
Beberapa hari dari sekarang, perang yang telah ditentukan waktu dan tempatnya akan segera dimulai. Selama beberapa hari ke depan ini, Veroa dibantu oleh Karina menyiapkan berbagai keperluan perang untuk para prajurit. Di Kota Tungsten, kabar perang ini baru menyebar namun sangat cepat orang – orang telah mendengar kabarnya. Terlebih, orang luar seperti pedagang keliling yang mendengar ini tentunya merasa terkejut dan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Lalu, perlahan seluruh Kerajaan Sylvani mendengar kabar ini hingga sampai ke telinga Raja Danmark dan Ratu Roya.
Saudara – saudaranya yang lain tentu lebih terkejut lagi mendengar adiknya menyatakan perang dengan alasan Kerajaan Rome tidak menyerahkan pelaku kejahatan yang dimaksud. Adik yang paling muda, Luna Terryenia histeris dan merasa khawatir dengan keadaan kakak tercintanya. Dia marah dengan kecerobohan kakaknya yang satu ini dan beberapa kali berniat pergi ke medan perang untuk membantu, namun sudah pasti orang tuanya takkan mengizinkannya apapun alasannya.
Para petualang merasa ingin berkontribusi untuk mengikuti peperangan, setelah menyelesaikan misi bersama para prajurit muda, mereka merasa ada sebuah rasa persaudaraan. Guild Master Alfrederic tentu tak segera menyetujui keinginan para petualang, sebelum dia mendapat persetujuan dari pihak terkait seperti Duka Tungsten, Pusat Guild Kerajaan Sylvani, dan tentunya Raja Danmark sendiri. Namun, karena waktu yang tak mendukung, dia hanya berharap mendapat persetujuan itu.
Hari ini adalah hari keberangkatan, pasukan besar yang berjumlah sekitar 2500 orang prajurit tua dan muda dicampur dengan para petualang yang berjumlah 1200 orang cukup memenuhi jalanan di hutan. Jalan yang tempuh mengikuti alur jalanan yang biasanya dilewati orang – orang, tak seperti saat Veroa yang mengambil jalan pintas. Perjalanan pun memakan waktu sekitar tiga pekan dengan sedikit beristirahat dan semangat juang yang tak memudar.
Waktu yang telah ditentukan itu adalah sepekan setelah kedua pihak sampai di medan perang yang telah ditentukan. Yang pasti, Veroa memberikan waktu sebulan saat itu untuk keduanya mempersiapkan peperangan. Sepekan di medan perang setelah mereka sampai, waktu itu dijadikan waktu pemulihan stamina dan mental sebelum dimulainya perang.
Tak ada yang memiliki nyali yang cukup besar untuk mengganggu pasukan besar seperti itu, baik para bandit yang biasanya menghadang jalan, maupun binatang buas. Perjalanan lancar tanpa hambatan dan akhirnya mereka sampai.
__ADS_1
Tak ada yang mengira bahwa pihak lawan, Kerajaan Rome tak menanggapi surat yang dikirim Veroa dengan serius. Sepekan lebih menunggu, tak ada tanda – tanda adanya musuh datang. Sedangkan Veroa, telah mengetahuinya saat semua orang sedang beristirahat, dia gunakan waktu itu untuk pergi ke tempat pihak lawan. Dia bukan marah mendapat penghinaan ini, dia malah tersenyum karena dapat membumi-hanguskan Kerajaan Rome di saat mereka sedang lengah. Dengan ini, takkan ada pihak yang memiliki kekuatan hukum untuk mempermasalahkan perbuatannya, karena memang dia telah menyatakan perang dari pihak individu secara resmi.
“Apa kau siap menghancurkan Kerajaan Rome, Alfred?” Tanya Veroa kepada Guild Master Alfrederic yang telah dipanggilnya setelah dia kembali ke perkemahannya.
“Bukannya, kita hanya merebut kekuasaan kekuasaan dan membuat pihak lawan mengakui kekuatan Kota Tungsten, Tuan? Selain itu, saya masih belum menangkap maksud dari ‘menghancurkan’ di sini” Guild Master Alfrederic hanya memastikan bahwa tebakannya benar bahwa Veroa hendak menghancurkan Kerajaan Rome bukan hanya sampai di medan perang, tetapi juga sampai ke kerajaan yang dimaksudkan.
Veroa tersenyum ditanyai seperti itu, lalu dia menjawab “Kita akan menghancurkan kekuasaan Raja Arthur sialan itu, agar otak kataknya dapat keluar dari sumur yang dalam itu. Terlebih, aku ada urusan yang menjadi penyebab perang ini di sana”
Masih merasa ragu, meski jantungnya telah berdetak lebih cepat setelah mendengarnya, Guild Master Alfrederic kembali berkata “Kuharap, orang – orang tak bersalah tak menjadi korbannya”
Guild Master Alfrederic pun segera pergi memberitahu para petualang yang ikut tentang mekanisme penyerangan nanti bahwa peperangan tak jadi di medan tempur yang telah ditentukan, melainkan menyerang secara langsung ke Ibukota Kerajaan Rome, Kota Barrium. Selain itu, dia juga sama melarang kepada para petualang untuk melukai warga sipil maupun orang yang tak mengangkat senjata untuk melawan.
__ADS_1
“Tujuan perang ini adalah memberikan pelajaran yang berharga kepada Raja Arthur yang teramat sombong. Bagaimana pun, kita tahu bahwa dia belum lama ini dilantik sebagai pewaris takhta. Jalannya masih panjang, sehingga kita tak benar-benar membumi-hanguskan kerajaan itu...” jelas Guild Master Alfrederic di hadapan orang – orang, tak peduli apakah dia prajurit atau petualang. Dia menjelaskan semua ini atas perintah Veroa, sehingga orang – orang memperhatikan dan mendengarkan penjelasannya.
Tak ada yang membantah, mereka sendiri bukanlah orang yang haus akan darah. Mereka bersemangat dan tak ada yang merasa takut akan kematian, meski ada beberapa orang yang menyembunyikan perasaan takutnya dan memikirkan keluarga serta menimbang-nimbang kekuatan musuh. Apapun tujuannya, mereka tak peduli. Yang terpenting lagi, tiap-tiap orang akan mendapat imbalan. Hanya saja, tak ada yang tahu bahwa Veroa takkan melibatkan mereka lebih jauh. Dalam beberapa kondisi, bila pasukan dari Kota Barrium sulit ditembus oleh prajurit Kota Tungsten maupun para petualang, maka dia yang akan beraksi sendiri.
Veroa menyadari itu, sehingga setelah Guild Master Alfrederic selesai menyampaikan penjelasan mekanisme peperangan yang telah berubah banyak, dia turut turun tangan. “Kalian tak perlu khawatir, aku takkan membuat peperangan ini menjadi perang yang bermandikan darah. Selain itu, aku jamin atas nama kehormatanku bahwa takkan ada satupun dari kalian yang kehilangan nyawa...”
Seseorang dari prajurit muda mengangkat tangan, raut wajahnya nampak bersemangat. Lalu, katanya “Mohon izin bersuara Tuanku...”
Sontak semua orang memperhatikannya, beberapa orang ada yang mengenalinya dengan sebagian besar orang tidak, hanya mengenali wajahnya. Namun, berbeda dari kebanyakan formalitas, tak ada yang menegurnya atau semacamnya, karena Veroa melarang siapapun yang menegur seseorang tanpa mengetahui rincian masalahnya.
“Iya, kamu, prajurit muda. Perkenalkan dirimu, lalu bicaralah” Veroa tersenyum, cukup puas dengan interaksi publik seperti ini yang tak monoton.
__ADS_1
“Baik Tuanku. Perkenalkan, nama saya Adillez dari regu 17 hendak menyampaikan sedikit kekeliruan terkait jaminan yang anda sampaikan sebelumnya...” dari apa yang dirinya sampaikan, dia tak takut akan kematian, selagi dia mati dengan cara terhormat, seperti perang yang akan dihadapinya sebentar lagi. Dia juga menyampaikan hal-hal terhormat dan keksatriaan lainnya yang cukup mengesankan untuk usianya yang masih muda, meski Veroa sendiri masihlah lebih muda tak terlalu jauh darinya.
“Kau keliru, prajuritku...”