
Matahari telah berada di atas kepala, akhirnya benteng Kota Tungsten yang gagah telah terlihat. Dari sini, di depan gerbangnya terlihat banyak orang mengantri untuk dapat masuk melalui pemeriksaan ketat penjaga gerbang. Saat kereta kuda yang berlambang kejayaan Kota Tungsten datang, para petugas segera menyambutnya dan mempersilahkannya masuk tanpa hambatan.
Ada dua jalur bagi siapapun yang hendak memasuki Kota Tungsten, jalur para pejalan kaki dan penunggang kuda, sebelahnya ada jalur khusus untuk kereta kuda. Kereta kuda memang membutuhkan ruang yang lebih besar dan biasanya pemeriksaannya lebih lama. Beruntung, saat ini yang banyak mengantri adalah para pejalan kaki dan beberapa penunggang kuda, jadi para petugas tidak ada yang kerepotan saat membuat jalur terobosan bagi kereta kuda yang sedang dinaiki Veroa.
Panas begitu terik, tapi orang – orang tak memperdulikannya dan tetap melanjutkan aktivitasnya. Bau keringat dapat tercium di mana-mana, bercampur dengan aroma makanan siap saji dari para pedagang di pinggir jalan. Sekali-kali, terdengar tangisan anak kecil yang meneriakkan keinginannya untuk membeli cemilan. Ada pula seorang pedagang ibu-ibu yang membentak pelanggan, karena menawar harga terlalu murah dan memaksa.
Tak ada pedagang yang berinisiatif menawarkan barang ke pembeli, pembelinya saja sedang berkeliaran di depan mereka. Tinggal menunggu keberuntungan, apakah dagangannya laku atau tidak.
Vina sepertinya merasa kepanasan meski tak terpapas sinar matahari secara langsung, terlihat jelas di dahinya mulai muncul butiran keringat. Apalagi, dia tak ada minat untuk melihat jalanan kota yang ramai ini melalui celah jendela kereta. Raut wajahnya kini, dia memang terlihat sedang cemberut, entah karena apa.
Mungkin karena Veroa saat ini sedang fokus pada dirinya sendiri, fokus pada layar sistem di depannya. Dia saat ini sedang melihat fitur sistem yang baru, yaitu fitur Poin dan Shop. Selama masa hukuman, belum ada fitur terbaru dari sistem, fitur ini muncul setelah dia memeriksanya baru-baru ini, yang pasti, bukan saat dia masih di Dunia Terbengkalai.
“Menurut panduan dari sistem, poin didapat setelah aku menolong seseorang yang membutuhkan, bentuk apapun pertolongannya akan diberi imbalan poin. Berbeda sekali dengan imbalan setelah menyelesaikan tugas. Seperti, pekerjaan tambahan kah? Dan lagi, isi Shop sangat menarik” gumam Veroa secara pelan yang sedikit menarik perhatian Vina, tapi dia segera mengalihkan pandangan lagi ke arah lain, berusaha untuk mengabaikan Veroa.
__ADS_1
Saat sedang seru-serunya melihat-lihat isi Shop, kereta kuda pun telah sampai di depan gerbang istana. Mau tak mau, Veroa harus segera menghentikan aktivitas mandirinya dan saat dia melihat Vina yang cuek padanya, dia baru menyadari bahwa selama perjalanan, dirinya memang mengabaikannya.
Di depan pintu istana, seorang wanita bergaun merah marun sedang berdiri dengan anggun, sepertinya dia hendak menyambut kedatangan Veroa dan Vina.
“Selamat datang kembali, Tuan Veroa dan anakku tercinta, Vina” ucapnya.
“Warna gaun dan kulit yang memancarkan rona merah muda, sungguh perpaduan yang sempurna, Nona Karina. Kami, telah kembali” ujar Veroa sembari memuji sebelum menyatakan kepulangannya.
Akhirnya, dia kembali mengurus berbagai dokumen untuk kepentingan semua orang. Duduk di atas kursi sembari ditemani dengan segelas teh hangat yang baru saja disajikan oleh seorang pelayan. Biasanya, orang – orang menginginkan jenis pekerjaan seperti itu, tapi Veroa malah merasa bosan di sana.
Selama beberapa hari ini, tak ada hal yang menarik, yang menjadi hiburannya di sana mungkin kehadiran Vina yang selalu berpenampilan ceria, atau sesekali dia juga pergi ke lapangan latihan para prajurit. Dalam pandangannya kini, gerakan berpedang para prajurit terlihat sangat lambat dan kaku, setelah selama puluhan tahun dia terbiasa dengan gerakan cepat, gerakan semua orang di dunia ini terasa lambat.
Suatu hari, dia terlalu penasaran dengan perbandingan antara kekuatannya dengan kekuatan para prajurit yang memiliki spirit, dia pun meminta mereka untuk datang ke lapangan latihan untuk mengajaknya bertanding. Bila satu per satu tak cukup, semuanya dia ajak untuk ikut sekaligus. Dalam latihan kali ini, dia menyuruh para prajurit untuk menggunakan pedang logam, bukan pedang kayu yang biasanya digunakan untuk latihan. Tak ada yang membantahnya dan mereka hanya mengikuti arahan Veroa. Mereka tahu, pemimpin mereka yang satu ini penuh dengan kejutan. Jadi, mereka malah bersegera untuk dapat melaksanakan latihannya.
__ADS_1
Di lapangan latihan, setelah semua orang berkumpul, Veroa mencoba satu orang yang dirasa kuat untuk maju ke depan dan melawannya yang menggunakan honjou masamune.
Armor yang terbuat dari logam menutupi seluruh tubuh, pedang yan besar bermata dua sedang dipegang dengan kedua tangan. Prajurit itu terlihat gagah dengan perlengkapannya, kini sedang berhadapan dengan Veroa yang memakai pakaian sehari-hari dengan honjou masamune yang masih berada dalam sarungnya di pinggang. Saat seseorang mengangkat tangan kanannya di antara keduanya, kemudian diturunkan dengan cepat, waktu pertandingan pun dimulai dan dia segera menyingkir dari lapangan, pergi ke area penonton.
Dari keduanya, terlihat belum ada yang memulai pergerakkan. Angin masih berembus dengan santai, menari-nari, membawa butiran debu di lapangan. Saat sebuah daun hinggap di dahi wasit tadi, saat itulah Veroa bergerak ke arah depan dengan sangat cepat dan slash! Pedang prajurit berzirah logam itu terpotong menjadi dua bagian. Dia belum bereaksi sedikit pun dan sepertinya dia juga terkejut dengan serangan kejutan itu. Sedangkan Veroa, dia kembali ke posisinya semula dan perlahan memasukkan honjou masamunenya ke dalam sarungnya.
Setelah jeda beberapa detik, orang – orang pun baru tersadar dari rasa keterkejutannya dan segera bertepuk tangan secara serentak. Mereka tak menyangka bahwa kecepatan gerak, ketepatan tebasan, dan kekuatan serangannya sangat berkualitas, terlihat sekali perbedaan tingkatan sabetan pedangnya dengan kemampuan mereka saat ini. Pedang yang terlihat tipis dan ramping, selain itu hanya bermata satu saja, dapat memotong pedang yang besar begitu mudah.
“Mau lagi?” tanya Veroa di sela-sela iringan tepuk tangan orang – orang pada prajurit di hadapannya yang belum terlihat adanya reaksi apapun dari tadi.
Lama dalam posisinya yang melakukan kuda-kuda, dengan sedikit hembusan angin, dia pun goyah dan perlahan tumbang ke tanah. Aneh bila prajurit itu pingsan hanya karena terlalu terkejut dengan serangan barusan. Ternyata, di kakinya terdapat sebuah jarum beracun yang pada batangnya terdapat sebuah kertas yang dililit.
“Sepertinya, dia terkena jarum beracun ini beberapa saat sebelumnya. Coba cari siapapun yang terlihat mencurigakan dan suruh para pengintai untuk segera menginvestigasi seluruh wilayah kota, apalagi para penjaga gerbang harus lebih waspada dan berhati-hati” ucap Veroa segera menginstruksikan pada para prajurit menghadapi serangan diam-diam seperti ini. Selain dari yang sedang memanggil tabib istana, dia memerintahkan untuk memeriksa seluruh kawasan istana. Dia meninggalkan prajurit yang pingsan itu dan menitipkannya pada rekannya. Dia sendiri, segera pergi untuk memeriksa keamanan Karina dan Vina yang tinggal di istana bersamanya.
__ADS_1