Sistem Katalis

Sistem Katalis
Rencana Para Gadis


__ADS_3

    Pagi itu, di depan pintu istana, banyak gadis sedang berkumpul, mereka sedang menunggu seseorang. Setelah orang – orang tahu bahwa mereka berada dalam perlindungan Veroa, tak ada yang berani membuat masalah dengan mereka. Untuk masih ke halaman istana saja, para penjaga istana segera mempersilahkannya masuk.


    Saat Veroa membuka pintu, dirinya sedikit terkejut, tapi segera tersenyum menyapa mereka. Kebetulan, koki istana sedang mempersiapkan hidangan untuk sarapan pagi. Jadi, dia mempersilahkan para gadis untuk pergi ke ruang makan, mengajak mereka untuk sarapan bersama.


    Para gadis itu, tak merasa canggung, tak seperti kebanyakan orang saat berhadapan dengan seorang bangsawan atau tokoh penting dunia. Seperti julukannya untuk mereka, penduduk independen, mereka tak terlalu mengerti dengan perilaku seperti itu. Begitulah, mereka sampai saat ini bersikap biasa saja, tapi tetap menghormati Veroa sebagai penyelamat mereka.


    Saat makan, sepertinya para gadis juga memiliki etika terkait hal itu, semuanya fokus pada makanan yang sedang disantapnya. Tak ada yang bersuara selama mereka makan, hanya suara sendok yang berbenturan dengan piring atau pisau yang memotong daging terkena alasnya. Biasanya, beberapa pelayan hanya menyaksikan para bangsawan makan, tapi Veroa menyuruh mereka untuk ikut makan, setidaknya bila mereka merasa tak nyaman makan bersama tuannya, mereka dapat undur diri dan makan di dapur. Seperti itulah Veroa, sungguh jauh berbeda dengan bangsawan lain, bahkan keluarganya sendiri tak berperilaku demikian.


    Sehabis sarapan, barulah Veroa memulai pembicaraan. Dia membuka topik dengan membahas hal-hal ringan terlebih dahulu, sedikit bercanda juga, lalu dilanjut dengan bahasan utama.


    “Ngomong-ngomong, apakah para penjaga itu memperlakukan kalian dengan baik?” dia memandang satu per satu wajah para gadis. Saat ditanya seperti itu, tak ada yang berekspresi yang akan membuat orang – orang yang melihatnya dapat menebak bahwa mereka diperlakukan dengan buruk, malah sebaliknya.


    “Mereka sangat baik kok, Tuan” salah seorang gadis angkat suara, bukan Yuyue Wulan yang sebelumnya hanya dia yang angkat suara.


    “Benar sekali Tuan. Mereka bahkan mengajak kami berkeliling, memperkenalkan kami kepada orang – orang di sekitar bahwa kami berada dalam perlindungan Tuan” yang lain menambahkan.

__ADS_1


    “Mereka juga mentraktir kami jajan...’


    Mendengar mereka mengutarakan pengalaman yang baik kemarin, Veroa merasa lega dan bangga dengan inisiatif kedua penjaga yang kemarin sampai repot-repot mengantar mereka berkeliling dan mentraktir jajan. Padahal, dia hanya meminta mereka untuk mengurusi identitas para gadis.


    “Aku harus memberi mereka hadiah...” selagi mendengar ocehan para gadis, Veroa memikirkan hal lain. Dia berpikir, hadiah apa yang setimpal, yang akan mereka terima dan membuat mereka senang, agar mereka tak merasa diabaikan. Barang mungkin akan habis, kenaikan pangkat apakah membuat mereka senang? Sejauh dirinya menjadi seorang duke, dia merasa biasa saja. Yang membuatnya merasa senang itu saat dirinya mendapat gelar dari sistem yang memiliki efek tertentu yang luar biasa. Untuk barang, dia pikir sejauh ini hadiah dari sistem selalu luar biasa. Tapi, apakah dia memiliki barang yang setara dengan hadiah pemberian dari sistem? Mungkin satu atau dua hal yang sulit untuk dicari dan mendapatkannya. Untuk skill, apakah mereka tertarik dengan pelatihan berpedang yang langsung dibimbing olehnya? Bukan ilmu pedang pada umumnya, tapi pedang yang menggunakan katana. “Kurasa, itu bukan ide yang buruk” gumamnya, tak jelas didengar oleh para gadis, tapi mereka hanya menatap Veroa dengan bingung.


    Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian karena gumamannya sendiri, dia mengalihkan perhatian mereka dengan berganti topik pembicaraan.


    “Oh iya, apakah kalian telah memutuskan untuk mengambil profesi apa? Atau setidaknya, dalam waktu dekat ini, rencana apa yang akan kalian lakukan?”


    “Apa rencana kalian?” tanyanya lagi kepada para gadis yang sekiranya telah merencakan tentang apa yang akan mereka lakukan di masa depan. Veroa bukannya bermaksud apa-apa, tapi dia merasa harus bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup mereka. Dengan bertanya seperti itu, dirinya berharap, bila mereka mendapat kesulitan saat melakukan rencananya, dia dapat membantu mereka. Itu hanya bentuk kepeduliannya terhadap para korban serangan goblin, sekaligus sebagai bentuk kompensasi karena terlambat menyelamatkan desa mereka.


    Secara serentak, seolah hati dan pikiran mereka satu, mereka berkata hampir berbarengan “Kami ingin menjadi pelayan pribadi Tuan”. Tau-taunya, mereka saling pandang, sepertinya tak menyangka bahwa rencana mereka sama.


    “Coba satu-satu memberikan alasannya, dimulai dari kamu” Veroa hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum sebelum bertanya, lalu menunjuk seorang gadis yang berada di ujung meja sebelah kiri untuk mendapat giliran pertama memberitahukan alasannya.

__ADS_1


    “Kata orang – orang, Tuan itu sangat hebat di usia muda, apalagi saya tak menyangka bahwa usia Tuan seumuran dengan rata-rata usia kami. Jadi, siapa tahu, dengan menjadi pelayan pribadi Tuan, saya dapat mencuri kejantanan Tuan, akan bagus bila Tuan masih perjaka. Hihi...” alasan gadis yang terlihat polos itu, mengejutkan Veroa sampai napasnya sempat tertahan, dia tertipu dengan penampilannya yang ternyata cukup beringas dari kata – katanya.


    Giliran memberitahukan alasan rencananya dilanjutkan ke gadis lain yang memiliki rencana yang sama. Tanpa diduga, alasannya serupa, tapi keinginan akhirnya berbeda, seperti hanya untuk membalas kebaikannya, untuk mengabdi, ada juga yang mencoba peruntungannya untuk mendapatkan hati Veroa.


    Selama mendengarkan alasan – alasan mereka, Veroa tersenyum. Dia tak menyangka, dirinya sepopuler itu di kalangan perempuan. Tapi, hatinya telah ada yang membuat kurungan bergembok, kecil kemungkinan pihak lain dapat membuka kurangan itu dan mengalihkan pandangan hatinya.


    “Wow...” saking tersanjungnya, dia tak dapat mengucapkan kata – kata, lebih tepatnya dirinya merasa bingung, bagaimana menanggapinya. Lalu, dia berkata “Alasan kalian sungguh membuatku terkesan. Tapi, apakah tak terlalu banyak bila kalian semua menjadi pelayan pribadiku?”


    Mereka saling pandang, lalu salah seorang gadis memberi saran, “Bagaimana kalau kita berganti jadwal melayani Tuan?”


    Niatnya, dengan bertanya hal itu, dia dapat menolak permintaan mereka dengan halus, karena dia belum terbiasa memiliki pelayan pribadi. Kini, situasinya dirasa semakin memburuk. Dia akhirnya menyetujuinya, karena tak ada alasan untuk menolak mereka menjadi pelayan pribadinya.


    Gadis – gadis yang lain sepertinya telah menentukan apa yang akan mereka lakukan. Satu per satu dari mereka memberitahukannya. Ada yang ingin menjadi penjahit, pelayan restoran, dan lain-lain. Tapi, dari wajah mereka terlihat adanya sedikit kekecewaan, entah apa itu. Untuk Yuyue Wulan sendiri, sebelumnya dia adalah seorang petualang, tapi cukup mengejutkan bahwa dia mengajukan diri kepada Veroa untuk menjadi penjaga pribadinya.


    Di akhir, Veroa hanya bisa mengusap wajahnya yang terasa tegang setelah berhadapan dengan belasan gadis.

__ADS_1


__ADS_2