Sistem Katalis

Sistem Katalis
Kecantikan yang Tertutupi Awan


__ADS_3

    Seorang perempuan yang memancarkan aura cahaya yang jahat kini sedang berhadapan dengan Veroa. Wajahnya nampak anggun dan mempesona, tapi anehnya malah nampak mengerikan bukannya menggoda lawan jenis. Saat kelopak matanya terbuka, matanya menampilkan iris yang berwarna ungu yang begitu mengintimidasi.


    Veroa sempat menaikkan kedua alisnya saat merasakan aura jahat itu, terlebih dia merasa kurang nyaman dengan tatapan mata perempuan itu. “Apakah kau pemimpin komunitas ini?” Tanya Veroa setelah saling tatap cukup lama. Dia tak terlalu mewaspadai perempuan di depannya, selain yakin dengan kekuatan diri sendiri, dia juga memiliki pengalaman puluhan tahun melawan monster – monster kuat bahkan sampai ratusan ribu lebih. Terlebih, yang paling mengejutkannya adalah dulu sewaktu di Dunia Terbengkalai, dia melawan Raja Iblis dan berakhir dirinya terluka parah. Namun, merasakan aura jahat yang tak terlalu pekat, sangat jauh bila dibandingkan dengan aura yang serupa milik Raja Iblis, dia merasa tak perlu meladeninya dengan serius.


    Satu kedipan mata, sebuah cakar yang terbuat dari cahaya ungu hampir mengenai matanya. Beruntung, dia dapat bereaksi dengan cepat dan segera bergerak mundur. “Oy! Serangan dadakanmu kurang mendadak. Terlebih, kau tak sopan ya, main serang saja. Meski memiliki aura yang mirip dengannya dan nampak jauh lebih lemah, tapi kau begitu sombong. Setidaknya, sikap orang yang lebih kuat itu lebih terdidik dan kuno dibanding dirimu” setelah mundur tak terlalu jauh dan tak memalingkan perhatian, dia berusaha memancing perempuan itu untuk merasa penasaran dengan ucapannya. Setidaknya, dia ingin membuat pertarungan yang cukup menarik.


    Nyatanya, perempuan itu tak mempedulikannya dan kini, muncul empat sayap berwarna hitam dengan bulu – bulunya yang sebagian beterbangan oleh angin. Diikuti dengan aura jahatnya yang bertambah hampir lima kali lipat aura awalnya, hampir setengah kepekatan dari aura Raja Iblis. Namun, Veroa merasakan sesuatu yang cukup berbahaya dari keempat sayapnya.


    Dari matanya memancarkan rona ungu gelap yang mengintimidasi, tangannya diangkat ke arah Veroa. Lalu, sebuah aura ungu yang dipadatkan perlahan terkumpul. Dalam waktu singkat, aura itu lalu diluncurkan ke arah Veroa tanpa basa-basi.


    Honjou masamune segera muncul digenggaman tangannya, berniat untuk menggunakan skill yang biasanya dia gunakan saat menahan serangan Raja Iblis sebelumnya. Dia sebenarnya bisa menghindarinya dengan mudah, namun serangan aura ungu yang dipadatkan itu bila terus meluncur tanpa hambatan, akan menerobos menuju tempat para prajurit beserta petualang di belakangnya sedang bertarung.

__ADS_1


[Deflection]


    Dengan kuda-kuda bertarung, dia menahan aura ungu yang sedang meluncur itu dengan honjou masamune. Dengan skill deflection, serangan aura ungu itu memantul, kembali menyerang ke si pemiliki serangan. Di area serangan, terdapat percikan energi yang memancarkan gelombang yang cukup untuk membuat udara di sekitar mencari kacau. Meski begitu, serangan itu meluncur balik ke perempuan itu yang kini tak memiliki kesempatan untuk menghindar.


    Kepulan debu cukup menghalangi pandangan, namun ada bayangan yang menggambarkan bahwa perempuan bersayap itu tak bergeming dari tempatnya sebelumnya. Sampai debu tertiup angin, perempuan bersayap nampak baik-baik saya tanpa adanya sedikitpun luka yang timbul akibat serangannya sendiri.


    Kini, perempuan bersayap itu mulai bergerak. Dia melesat cukup cepat, mungkin orang lain takkan dapat melihatnya dengan jelas, namun beda lagi dengan Veroa. Dia dapat melihat perempuan itu terbang melesat cepat ke arahnya tanpa berekspresi. Kesepuluh jarinya memancarkan aura ungu, lalu membentuk cakar yang pandang dan tajam yang siap mengoyak lawan yang belum bergerak.


    Dari sini, setelah sekali menerima serangan, Veroa menjadi semakin yakin perempuan bersayap itu takkan dapat melukainya cukup serius walau tak menggunakan skill deflection. Selain itu, dia melihat gerakan perempuan itu tak terlalu cepat dalam pandangan matanya. Sudah jelas, kekuatannya jauh berada di bawah dirinya. Sebelumnya, dia terlalu merasa khawatir tentang kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi dan memutuskan untuk mengamati situasi, namun tidak sia-sia dirinya merasa demikian.


    Honjou masamune lalu ditarik ke arah kiri dan ditebaskan pada bagian perut perempuan itu. Namun, bukannya membelah perut lawan, malah kesepuluh cakarnya yang terpotong rapi yang segera dipulihkan kembali menjadi sepuluh cakar yang utuh. Meski terlihat jelas, kemampuan keduanya terpaut cukup jauh, perempuan bersayap itu seolah tak mempedulikannya dan kembali menyerang. Kali ini, Veroa tidak meladeninya menyerang dari depan. Dia bergerak secara zig zag, mencari celah yang tak seharusnya dicari, lalu honjou masamune diayunkan dengan sangat cepat.

__ADS_1


[Kendo master: delayed effect]


    Merasa, biang masalah yang membuat perempuan itu seolah tak terkendali, Veroa memotong keempat sayap milik perempuan itu. Saat terdengar ‘Klep’, dua pasang sayap milik perempuan itu perlahan terjatuh, lepas dari punggungnya. Tak ada darah yang muncrat, namun sedikitnya darah itu segera menutupi punggung perempuan yang terluka.


    Sayap yang terjatuh perlahan menghilang sebelum menyentuh tanah, berubah menjadi butiran aura ungu yang menghilang di udara. Bersamaan dengan itu, perempuan yang sebelumnya memancarkan aura jahat, kini perlahan digantikan dengan aura kebijaksanaan seiring aura ungu ditubuhnya menghilang. Tubuh itu jatuh, namun segera ditangkap oleh Veroa yang telah menyimpan honjou masamunenya ke dalam Bag di sistemnya.


    Wajah yang begitu cantik dan bercahaya kini telah terbuka, membuat mata Veroa sedikit melotot. Dia tak menyangka, perempuan bersayap ini begitu cantik yang sebelumnya tak dia sadari. Dia berspekulasi bahwa aura ungu yang menyelimutinya membuat perempuan ini menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Seolah air yang berubah menjadi api, lalu dengan bantuan Veroa, api ini berubah kembali ke wujud semula.


    Mata yang berwarna emas memancar cukup menyilaukan mata yang memandangnya, begitu jernih terlihat. Mata yang begitu menenangkan, kini sedang memandang mata yang penuh kepedulian.


    “Hai Nona cantik” setelah dirasa, perempuan itu cukup sadar untuk disapa, Veroa memutuskan untuk menyadarkannya dari lamunan.

__ADS_1


    Perempuan itu baru tersadar bahwa dirinya kini sedang berada dalam pelukan seorang lelaki yang tanpa sadar dirinya secara intens tatap. Dia segera melepaskan diri dan berdiri dengan sempoyongan, lalu dia menyapa kembali. Lalu, perempuan itu kembali menatap sepasang mata pria yang baru saja memeluknya. Dia merasa sedih, bercampur senang karena akhirnya bisa terbebas dari belenggu kutukan. Namun, sebagai gantinya, dia harus merelakan statusnya sebagai malaikat.


    Melihat tatapan sedih perempuan itu, Veroa mengerti. Malaikat yang telah kehilangan sayapnya bukan lagi bagian dari para malaikat. Sebelumnya, gejala ini memang mirip seperti yang terjadi pada monster chimera. Tapi, anehnya Veroa tak dapat menyerap aura ungu itu untuk dipadatkan dan disimpan di Bag sistem. Dia memakai cara terakhir, terpaksa dia harus memotong sumber kutukannya yang ternyata setelah dia cari beberapa waktu lalu, sayapnya yang menjadi sumber kekuatan sekaligus bersarangnya kutukan.


__ADS_2