
"Aku ikut kekantor yah hari ini," ucap Maya pagi itu saat dia dan Aldo tengah sarapan.
"Boleh, malah kehadiran kamu bakal bikin aku semangat kerjanya," tadi malam mereka sudah baikan, dan entah mengapa setiap kali terjadi masalah, masalah itu malah membuat hubungan mereka lebih erat dan romantis dari sebelumnya.
Setibanya dikantor, Maya dan Aldo langsung menuju ruangan Aldo dengan tangan yang terus saling menggenggam membuat para karyawan tersenyum-senyum melihat pasangan itu.
"Kak Rio!" teriak Maya saat melihat keberadaan Rio, dia pun segera berlari kearah kakaknya itu dan memeluknya. "Aku kangen banget,"
"Bilangnya kangen, tapi nggak pernah main kerumah, keponakan kamu juga kangen sama tantenya," ucap Rio.
"Yaampun sayang, kamu kalau udah lihat Rio langsung lupa sama suaminya," kata Aldo karena tadi Maya langsung melepaskan genggaman tangan itu dan berlari memeluk Rio tanpa perduli pada suaminya itu, kata-kata Aldo itu hanya mendapat cengingiran dari Maya.
"Maaf," ujar Maya pada Aldo. "Aku juga kangen banget sama ponakan aku itu, sama kak Vina juga,"
"Gimana kalau pulang kantor nanti, kalian berdua ikut kerumah, bermalam sekali-kali," tawar Rio membuat sepasang suami istri itu mengangguk setuju.
Lama-lama dikantor jua membuat Maya merasa bosan, dia fikir menemani Aldo bekerja akan menyenangkan, namun nyata dia lebih sering ditinggal diruangan suaminya itu karena Aldo harus meeting.
__ADS_1
"Mending aku jalan-jalan ditaman dekat kantor aja deh sambil nunggu kak Aldo sama kak Rio pulang," gumam Maya, lalu gadis itu pun mengirimkan Aldo SMS bahwa dia pergi ketaman karena bosan.
Setibanya ditaman itu, Maya memasang headset ditelinganya sambil duduk disalah satu kursi sembari menatap indahnya langit, dia berfikir kalau Aldo dan dia ketaman ini pasti akan romantis, berdua menatap langit bersamaan, membayangkannya saja sudah sangat membahagiakan.
"Aku nggak nyangka kita akan ketemu disini," ucap seseorang lalu duduk disebelah Maya, Maya sama sekali tak mendengar ucapan orang itu karena headset ditelinganya, dia juga tak merasakan akan kehadiran orang itu, mungkin saking seriusnya menatap langit ditambah dia memikirkan Aldo.
Orang itu yang tak lain adalah Arga bingung karena tak mendapat respon apapun dari Maya, saat sadar bahwa Maya memakai headset dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pantesan kamu nggak dengar, pakai headset ternyata," kata Arga sambil mencabut headset itu dari telinga Maya membuat Maya terkejut.
"Sejak kapan kamu ada disini?"
"Kamu mau kemana?" tanya Arga saat Maya berdiri dan hendak pergi.
"Aku nggak mau ada yang salah paham kalau liat kita berdua disini, aku punya suami dan kamu juga punya istri, ada hati yang harus dijaga," kata Maya.
"Berteman pun nggak boleh?, posesif sekali yah suami kamu, tahan sama laki-laki kayak dia?"
__ADS_1
"Sudah lah Arga, intinya suami aku nggak seburuk yang ada dipikiran kamu, kak Aldo udah berubah,"
"Terserah sih, dari dulu kan kamu emang keras kepala," ucap Arga datar. Maya pun melangkah pergi, namun baru satu langkah dia melangkah, wanita itu teringat akan Dinda, bukankah saat semuanya terbongkar, Arga terlihat sangat kecewa.
"Arga," panggil Maya.
"Nggak jadi pergi?"
"Bagaimana Dinda?" tanya Maya.
"Bagaimana apanya?" tanya balik lelaki itu.
"Hubungan kamu sama Dinda baik-baik aja kan, kamu nggak kasar dan betak Dinda kan?" sebenarnya jika bukan Dinda istrinya Arga, mungkin Maya tidak akan bertanya sekepo ini tentang hubungan keduanya, namun karena Dinda sahabatnya dan dia sangat menyayangi Dinda, dia tidak mau siapapun melukai sahabatnya itu walaupun suami dari Dinda sendiri.
"Pernikahan aku itu privat aku sama istri aku, dan kamu nggak perlu tau tentang bagaimana pernikahan kami,"
"Kamu benar, tapi tolong jangan sakiti Dinda. Ga, Dinda itu sebenarnya perempuan yang rapuh, dia hanya pura-pura kuat. Kamu sendiri tau kan, melupakan bukanlah hal yang gampang, dan sahabat aku itu bukanlah tipekal orang yang gampang jatuh cinta dan gampang melupakan," ucap Maya lalu pergi dari hadapan Arga, semoga saja kata-katanya bisa membuka pikiran Arga agar mau memaafkan Dinda dan memberi Dinda kesempatan.
__ADS_1
Melupakan memang bukanlah hal yang gampang May, begitupun dengan jatuh cinta, itu sebabnya sampai detik ini aku masih mencintai kamu. Apa aku egois yah sama Dinda, bukankah aku dan dia sama-sama mencintai orang lain, dan terlebih orang yang aku cintai sahabatnya Dinda, pasti dia akan sakit seperti yang aku rasakan saat tau bagaimana perasaan aku, batin Arga.