
“Kebetulan, diriku ini adalah seorang penguasa di sebuah kota di Kerajaan Sylvani. Aku memiliki otoritas untuk menambah penduduk, takkan ada yang berani mempersulit kalian di sana bila mereka tahu bahwa kalian berada dalam perlindunganku. Apakah kalian mau menjadi penduduk kotaku?”
Beberapa waktu sebelumnya, Veroa membawa keluar mereka ke tempat yang lebih aman. Sebenarnya, di hutan tak ada tempat aman yang pasti, tapi sejauh dirinya mendeteksi area sekitar sejauh dua kilometer, tak ada binatang buas yang berpotensi membahayakan mereka. Ada beberapa, tapi sepertinya mereka sedang beristirahat, bukan waktunya untuk berburu, asalkan tak ada yang mengusik waktu istirahatnya. Mereka akan tetap aman selama beberapa waktu.
Veroa kembali ke pemukiman goblin, macan loreng hitam telah terpojok setelah dirinya meninggalkannya selama sebentar. Itu karena kehadiran pimpinan goblin yang membuatnya seperti itu, tapi yang dirasakan Veroa, pimpinan goblin tak sehebat itu. Melihat macan loreng hitam terpojok setelah pimpinan goblin memasuki area serangannya, sudah jelas dia yang dapat mengubah jalannya pertempuran itu.
Setelah kedatangan kembali Veroa, pimpinan goblin merasa segan untuk bergerak secara gegabah. Dia memberi gerakan sandi kepada bawahannya untuk tak menyerang, dirinya sedang mengamati situasi.
Goblin, memang termasuk salah satu spesies monster yang tak memiliki akal, tapi sebenarnya hanya berlaku untuk monster – monster tingkat bawah. Pimpinan goblin contohnya, dia telah banyak pengalaman yang tersimpan dalam ingatan jangka panjangnya, sehingga kecerdasannya sedikit bertambah sampai ke tingkat kecerdasan seorang remaja spesies yang berakal.
Setelah tahu, tak ada harapan untuk menang meskipun dirinya bersama anak buahnya menyerang Veroa, dia memerintahkan anak buahnya untuk kabur bersama dirinya. Tapi, apakah Veroa akan membiarkan para penjahat berlaku sesuka hatinya, maju mundur begitu saja? Tentu tidak! Setelah melihat macan loreng hitam yang membantunya sejauh ini terluka, mereka telah membuatnya murka.
Kali ini, honjou masamune akan berpartisipasi juga. Dalam pandangan Veroa, gerakan para goblin yang berhamburan pergi, terlalu lambat untuk membuatnya tergesa-gesa.
__ADS_1
[Kendo master: delayed effect]
Satu per satu leher ditebas, tak ada darah, gerakan mereka yang lehernya telah mendapat bagian tak bergerak, tapi mereka masih sadar dan hanya matanya saja yang dapat digerakkan, membiarkan mereka menyaksikan leher rekannya ditebas oleh Veroa. Tapi yah, mereka tak sadar bahwa mereka juga telah menjadi korban bahwa kepala dengan tubuhnya tak lagi bersatu.
Selama Veroa menebas kepala para goblin, honjou masamune belum disarungkan ke dalam sarung pedangnya, darah pun tak ada yang berceceran. Sampai leher pimpinan goblin dilewati oleh bilah honjou masamune, barulah honjou masamune diayunkan ke sebelah kanan secara vertikal sebelum dimasukkan ke dalam sarungnya. Dia telah mengambil jarak, saat kendo master: delayed effect aktif, darah berceceran mewarnai tanah dan pondok di sekitar, semua kepala goblin jatuh menabrak tanah, terpisah dari tubuhnya. Mereka semua mati sebelum sampai satu menit.
Rahang bagian bawahnya hampir saja lepas, matanya melotot tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. Macan loreng hitam merasa, dirinya beruntung karena tak mencari masalah dengan manusia itu. Mengikuti peringatan yang dirasakannya dari instingnya bukanlah keputusan yang salah, begitulah pikirnya.
“Kamu ternyata adalah macan penguasa malam! Tak terkirakan, aku akan dapat bertemu dengan binatang legendaris” Veroa sekarang menyadari alasan macan loreng hitam itu dapat mengerti ucapannya, meski tak dapat berbicara seperti yang dapat dilakukan oleh manusia atau yang lain, tapi dapat digantikan dengan tindakan untuk dapat berinteraksi dengannya. Binatang itu kini disebut macan penguasa malam yang merupakan binatang yang berada di jajaran Rank King, sedikit binatang buas yang dapat naik tingkat ke tingkat itu.
“Oh iya, mari ikut dulu bersamaku” mengingat para gadis masih di tempat sebelumnya yang belum tentu keamanannya bila dibiarkan lebih lama, dia mengajak macan penguasa malam untuk ikut bersamanya.
Beruntung, tak ada kejadian yang tak diharapkan terjadi selama mereka berada di sana tanpa penjagaan. Melihat kedatangan Veroa yang bukan hanya dirinya, tetapi juga ada macan penguasa malam, mereka merasa ketakutan. Terlihat dari raut wajah mereka dan kaki mereka yang secara tanpa sadar perlahan bergerak mundur, berusaha menjaga jarak dengan binatang itu. Tapi, menyadari bahwa binatang itu sepertinya bukan ancaman, sebagian dari mereka mulai sedikit merasa tenang dan menenangkan yang lainnya.
__ADS_1
“Hm... diriku terkejut sih, kalian tidak berlari terbirit-birit melihat macan penguasa malam datang bersamaku. Jadi, bagaimana hasil diskusinya?”
Sebelumnya, Veroa menawarkan kepada mereka untuk menjadi penduduk Kota Tungsten, tapi mereka tak langsung memutuskan. Tentunya, sekumpulan gadis ini memerlukan waktu untuk mendiskusikan hal itu, apakah mereka akan menetap di desa yang telah menjadi abu dan perlahan membangun ulang desa itu atau ikut bersama Veroa menuju Kota Tungsten dan menjadi penduduk di sana.
“Kami telah memutuskannya. Kami akan mengikuti anda, Tuan Penyelamat dan mengabdikan diri sebagai penduduk Kota Tungsten, berkontribusi memajukannya” yang berbicara adalah gadis yang tadi, sepertinya dia yang paling memiliki keberanian untuk berbicara seperti itu kepada orang yang baru dikenal. Selain itu, emosinya terlihat cukup stabil, bila mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya bersama gadis yang lain, sebenarnya sangat mengerikan. Kehilangan orang tua, saudara, teman, penduduk desa, atau bahkan pacar juga, sampai-sampai hanya menyisakan abu yang bercampur antara abu penduduk desa maupun abu kayu perumahan, siapa yang berpikir kejadian ini cukup mengerikan? Insiden itu sangatlah mengerikan! Sedangkan Veroa memahami hal itu, dia mengagumi gadis yang satu ini.
“Itu bagus! Keputusan yang telah kalian ambil takkan membuat kalian kecewa, mohon pegang ucapanku ini. Oh, kalian juga harus mempersiapkan tubuh fisik kalian, soalnya kita akan menempus perjalanan yang cukup panjang. Tapi tenang saja, selama perjalanan, kalian takkan merasa kelaparan, kujamin itu” memberitahukan hal itu, Veroa inginnya, mereka memiliki persiapan dalam perjalanan, setidaknya mental dan fisik. Agar, perjalanan pulang tak mengalami kendala yang tidak perlu.
“Satu hal lagi sebelum pergi, kalian pasti tak ingin meninggalkan penduduk desa begitu saja, ‘kan? Aku juga akan membantu kalian mengurus mereka dengan layak” Veroa tak melupakan hal sepenting itu tentunya, dia memberi kesempatan kepada para gadis untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang tua, saudara, teman, pacar, dan para penduduk desa untuk selama-lamanya.
Gadis yang dikagumi oleh Veroa sebelum dirinya hendak memberitahukan hal itu, ternyata Veroa lebih mengerti dan menawarkan kesempatan itu lebih dulu daripada dirinya yang hendak meminta waktu.
Jadi, arah pertama yang mereka tuju bukan Kota Tungsten, tapi desa yang telah menjadi abu.
__ADS_1