
Perlahan, energi kehidupan Veroa kembali terisi. Tubuh yang sedang berdiri itu sedikit menggerakkan jari tangannya. Perlahan tangan, kaki, dan seluruh tubuhnya telah dapat dirasakan. Dia melihat sekeliling, ternyata monster – monster yang menyerangnya telah banyak tergeletak di tanah dengan darah berceceran di mana-mana. Dia juga melihat sosok yang diselimuti aura kegelapan sedang membungkuk hormat ala ksatria kerajaan. Tapi, dia tak mengenalnya dan merasa aneh bahwa ada sosok yang memancarkan aura bahaya memberikan penghormatan padanya. Dia juga berspekulasi bahwa monster – monster terbang itu juga mungkin ulahnya. Jadi, dia takkan bersikap dengan gegabah.
“Syukurlah, Tuanku. Anda telah bangkit kembali” ucap sosok bayangan itu dengan posisinya saat ini tak berubah.
Veroa merasa semakin aneh, belum dapat menebak siapa sebenarnya sosok di depannya itu. Tapi, dia memutuskan untuk menanggapi ucapannya. Katanya, “Ya, aku telah kembali”
Kemudian, sosok bayangan itu berterimakasih padanya bahwa dia telah diberi nama dan kini dia telah berevolusi menjadi dark knight. Dia juga yang telah mengacaukan monster – monster terbang itu yang kini semuanya telah tergeletak dengan darah di atas tanah tandus.
“Ternyata begitu toh. Dia pasukan sihir pertamaku. Tapi, bukannya dia saat itu telah lenyap ya? Bagaimana bisa? Ah, sudahlah. Lagipula, bukan masalah dan bahkan sangat bagus untukku” gumam Veroa dalam hati. Dia baru saja mengerti situasinya saat ini.
“Nah, aku harus mencari bahan uji coba untuk menguji skill yang baru kudapat” ucapnya, melihat sekeliling, mencari arah yang dirasa terdapat monster yang tepat untuk dijadikan bahan uji coba skillnya. Dia tak memutuskan untuk menggunakan fitur Map sistem, karena fitur Map hanya memetakan objek mati dan tak dapat mendeteksi keberadaan makhluk hidup.
“Zaldot, bersiaplah! Mari kita berburu monster!”
...
Bulan demi bulan, tahun demi tahun, entah telah berapa lama dia berada di sini. Yang pasti, dia semakin kuat, namun tampilan fisiknya tak jauh berbeda dari saat hukuman pertama. Ratusan ribu monster dari mulai monster terlemah hingga monster tingkat King saja dapat dia kalahkan dengan sedikit keringat.
__ADS_1
Di sebuah danau yang diisi dengan air berwarna merah, Veroa baru saja tiba dengan beberapa pasukan sihirnya yang telah berhasil dia panggil selama dia di dunia ini. Zaldot telah beberapa kali berevolusi menjadi dari yang awalnya dark knight, berevolusi menjadi shadowlord knight, lalu kini dia telah menjadi almighty knight. Dia telah menjadi komandan pasukan dan dapat diandalkan. Setelah beberapa kali bertarung melawan hydra di danau itu, dia masih penasaran untuk tetap melawannya, karena masih belum dapat mengalahkannya meski telah mengerahkan pasukan sihirnya.
“Nah, kemarin-kemarin, aku telah menganalisis tentang kekuatanmu. Hydra, lawan tertangguh yang pernah kulawan. Selain serangannya yang dahsyat, ketahanan tubuhnya terhadap serangan sihir tak dapat dipungkiri, sangat hebat. Apalagi, dia memiliki kekuatan regenerasi tubuh yang luar biasa. Serangan fisik pun tetap akan sia-sia” ucap Veroa dengan suara pelan.
Hanya dengan sedikit kakinya dicelupkan pada air danau, air yang tenang itu perlahan timbul. Lalu, keluarlah hydra, monster yang dimaksudkan.
“Tapi, bagaimana kamu dapat bertahan menahan rasa sakit itu? Juga, apakah kamu dapat meregenerasi tubuh yang terluka, bila salah satu kepala yang menjadi inti dari tubuhmu kutebas hingga lepas?”
Pasukan sihir diberi aba-aba untuk bersiap. Lalu, setelah Zaldot memberikan aba-aba untuk menyerang, mereka semua mulai terbang ke berbagai arah, menyerang hydra dari berbagai sisi. Zaldot yang memiliki daya serangan tinggi, menyerang dari depan. Namun, pasukan sihir hanya dapat menyerang menggunakan sihir, tak bisa memberikan serangan fisik. Jadi, seberapa besar pun daya serangnya, hanya berdampak sedikit pada hydra.
Hydra meraung dengan sangat kencang, kesal karena merasa seperti sedang dipermainkan, namun dia tak dapat mengetahui kejanggalan itu. Dia yang telah merasa muak menerima serangan sihir yang sia-sia saja, memutuskan untuk melakukan serangan balik. Satu per satu kepala itu bersiap untuk mengeluarkan berbagai jenis serang. Dari kesembilan kepala itu, rupanya hanya delapan kepala saja yang memberikan serangan. Ada yang menyemburkan api, mengendalikan air danau, mengacaukan angin di sekitar, dan lain-lain. Yang pasti, area pertempuran di sana sangat kacau.
Pada saat itu, terdapat jeda setelah hydra memberikan serangan. Jeda yang merupakan sebuah celah baginya untuk menyerang area vital. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera melesat menuju kepala hydra yang tak melakukan serangan dan posisinya berada di tengah-tengah kedelapan kepala lainnya.
[Multi-hit strike]
[Master kendo: Delayed effect]
__ADS_1
Tebasan beruntun dalam sedetik kemudian dilepaskan setelah dia berada di sana, namun dalam kurun waktu tebasan itu, tak ada hal yang terjadi. Setelah honjou masamune dimasukkan ke dalam sarung pedangnya, barulah kepala hydra yang menjadi target serangan terpotong menjadi beberapa bagian yang membuat darahnya yang berwarna merah menyembur, mewarnai air danau yang semakin memerah.
Kedelapan kepala lainnya merasa marah. Lantas, hydra itu segera mengalihkan serangannya dan berfokus pada Veroa yang masih melayang di tengah-tengahnya.
Posisi Veroa masih dalam postur menyerang, untuk mengubah posturnya saat ini, memerlukan waktu beberapa detik, karena langit bukanlah area bertempur yang dikuasainya. Tapi, beberapa detik itu, dalam sebuah pertarungan sangatlah berharga dan bisa juga menjadi petaka.
Namun beruntung, hydra yang memiliki daya serangan yang dahsyat memerlukan waktu lebih untuk mempersiapkan serangannya.
Hal itu memberikan kesempatan bagi Veroa untuk dapat terbang menjauh. Namun, sebelum itu, dia berhenti dan memikirkan suatu rencana yang beresiko. Dia terbang membalikkan arahnya menuju tubuh hydra dan berdiri di tengah-tengahnya. Terlihat jelas tindakannya itu, dia hendak memancing hydra menyerangnya di sana dan membiarkan dirinya menjadi pusat serangan, agar serangannya selain mengenai dirinya, juga mengenai tubuh hydra.
Menyadari hal itu, Zaldot meneriaki tuannya untuk terbang menjauh selagi ada waktu. Tapi, Veroa hanya tersenyum dan malah memberikan perintah pada mereka untuk terbang menjauh. Zaldot segera menyadari bahwa Tuannya tak akan bertindak gegabah tanpa memiliki rencana yang matang. Jadi, dia segera menuruti perintahnya dan mengajak pasukan sihir yang lainnya untuk terbang menjauh.
Belasan detik telah berlalu, berbagai macam serangan dilancarkan ke arah Veroa. Serangan ini berbeda dari yang sebelumnya, yaitu serangan yang memiliki jangkauan serang yang terfokus. Kedelapan kepala hydra, yang menyemburkan berbagai serangan elemen dan sihir non-elemen, sebelum menargetkan Veroa, di tengah-tengah jaraknya, kedelapan serangan sihir yang berbeda bersatu dan bercampur menjadi serangan yang lebih dahsyat lagi. Serangan itu disebut supernova.
Tapi, Veroa memiliki skill yang dapat memantulkan segala macam serangan, tak peduli seberapa besar daya serangannya, serangan apapun dapat dipantulkan. Skill inilah yang menjadi senjata terakhir Veroa dalam rencananya kali ini.
[Deflection]
__ADS_1