Sistem Katalis

Sistem Katalis
Hadiah yang Tepat


__ADS_3

    Menurut pria yang mengaku sebagai pemimpin komunitas ini, katanya pendiri Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh ini telah mengorbankan diri untuk menolong malaikat yang diyakini telah dicabut statusnya sebagai malaikat. Malaikat yang dimaksud di sini adalah Aluna, dia dulu memang sempat terluka akibat dijebak oleh sekelompok makhluk misterius. Lalu, komunitas yang dulunya merupakan sebuah perkumpulan para penolong, mejadi perkumpulan orang – orang fanatik. Aluna yang tak sadarkan diri terus-menerus dikendalikan oleh aura ungu tanpa ada yang mengetahui selain Veroa. Sedangkan mereka tak mengetahui bahwa Aluna sebelum kejadian lalu, dia merupakan malaikat agung yang tak sepatutnya disebut sebagai malaikat jatuh.


    “Apakah orang yang dimaksud oleh pria ini, pengorbanan yang bertujuan untuk menolong Aluna? Tapi, apakah dengan mengorbankan hidupnya, Aluna dapat sembuh begitu saja dari luka yang katanya sangat parah itu? Terlebih, Aluna dalam kondisi sadar sepenuhnya takan setuju dirinya disembuhkan dengan mengorbankan nyawa manusia.” Veroa merasa yakin dengan penilaiannya terhadap karakter yang dimiliki oleh Aluna hanya dengan melakukan kontak mata dan gaya pembicaraan beberapa waktu lalu.


    “Nona Aluna, saya memohon beberapa patah kata dari anda” ucap Veroa setelah mempertemukan orang yang mengaku sebagai pemimpin komunitas ini dengan Aluna.


    “Baik, Tuan Veroa. Sebagai penjelasan awal dan meluruskan kesalahpahaman ini, aku akan mengatakan kepadamu bahwa sebelum aku dipuja oleh kalian, aku bukanlah malaikat jatuh...” Aluna menjelaskan ingatannya sebelum aura jahat yang dirinya yakini berasal dari pengorbanan pendiri komunitas ini yang saat itu masih terluka, mendengar maksud dan tujuan orang itu berkorban. Aura ungu itu jelas berasal dari pengorbanannya dan jiwanyalah yang mengendalikan tubuh Aluna selagi dirinya yang saat itu terluka tak berdaya.


    Setelah itu, giliran pria itu yang menjelaskan kegiatan yang selama ini Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh lakukan dan apa yang diketahui oleh pemimpin itu tentang tujuan didirikannya komunitas ini. Apa yang dikatakan dan diketahui oleh pria itu ternyata berbeda dengan yang telah diutarakan oleh Aluna. Yang berarti, selama ini pria yang mendirikan komunitas inilah yang telah memanipulasi segalanya sampai-sampai berani memanfaatkan malaikat agung seperti Aluna untuk ambisinya.


    Sekarang, Aluna bukan lagi malaikat agung dan dia resmi menjadi malaikat jatuh, berakhir menjadi seperti manusia. Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh pun kini berubah haluan kembali menjadi perkumpulan penolong yang dipimpin oleh pria sebelumnya. Veroa sengaja tak mempermasalahkannya lebih lanjut, karena toh ini hanya kesalahpahaman dan yang bersalah hanya si pendiri komunitas ini, hanya untuk memenuhi ambisi pribadinya hingga mengorbankan segalanya, termasuk raganya.

__ADS_1


    Kini, mereka kembali ke Kota Tungsten setelah berpamitan dengan perkumpulan penolong itu. Matahari pun sebentar lagi akan segera tenggelam, rona jingga begitu indah dipandang.


    Meski tak ada korban jiwa, namun banyak yang terluka. Perjalanan kembali ke Kota Tungsten akan dua kali lebih lambat dari sebelumnya. Selain itu, Aluna yang memiliki fisik yang dapat dikatakan lemah, cukup untuk menghambat perjalanan. Meski begitu, orang – orang telah mengetahui identitasnya yang merupakan mantan malaikat agung, tak ada yang memiliki nyali untuk berbuat tak sopan terhadap makhluk agung sepertinya, meski telah menyandang status malaikat jatuh. Pesonanya memang tak turun.


    Veroa beberapa kali menawarkan diri untuk menggendongnya, karena khawatir dia terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Namun, Aluna berkata bahwa dia tak ingin merepotkan dirinya. Padahal, dia sungguh merepotkan semua orang, beruntungnya tak ada yang merasa keberatan dengan itu. Sampai malam pun, jarak menuju Kota Tungsten masih setengahnya, sedangkan mereka telah beberapa kali beristirahat dalam jangka waktu yang cukup dekat.


    Api unggun menerangi malam di hutan, cukup membuat udara di sekitarnya menjadi terasa hangat, mengalahkan udara dinginnya malam. Ditemani dengan daging bakar hasil buruan yang masih segar, dan juga alkohol membuat suasana malam yang seharusnya terasa dingin dan mencekam itu malah terasa hangat.


    Veroa dan Aluna duduk berdampingan di atas batang pohon yang telah tumbang, menghadap ke arah salah satu api unggun yang telah dibuat. Veroa cukup terhibur dengan tingkah para petualang maupun prajurit yang menyatu dan bersenang-senang, terlihat begitu akrab. Dia berpikir, ada baiknya bila diadakan sebuah acara tahunan yang dapat meningkatkan kedekatan kedua kubu ini, agar suatu waktu mereka dapat bekerja sama saat bertempur di medan perang.


    “Iya, ada apa Tuan Veroa?” Aluna juga menjawab tanpa menoleh ke lawan bicara, tangannya sama memutar-mutar batang kayu yang dibuat serapi mungkin dengan daging yang.sedang berada di atas perapian.

__ADS_1


    “Um... Apakah anda tak merasa marah kepada mereka? Setidaknya...” mengungkit masalah ini, Veroa merasa ragu untuk dilanjutkan. Dia berpikir, topik untuk pembicaraan yang baru saja dibuka olehnya terlalu sensitif.


    “Enggak kok, orang yang harusnya bertanggungjawab juga bukan mereka, melainkan dia yang telah memberikan kutukan itu padaku” jawab Aluna dengan nada ringan, seolah tak mempedulikan nasibnya yang telah berubah secara drastis, bagai mimpi yang telah diraih lalu turun dari langit dan menghantam tanah.


Harusnya, dia akan merasakan gejolak campuran perasaan akibat takdir yang menimpa dirinya, tapi Aluna ini... pikir Veroa, merasa sangat terkesan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Aluna padanya. “Apakah kau marah juga padaku yang telah memotong sayapku?” Rasa penasarannya tetap mendorongnya untuk menanyakan hal ini sekali lagi. Namun, hasilnya tetap sama, Aluna menerima segalanya dengan lapang dada.


Malam itu, hampir semua orang mabuk dan tak sadarkan diri. Aluna telah tidur, sebagian orang yang masih terjaga ada yang memutuskan untuk berkeliling di sekitar untuk memastikan keamanan, ada juga yang mengisi kekosongan itu dengan bercanda ria untuk mempertahankan kehangatan malam, meski api mulai padam. Dini hari ini, angin berhembus, cukup kencang dan terasa semakin dingin.


Veroa duduk bersandar di bawah pohon, dia memeriksa statusnya yang mulai dari saat dirinya keluar dari masa hukuman dari Dewa sampai sekarang belum mendapat kenaikan kekuatan secara besar-besaran. Hanya satu atau dua poin saja yang bertambah, itupun pada kekuatan serangan, kecepatan, dan stamina. Tapi, dia tak mempedulikan hal itu terlebih dahulu dan beralih ke kolom Tugas yang memunculkan pemberitahuan.


“Tugas selesai? Dan tugas baru!” ujarnya dalam hati. Menghiraukan tugas baru itu, dia menyentuh layar tugas yang berlabel selesai yang berkaitan dengan Komunitas Pemuja Malaikat Jatuh, dan melihat rinciannya. Bukan ingin melihat deskripsi tugas atau lain-lain, pandangannya segera tertuju pada kolom hadiah. Hadiah dari penyelesaian tugas ini adalah malaikat yang berjodoh; aura suci; dan sayap malaikat agung (dapat digabungkan dengan tubuh).

__ADS_1


Melihat hadiahnya, dia memerlukan waktu yang cukup lama untuk segera tersadar dari lamunannya. Dia baru saja terlepas pandangannya dari hadiah sayap malaikat agung. Bukan berkeinginan untuk digabungkan dengan tubuhnya, tapi dia merasa perasaan bersalahnya akan segera terhapuskan dengan adanya hadiah ini.


“Hehe... aku akan membuatnya terkejut nanti...”


__ADS_2