
Pagi itu, Maya dan seluruh keluarga makan pagi bersama, kondisinya juga sudah lebih membaik daripada kemarin.
"Jadi kapan kalian adain resepsi?" tanya Rico membuat Maya melirik kearah Aldo dan ternyata Aldo juga melirik kearahnya.
"Gini deh, hari ini biar aku yang kekantor, kalian mulai urus resepsi itu aja," ucap Rio.
"Terus yang nemenin kak Vina siapa kak?"
"Nanti bunda sama ayah kesini kok, mereka yang akan nemenin aku," ujar Vina membuat Aldo dan Maya pun mengangguk.
Seharian itu Aldo dan Maya menghabiskan waktunya mengurus resepsi mereka, setelah itu mereka pergi ke sebuah restoran untuk makan siang dan jam sudah menunjukkan pukul setengah lima.
"Kamu pasti capek kan?" tanya Aldo karena melihat Maya memijat kakinya, Maya pun mengangguk sembari tersenyum.
"Kak Aldo mau ngapain?" tanya Maya terkejut saat Aldo mengangkat kakinya dan menaruhnya diatas paha lelaki itu.
"Sini biar kakak pijitin," ucap Aldo sambil memijit lembut kaki Maya, jujur Maya terharu melihatnya, entah mengapa dia bisa merasakan cinta Aldo yang begitu tulus untuknya.
"Kak udah nggak enak diliatin orang," ucap Maya risih karena ternyata beberapa pasang mata menatap kearah mereka.
"Anggap aja mereka nggak ada,"
*Wah cowok idaman
__ADS_1
Gue pengen jadi ceweknya
cowoknya cool, ganteng, dan kelihatan muda banget*
*Itu adeknya atau kekasihnya
kayaknya adeknya deh soalnya cowoknya lebih cocok sama gue*
Entah mengapa Maya yang mendengarnya menjadi emosi, dengan kasar wanita itu menurunkan kakinya dari paha Aldo membuat Aldo terkejut.
"May, kenapa?, sini aku pijitin, belum selesai lo,"
"Kita pindah restoran aja kak, malas disini, banyak mata pelakor," ucap Maya lalu melangkah pergi membuat Aldo tersenyum, lelaki itu yakin bahwa sekarang pasti Maya cemburu dan cemburu tanda cinta.
"Kamu kenapa sih?, kok tiba-tiba jadi sebel sendiri," ucap Aldo sambil mengemudi mobilnya untuk pulang kerumah.
"Kak Aldo tadi kenapa lama baru ke mobil, ladenin cewek-cewek itu dulu yah, dasar buaya," ujar Maya dengan nada kesal membuat Aldo tertawa dan tawanya Aldo malah membuat Maya semakin kesal.
"Apaansih kak!!, kok malah ketawa?, nggak ada yang lucu,"
"Ada, kamu lucu,"
"Bodo,"
__ADS_1
"Cemburu ya?" tanya Aldo sontak membuat Maya langsung menatap suaminya itu, Aldo juga langsung memberhentikan mobilnya dan menatap balik Maya.
"Kenapa berhenti?" tanya Maya gugup, entah kenapa dia menjadi gugup saat ini.
"Cemburu kan kamu, cemburu itu tanda cinta lo,"
"Nggak kok, siapa yang cemburu, kepedean!!" ucap Maya sambil menatap kearah lain karena dia benar-benar gugup bertatapan dengan Aldo saat ini, namun Aldo malah memegang kedua pipi Maya dan membalikkannya kearah dia sehingga pandangan mereka bertemu kembali.
"Apa kamu mencintai kakak, Maya?" tanya Aldo membuat Maya terdiam dan dirinya semakin gugup.
"Aku..."
"Kenapa kamu nggak pernah nanya gimana perasaan kak Aldo ke kamu?" ucap Aldo memotong ucapan Maya.
"Emang kak Aldo cinta sama Maya?" ujar Maya.
"Cinta?, sangat Maya, dari dulu kakak sudah mencintai kamu hingga kini rasa itu tak pernah berubah, makanya kakak nggak pernah dekat dengan wanita lain selain kamu," ucap Aldo dengan wajah yang serius.
Maya yang mendengarnya serasa tak percaya, Aldo mencintainya sejak lama?, padahal sebelum pernikahan ini, Maya hanya menganggap Aldo seorang kakak dan Maya fikir Aldo juga seperti itu, sungguh dia tak menyangka akan pengakuan suaminya itu.
"Tuhan mau kita bersama, Maya, bukan sebagai kakak dan adik tapi sepasang kekasih, kak Aldo sangat mencintai kamu," ujar Aldo lalu perlahan wajah lelaki itu mendekat kearah Maya dan semakin dekat saat tidak ada penolakan dari istrinya itu, namun tiba-tiba hp Aldo berdering.
"Kak, angkat aja dulu, sapa tau penting," ucap Maya sebab Aldo seolah tak perduli dengan panggilan itu, Maya juga belum siap jika Aldo menciumnya saat ini, semuanya terlalu terburu-buru baginya dan itu membuatnya bingung. Aldo pun dengan rasa kesal mengangkat hpnya itu dan yang menelfonnya adalah Rico, sedangkan Maya, wanita itu langsung menatap kearah jendela untuk menghilangkan rasa gugupnya.
__ADS_1