
Sebuah jarum beracun melesat dengan cepat menuju Veroa yang sedang menggendong Vina yang telah tertidur. Jarum ini akan mengenai lehernya, tapi Veroa menyadari bahaya yang sedang datang dan dapat menghindarinya pada saat jarak jarum dan lehernya seperti jarak kelopak mata seseorang yang sedang mengantuk. Saat jarum mengenai daun dan menembusnya, daun itu perlahan kehilangan masa hidupnya dan berubah menjadi daun kering tanpa nutrisi, kemudian berubah menjadi abu dan hancur terbawa angin malam.
Langit malam yang begitu cerah menampakkan bulan yang bersinar dengan lembut menerangi malam menggantikan matahari. Di hutan yang tak terlalu lebat ini, untuk orang yang melebihi manusia biasa, Veroa dapat melihat dengan jelas. Tapi, sosok yang menyerangnya masih tak kunjung terlihat. Dia hanya dapat merasakan secara samar kehadiran seseorang di balik bayang.
Sekali lagi, jarum beracun kembali melayang ke arah dirinya dengan kecepatan yang sangat tinggi dari arah sudut mati. Tapi, naluri Veroa tak dapat diremehkan. Jarum beracun melesat menembus batang pohon dan membuatnya tumbang dalam hitungan lima detik akibat racun yang sangat mematikannya.
“Sungguh situasi yang sulit. Bagaimana caraku dapat menyerang tanpa beban. Kalau terus menerus dalam area serangannya, aku hanya dapat menunggu dia kehabisan jarumnya, tapi mentalku dan staminaku yang jadi taruhannya.”
Sembari tetap berkonsentrasi memperhatikan sekeliling dan mewaspadai pada serangan kejutan selanjutnya, dia memikirkan solusi untuk setidaknya keluar dari situasinya saat ini. Dia belum bergerak dan masih di tempat dia diserang sebelumnya.
Tingkat konsentrasi yang melampaui batas, sama seperti saat dia sedang melakukan upacara kedewasaan, perburuan binatang buas, otaknya bekerja melebihi kecepatan waktu normal saat ini. Hembusan angin yang datang dari arah Timur, sesekali terdengar suara binatang pengerat di balik semak belukar, suara desis ular yang berada di pepohonan, suara
serangga dari balik dedaunan, nah ada suara samar yang janggal mengganggu arus angin. Lalu, digantikan suara kaki yang baru saja menapak pada dahan pohon. Dari situlah suara jarum yang sangat samar membelah udara dan menuju dirinya. Dengan tanpa sadar, jari tangannya menangkap bagian jarum beracun yang menjadi pegangan penggunanya yang datang dari arah belakangnya dan dengan sangat cepat mengembalikan serangan ke arah jarum beracun datang.
__ADS_1
“Ahk!”
Suara seseorang yang jatuh pun terdengar dengan jelas. Perasaan diperhatikan oleh beberapa pasang mata langsung menghilang seluruhnya. Jelas, sosok – sosok yang memperhatikannya dari bayang – bayang adalah bayangan orang yang menyerangnya.
Veroa pun dengan masih menggendong Vina, mendekat ke arah suara jatuh di belakangnya. Dia masih bersikap waspada dan tak menurunkan konsentrasinya dalam mengawasi sekitarnya. Dia pun melihat sesosok wanita cantik dan sangat menggoda nafsu birahi sedang meringis kesakitan sambil memegang kaki sebelah kanannya yang sedang membusuk akibat racun buatannya sendiri. Dia memang sengaja tak membuat penawarnya, karena tujuannya ingin balas dendam, agar bilamana orang yang dimaksudkan terkena racunnya, dia akan tersiksa sebelum mati dengan mengenaskan. Tapi, dia salah menyerang target. Dia memang tahu, Veroa bukanlah target balas dendamnya, tapi dia membutuhkan anak kecil untuk dijadikan tumbal pemanggilan pasukan iblis yang dapat membantunya dalam memenuhi dendamnya.
“Baru, saja memulai, aku...” ucapannya yang terbata-bata terhenti, kesadarannya perlahan menghilang, tapi dia berusaha untuk tetap sadar.
Melihat keadaannya yang mengenaskan, Veroa merasa tak tega membiarkannya tetap merasakan rasa sakitnya. Dia segera memenggal kepala wanita itu.
Tak lama, anak – anak yang hilang telah ditemukan dan segera diajak pulang oleh Veroa sambil tetap menggendong Vina yang masih tertidur pulas di belakang punggungnya.
Setelah kembali dengan selamat tanpa mendapat kendala di perjalanan pulang, Veroa segera pergi ke kamar tamu dan menidurkan Vina, sedangkan anak – anak berlarian dengan menangis senang menuju rumahnya masing – masing, tapi karena hal itu, para penduduk desa segera keluar dan segera berkumpul di alun-alun desa. Keenam anak itu segera didekap oleh orang tuanya sebelum dapat pulang ke rumah.
__ADS_1
Veroa segera menceritakan kejadian penculikan, namun dia merahasiakan pelakunya dan mengkambing-hitamkan bangsawan yang tertulis di surat teror, Marquis Palladium, Joaquin Guzzlerman. Meskipun begitu, Veroa menyuruh mereka untuk tak membocorkan informasi tersebut kepada siapapun, karena dia akan menyelesaikan akar masalah itu sampai tuntas.
Setelah hampir sejam, para penduduk beserta kepala desa kembali ke kediaman masing-masing atas suruhan Veroa. Dia sendiri akan menguburkan mayat wanita itu dengan layak di tempat yang agak tersembunyi. Inginnya, dia menguburkan mayat wanita itu di kampung halamannya atau sangat bagus bila dikuburkan di samping kuburan suami dan anaknya, tapi dia tak mengetahui sampai sejauh itu. Bila pun dia menguburkan di hutan secara asal, malah membuat para penduduk desa terdekat yang melihat adanya kuburan yang tak lazim ada akan merasa enggan untuk mendekati hutan tersebut.
Sempat terlintas dalam pikirannya saat memandikan mayat perempuan itu, dalam pikirannya “Meskipun hanya berupa mayat, tapi pesona kewanitaannya tetap terpancarkan. Pasti, dia adalah wanita yang diistimewakan dunia” dengan bukan bermaksud mesum, tapi dia mengagumi kelebihan wanita itu, meskipun pada akhirnya menjadi malapetaka baginya.
“Dewa sungguh tak adil” kata itu terucap dengan tanpa disengaja.
Tiba-tiba, dunia seperti berhenti berputar, angin tak dapat dirasakan hembusannya, dedaunan tak bergerak di udara tanpa adanya penyangga, dahan pohon yang seharusnya melambai-lambai, kaku tak tergerak. Hanya Veroa yang dapat bergerak dengan bebas. Sistem yang biasanya memberikan pemberitahuan tentang keganjilan seperti saat dia sedang melakukan perburuan, tak menampakkan diri dan bahkan dirinya pun tak dapat menampilkan layar sistem. Dia juga baru teringat bahwa dia belum menerima hadiah setelah menyelesaikan tugas.
“Aneh” ucapnya, karena bila pun dia menghubungkan ucapan hinaannya terhadap Dewa, kejanggalan itu telah dapat dirasakan sebelum-sebelumnya.
Dunia memang berhenti, tapi awan di langit perlahan berkumpul dan membentuk comulonimbus. Dalam guncangan badai yang berpusat di Veroa, suara menggema terdengar oleh gendang telinganya dan membuat seluruh tubuhnya gemetar.
__ADS_1
“Wahai manusia! Engkau telah menyimpang dari roda takdir yang telah ditentukan. Maka dari itu, sesuai dosa yang telah engkau perbuat, engkau akan menerima 3 hukuman dari Dewa Takdir. Yang pertama, hukuman penyiksaan. Kedua, hukuman kerja paksa di Taman Surga. Ketiga, hukuman pengasingan. Setiap hukuman memiliki jangka waktu sesuai dengan jatah hidupmu yang sebenarnya. Jadi, total masa hukuman untukmu adalah 90 tahun”