Sistem Katalis

Sistem Katalis
Semakin Kuat


__ADS_3

Sebuah gerbang raksasa yang memancarkan aura negatif yang sangat kental tiba-tiba muncul. Di tengah-tengah tanah tandus yang datar ini, tak terlalu jauh dari pohon oak berada, proses kemunculannya jelas sekali terlihat oleh makhluk di sekitarnya.


    Morgana, baru kali ini dia merasakan sesuatu yang berbahaya selama dia tinggal di dunia ini. Perasaan bahaya itu datang dari gerbang raksasa yang tiba-tiba muncul di dekat area pohon aoknya. Dia segera membuat beberapa lapis sihir kutukan tingkat tinggi di sekelilingnya. Sihir kutukan juga memiliki sihir jenis pertahanan, namun bukan menahan serangan jarak jauh dari musuh, tetapi membuat siapapun yang hendak melewati pembatas yang telah dibuatnya dengan paksa, dia akan terkena kutukan. Kutukan yang diberikan bermacam-macam, tergantung lapisan sihir kutukan yang telah dibuatnya.


    Gerbang raksasa itu perlahan terbuka. Aliran aura negatif menyebar perlahan, seperti gas yang dilepas dari tabungnya. Dari balik ruangan yang gelap itu, satu per satu monster yang bermacam-macam bermunculan. Monster yang pernah menyerbunya dulu sewaktu pertama kali Veroa berhasil kabur dari penargetan dirinya sebagi mangsa striped hell flame tiger. Mereka adalah sekumpulan goblin yang kini muncul bersama beberapa tingkatannya sampai tingkat tertinggi, hobgoblin dan orc, serta ogre. Selain itu, ada lycan, berbagai jenis salamander, hell hound, undead, skeleton, dan bahkan monster – monster terbang seperti wyvern, drakonic skeleton, griffin, dan masih banyak lagi.


    Seperti air yang dituangkan ke dalam sebuah cangkir, monster – monster itu bergerak menyebar hingga mengelilingi area pohon oak. Monster yang tak memiliki akal dan hanya naluri saja, bisa berlaku sedemikian teratur dan mirip sekali seperti kejadian lalu.


    “Kali ini, lebih meriah, ya” gumam Veroa dalam hati seraya memperhatikan sekeliling yang kini telah penuh oleh lautan monster. Lalu, dia melirik Zaldot yang berada di sampingnya, dan berkata padanya “Masih ingat kah, Zaldot?”


    “Haha... iya, Tuanku. Masih sangat ingat dalam benakku. Sungguh, saya sangat bernostalgia dengan kejadian itu. Namun, kali ini, mereka lebih banyak dan lebih kuat ya, Tuanku” ucap Zaldot dengan tanpa ada rasa khawatir terhadap Veroa sebagai Tuannya yang ikut terkepung di sana.


    Morgana nampak menaikkan sebelah alisnya, menebak-nebak apa yang telah menimpa Veroa saat itu, entah kapan. Tapi, perhatiannya segera teralihkan kembali ke sekelilingnya. Setelah menggunakan pelindung sihir yang merupakan sihir kutukan tingkat tinggi sebanyak sepuluh lapisan dengan berbagai kutukan yang diterapkan, energi sihirnya telah terkuras sebanyak 50%. Jadi, dia takkan dapat membantu banyak saat gempuran dimulai dan hanya bisa mengandalkan pelindung sihir kutukannya saja untuk saat ini.


    Pelindung sihir kutukan itu memiliki kandungan energi yang terbatas. Setiap kali ada individu yang berusaha melewatinya, energi sihir yang tersimpan akan digunakan. “Sampai waktunya tiba, tolong lindungi aku, Tuan Veroa” ucap Morgana setelah merapalkan kesepuluh lapisan pelindung sihir kutukannya.

__ADS_1


    “Jadi, sampai saat itu pula, kamu membuatku kerepotan ya, Nona Morgana” balas Veroa dengan nada bercanda, setelah monster – monster itu memulai pergerakannya.


    Morgana hanya tersenyum menanggapinya dan kini, dia bersiap untuk bermeditasi, berusaha untuk mengembalikan energi sihirnya yang telah hilang dengan cara menyerap aliran energi sihir yang mengalir di udara.


    “Nah, PASUKAN SIHIRKU!!! APAKAH KALIAN SUDAH SIAP!?” seru Veroa dengan lantas sambil menghadap ke arah para pasukannya yang sedang menunggu perintah Tuannya dengan antusias, ingin segera masuk ke medan pertempuran.


    “YA...!!!” seru mereka dengan semangat membara.


    “SERANG!!!”


...


    Para pasukan sihir ada yang ditugaskan oleh Zaldot untuk menjadi mata di sudut mati Tuannya, tapi sebagian besar terbang untuk menuntaskan monster – monster terbang yang sulit dijangkau oleh Veroa.


    Monster – monster yang sebelumnya hendak menerobos, memaksa untuk masuk ke bagian dalam pelindung sihir kutukan, kini fokus mereka beralih pada Veroa bersama pasukan sihirnya yang berada di tengah-tengah mereka. Target utamanya memang Veroa seperti yang diperintahkan oleh Tuan mereka, tapi tak satupun dari mereka yang dapat melumpuhkannya. Terlebih lagi, setiap kali mereka hendak menyerangnya dari sudut mati, selalu digagalkan oleh pasukan sihir yang ikut bersamanya.

__ADS_1


    Stamina yang dimiliki Veroa sangatlah tinggi, terlebih lagi setelah mendapat efek dari pencapaiannya yang telah diraihnya. Sejam lebih dia mengayunkan honjou masamune, entah telah berapa ribu kepala monster yang telah dipenggal olehnya, sampai saat ini, hanya setetes keringat saja yang timbul di dahinya. Alunan nafasnya masih stabil. Armornya yang berwarna perak telah penuh dengan darah monster, sampai-sampai tak terlihat warna armornya.


    Sampai saat ini, Veroa belum terlihat menggunakan skill andalannya, seri skill master kendo. Bagaimanapun, menggunakan skill, mengonsumsi tenaga yang besar, sehingga bilamana dia menggunakannya untuk membunuh monster yang masih dapat dibunuhnya dengan mudah,  malah menyia-nyiakan tenaganya. Apalagi, dia juga mempersiapkan diri, bila sewaktu-waktu, sosok yang mengendalikan monster – monster itu keluar dan menjadi lawannya.


Yang paling membuatnya waspada adalah musuh belum dapat diidentifikasi.


    Monster – monster tak ada yang berusaha untuk mundur, meskipun mereka tak dapat melumpuhkan atau bahkan hanya untuk sekedar melukai sedikitnya goresan, mereka tetap maju dan berakhir kehilangan kepala. Sepertinya, perintah Tuan mereka sangat mutlak dan tak dapat dibantah.


    Dengan sekali lompatan dari atas tanah, sebuah kepala melayang. Dilanjut dengan melompati tubuh yang telah tak berkepala untuk dijadikan sebagai pijakan untuk lompatan selanjutnya. Begitulah cara dia bertarung.


    Dulu, dia terlihat kaku saat menggunakan honjou masamune, sekarang, selain cepat, akurasi dan kelembutan ayunannya bagai dedauna yang tertiup angin yang mengikuti arus ke mana dia pergi.


    Satu kepala lagi melayang, akhirnya gaya angkatnya berakhir dan dia harus memulai dari awal. Tapi, saat dia hendak melompat, dia masih berada dalam posisi ancang-ancang, sebuah distorsi ruang terjadi tak jauh di depannya. Sontak saja, hal itu membuat Zaldot melesat, berdiri di hadapan Tuannya, hendak melindungi dari ancaman di depan sana yang entah apa.


    Kaki, yang kesepuluh jarinya berkuku panjang dan runcing, juga terlihat kuat, muncul dan menginjak mayat monster yang tergeletak di sana hingga hancur. Badannya perlahan muncul, dilanjut dengan anggota tubuh lainnya. Kejadian itu membuat monster – monster yang secara agresif menyerang Veroa, mendadak berhenti, malahan mereka semua membungkukkan badan, seperti memberikan penghormatan pada sesosok makhluk yang hendak muncul itu.

__ADS_1


    Distorsi ruang pun berhenti. Sesosok makhluk yang memiliki tiga pasang sayap mirip kelelawar berdiri dengan gagah, otot – ototnya terlihat tangguh, di beberapa bagian tertentu, terdapat tonjolan runcing yang mirip armor. Matanya merah menyala-nyala, menatap lekat-lekat manusia di hadapannya yang telah banyak memenggal kepala bawahannya.


    “Haha... akhirnya, ketemu juga kau, anak manusia. Setelah sekian lama daku menunggu, engkau telah tumbuh menjadi makhluk yang sedikit lebih kuat. Maka dari itu, jadilah mainanku!”


__ADS_2