura kegelapan itu dirasakan olehnya, orang – orang pun turut mengikuti. Mereka ikut melihat ke atas dan betapa terkejutnya mereka hingga rahang bagian bawah kebanyakan orang hendak copot, melihat betapa besarnya chimera yang satu ini dengan aura kegelapan yang senantiasa menyelimuti tubuhnya. Semua orang segera sadar dari keterkejutan sebelum mereka menjauh dari posisinya saat ini.
Para petualang ini memang berpengalaman. Nyatanya, mereka melihat monster chimera saat sedang melesat dari atas ke arah tempat mereka berdiri sebelumnya, bukan takut hingga kesulitan bergerak, melainkan mereka segera menghindari serangan itu. Sudah jelas, mereka telah banyak berada dalam kondisi yang berpotensi nyawanya terambil, sehingga pikiran mereka dalam tekanan seperti itu tetap terkendali.
__ADS_1
Berbeda dengan Veroa, dia tetap berdiri di posisinya saat ini yang mana termasuk ke dalam radius serangan monster chimera. Semua orang tentu merasa terkejut, dalam pikiran mereka apakah saking ketakutannya Tuan Kota membuatnya kesulitan bergerak. Namun, mereka takkan memiliki waktu untuk bergerak menyelamatkannya.
Guild Master Alfrederic sendiri merasa dirinya terlalu mementingkan diri sendiri, sehingga tak memperhatikan bahwa Veroa tak bergeming saat satu tempatnya berpijak akan terkena dampak serangan monster chimera itu.
Namun, para pengintai yang memang memiliki pandangan yang lebih terlatih, tingkat ketelitian mereka lebih tinggi dari yang lainnya, termasuk Guild Master Alfrederic sendiri. Ekspresi wajah mungkin orang – orang juga tahu, bisa saja menipu orang – orang yang melihatnya. Tapi, tubuh yang bergetar saat merasa panik dan ketakutan adalah hal yang berbeda, takkan ada orang yang mampu mengendalikannya dalam kondisi seperti itu. Mereka tak melihat sedikit pun organ tubuh motorik Veroa yang bergetar meski sedikit saja, biasanya meski ditahan sekali pun, jari tangan akan menunjukkan kebenaran. Tapi, mereka tak menemukan adanya getara pada jari tangannya. Itu menunjukkan bahwa Veroa tak sedang merasa ketakutan maupun panik dengan ekspresi wajahnya yang sesuai, memandang monster chimera yang sedang menuju ke arahnya dengan ekspresi datar.
“Tuan Kota, menghindarlah dari sana!!!” Guild Master Alfrederic berteriak cukup keras hingga Veroa menolehkan pandangannya padanya sekilas dengan menorehkan senyuman.
Saat chimera itu menghantam di tempat Veroa berdiri sebelumnya, sebuah ledakan yang cukup kerasa terjadi hingga menimbulkan kekacauan pada area di sekitar. Pepohonan ada belasan yang tumbang dengan batangnya ada yang terpotong, ada juga yang masih utuh dengan akarnya yang tercabut. Dedaunan menari di udara bersama butiran tanah yang selama beberapa saat menutupi pandangan para petualang untuk dapat melihat kondisi Veroa yang mereka pikir sudah pasti tak ada harapan untuk keselamatannya.
Salah seorang dari para pengintai tak sengaja melihat kondisi Veroa yang masih hidup, malahan terbilang sehat. Yang mengejutkannya lagi hingga beberapa saat itu lidahnya terasa kelu ada Veroa yang sekilas dirinya lihat sedang mengupil sambil salah satu tangannya menahan kaki yang besar dengan cakarnya yang tak perlu dikatakan lagi, dia terlihat begitu santai dalam kondisi seperti itu.
“Tuan Kota masih hidup!” setelah cukup waktu untuk dirinya menenangkan pikirannya, dia akhirnya berteriak memberitahu yang lainnya.
__ADS_1
Benar saja, setelah waktu berlalu, debu-debu tertiup angin, sehingga tempat yang mendapat dampak hantaman monster chimera itu perlahan terlihat. Betapa terkejutnya mereka melihat monster chimera yang berusaha menekankan kakinya pada Veroa yang sedang menahannya dengan santai di bawah kakinya yang begitu besar.
Setelah merasa cukup memberikan sedikit pertunjukkan, akhirnya Veroa bergerak. Hanya dengan dorongan tangannya sedikit, monster chimera termundur dan hampir terjatuh tak terkendali. Lalu dia melanjutkan dengan gerakan berikutnya yang mengejutkan semua orang. Gerakannya sulit ditangkap oleh mata, namun mereka melihat kembali saat Veroa kini berada di atas kepala chimera itu dengan posisi yang siap melepaskan jari tenganhnya yang ditahan ibu jarinya. Setelah dirasa orang – orang telah melihatnya dengan jelas, dia melepaskan jari tengahnya hingga memberikan pukulan keras pada kening chimera.
Monster itu berteriak kesakitan, keningnya begitu sakit karena Veroa memberikan sentakan jari tengah yang cukup kuat untuk memberikan benjolan pada keningnya itu sampai terlihat adanya asap.
Veroa tidak berniat melukainya dengan serius, apalagi sampai membunuhnya. Dia merasa akan menyayangkan bila makhluk yang cukup langka ini dibunuh begitu saja, sedangkan monster ini sedang kerasukan sesuatu.
Sebelum chimera itu dapat melakukan perlawanan, dia segera membuatnya tertidur pulas dengan menggunakan sihir ilusi yang secara langsung menyerang mental. Tapi, itu hanya membuat kesadarannya berada dalam mimpi yang akan muncul secara acak, takkan sampai melukai jiwanya. Nyatanya, meski diselimuti oleh aura kegelapan yang membuat terjadinya mutasi pada tubuhnya hingga menjadi sebesar ini, saat monster chimera itu tertidur pulah, dia tetap terlihat imut dengan rambut-rambut halusnya yang begitu tebal.
“Kasihan sekali dirimu... tapi tenang saja, aku akan segera membebaskan jiwamu dari pengaruh energi kegelapan ini”
Dia lalu melakukan gerakan seperti seseorang yang sedang mengumpulkan sesuatu. Aura kegelapan yang menyelimuti tubuh monster chimera perlahan bergerak menuju kedua tangannya, lalu berkumpul di sana hingga terbentuk gumpalan aura kegelapan yang dari berukuran kecil hingga membesar seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
Tak perlu sampai berjam-jam bagi Veroa mengumpulkan aura kegelapan itu hingga habis tak bersisa di tubuh monster chimera, dia lalu memadatkannya hingga sekecil batu kerikil dan menyimpannya ke dalam saku pakaiannya.
Sayangnya, tubuh chimera yang telah bermutasi itu tak mengalami perubahan, entah itu adalah hal yang baik atau buruk, belum ada yang mengetahuinya.