Sistem Katalis

Sistem Katalis
Apakah Konsekuensinya Sebanding?


__ADS_3

    “Berhenti!” dua tombak silangkan oleh dua orang penjaga, menghadang Veroa yang hendak masuk seenaknya.


    “Sepertinya, memang gak bisa ya tanpa orang – orang tahu identitasku untuk dapat memasuki istana raja” sepertinya dia hanya mencoba-coba, apakah setelah pesta usai, orang – orang masih pada bingung. Tapi nyatanya, para penjaga ini masih sadar akan tugasnya. Terpaksa, dia mengeluarkan token yang berlambangkan kejayaan Kota Tungsten yang bersebelahan dengan lambang kejayaan Kerajaan Sylvani. Semua orang tahu tiap-tiap lambang kerajaan, para prajurit ini jelas membelalakkan sepasang matanya, merasa tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.


    Beberapa detik Veroa menampilkan token, kedua penjaga itu malah terbengong. Mereka segera sadar setelah Veroa menarik kembali tokennya dan memasukkannya ke dalam saku pakaiannya. “Sepertinya, diriku masih tetap tak diizinkan masuk, ya? Ok deh” berniat untuk pergi, dia setengah membalikkan badan sebelum kedua penjaga itu memberhentikannya dan meminta maaf atas ketidaksopanan dan kelalaiannya. Salah seorang dari keduanya berlalu pergi setelah memberitahu Veroa untuk menunggu dirinya dipersilahkan masuk oleh orang yang bersangkutan.


    “Eh? Tunggu, katakan pada Raja Arthur, Duke Tungsten mengunjunginya” sebelum penjaga pergi lebih jauh, dia memberitahu identitas yang lebih spesifik, dia sendiri merasa aneh karena tak ditanya.


    Dia menunggu sedikit lama, sepertinya Raja Arthur memerlukan beberapa waktu untuk bersiap menemui tamu bangsawan dari kerajaan lain. Akhirnya, gerbang istana dibuka, dia dipersilahkan masuk dan dibimbing oleh seorang pelayan, membawanya pergi ke suatu tempat yang telah ditentukan.


    Bukannya dibimbing masuk ke dalam istana, dia malah dibawa ke halaman istana. Di sana, ternyata ada sebuah furnitur kecil yang terbuat dari batu yang diberikan sentuhan seniman. Seseorang sedang duduk di sana, di atas meja batunya ada bingkisan sederhana yang diperuntukkan tamu penting. Dalam cerek kecil yang terbuat dari kaca itu, sepertinya telah tersedia semacam teh, namun berwarna hitam sedikit bening.


    Setelah sampai di sana, pelayan yang mengantarnya membungkukkan badannya sedikit sebagai penghormatan, lalu dia pergi menyerahkan Veroa pada orang yang sedang duduk itu.


    “Silahkan duduk, Tuan...” pria itu berdiri dan mempersilahkan tamunya untuk duduk, dia menjeda ucapannya, menunggu tamunya itu memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


    “Veroa, anda bisa memanggilku demikian, Raja Arthur” ucapnya setelah dirinya duduk di atas kursi batu yang ternyata terasa lumayan empuk, seperti duduk di atas kursi berisi kapuk randu yang terasa empuk saat diduduki.


    “Ah, anda adalah Duke Veroa yang memerintah Kota Tungsten yang terkenal akan pembangunannya yang inovatif itu, ya? Apalagi sampai dapat memulihkan perekonomiannya secepat itu. Anda tahu? Itu sangatlah hebat!” ternyata eh ternyata, dirinya tak menyangka, berita tentang kemajuan kotanya yang terbilang pesat, telah menyebar sampai ke kerajaan tetangga.


    “Raja bisa aja, diriku tak sehebat itu” Veroa tak bersikap sombong, karena memang perkembangan yang sedang dilakukannya untuk kota tercintanya masihlah langkah awalnya.


    Setelah berbincang-bincang ringan, yang sebenarnya masing-masing saling menilai sikap lawan bicara, Raja Arthur memancing Veroa untuk beralih topik ke topik utama. “Saya yakin, kedatangan anda bukan hanya untuk berbincang-bincang atau mengucapkan selamat atas diriku yang telah menjadi raja, ‘kan?” katanya.


    Sebelumnya, Veroa sedikit bingung untuk menyampaikan maksudnya, dia tak terlalu mahir dalam mengalihkan topik. Namun, bila lawan bicara memancingnya untuk membahas topik utama, dia dengan senang hati mengutarakannya.


    “Maaf. Silahkan lanjutkan apa yang hendak anda ucapkan” menyadari sikapnya tak pantas diperlihatkan pada tamu, dirinya segera menyadarinya dan dia segera mengendalikan emosinya yang terpancing, akibat lawan bicara mengungkit masalah adiknya. Meski, adiknya telah melakukan kejahatan besar, dirinya merasa, tak sepatutnya pihak luar yang memberikan hukuman. Dialah yang berhak untuk memberinya hukuman yang setimpal, tapi dia sadar, dia baru saja melakukan kesalahan dengan menyela lawan bicara dengan tindakannya.


    “Saya bermaksud untuk membawa Pangeran Arthemis, tujuannya untuk menjatuhi hukuman mati karena telah menyinggung perasaan saya dan menodai bawahan berharga saya” Veroa tak merasa gentar berkata demikian di hadapan seorang raja berkaitan dengan orang sedarah.


    Raja Arthur berusaha menahan amarahnya saat mendengar adiknya hendak dieksekusi mati, tapi dirinya juga mendengar bahwa bawahan Veroa juga menjadi korban dan bahkan telah menyinggung perasaannya. Dia tak seharusnya marah, tapi ini menyangkut permasalahan saudaranya yang seharusnya hukum tak disangkutpautkan dengan perasaan.

__ADS_1


    “Um... bisakah anda jelaskan lebih rinci lagi, apa yang menjadi alasan anda hendak menghukum Pangeran Arthemis dengan dijatuhi hukuman mati? Yang seharusnya, kamilah yang bertanggung jawab untuk itu” dia berusaha untuk tak membuat konflik yang tak diperlukan sehari setelah dirinya menjabat menjadi raja.


    “Maaf, saya kurang mempercayai saudara sedarah memiliki nyali untuk mengeksekusi saudaranya sendiri, sejahat apapun dia. Maka dari itu, saya hendak membantu anda, agar tangan anda tak terkotori oleh darah saudara anda sendiri” Veroa masih bersikap santai, dia juga memberikan alasan yang masih dapat diterima oleh akal, meski masih dapat dirasakan adanya niat terselubung dibalik perkataannya.


    Raja Arthur tak berniat untuk menyerahkan Pangeran Arthemis kepada siapapun, dia tak ingin adiknya dijatuhi hukuman mati. Tapi, dia memang akan menghukum adiknya itu dengan hukuman yang setimpal dan juga dirinya hendak memberikan kompensasi yang layak kepada orang – orang yang menjadi korban oleh tindakan kejahatan yang telah diperbuat adiknya.


    Memikirkan, bagaimana cara dia agar dapat mempertahankan keberadaan adiknya untuk tetap berada dalam kendalinya. Dia sadar, setelah kedatangan Veroa dari kerajaan tetangga, pasti akan ada pihak lainnya yang hendak menagih hukuman terhadap adiknya itu. Bisa jadi, masalah yang lebih besar akan datang.


    Setelah menghirup udara segar dalam-dalam, dia lalu berkata “Semoga anda tidak marah, saya tak bisa melepaskannya begitu saja, karena memang dia tanggung jawab saya untuk mengurusnya. Secara hukum, saya juga memiliki kendali atas hal itu”


    Setelah mendengar kata ‘hukum’ mulai dipergunakan, Veroa tersenyum. Dia telah dapat menduganya, pada akhirnya Raja Arthur akan tetap mempertahankan keberadaan Pangeran Arthemis berada dalam perlindungannya dengan menggunakan hukum.


    “Setelah ini, kerajaan anda harus bersiap-siap untuk menghadapi badai yang besar. Untuk peringatan terakhir, apakah anda berpikir, seorang penjahat sebanding dengan keamanan kerajaan ini untuk dilindungi? Coba renungkan itu” akhirnya, Veroa tak ada jalan lain, selain menggunakan jalan kekerasan untuk menghancurkan sebuah pegangan yang bernama hukum ini.


    Melihat belum adanya tanggapan, yang ada malah Raja Arthur memandangnya sambil tersenyum. Sepertinya, dirinya tak terlalu memikirkan ucapan Veroa yang dianggap aneh. Dia mungkin akan menganggap serius bila mendengarnya dari seorang raja atau seseorang yang memiliki jabatan yang setara dengannya. Veroa kembali tersenyum sebelum berucap, “Saat kita bertemu lagi nanti, jangan ada penyesalan ya... Sampai jumpa, di reruntuhan Kerajaan Rome”

__ADS_1


__ADS_2