
"Jangan geer karena aku udah nolongin kamu dari mama, hal itu aku lakuin karena aku tau aja bagaimana rasa sakitnya dihina," ujar Arga saat dia dan Dinda sudah berada dikamar dan hendak tidur. Setelah mengucapkan itu, Arga pun langsung membelakangi Dinda.
"Apapun alasannya, terima kasih," ujar Dinda sembari menatap punggung Arga dengan senyuman dibibirnya, Arga masih dapat mendengar perkataan Dinda itu, bahkan hatinya menjadi tak menentu, dia tak akan mempermasalahkan hal ini jika orang yang dicintai Dinda itu bukan Aldo, tapi kenapa dari sekian banyak lelaki harus Aldo dan Aldo lagi yang bermasalah dengannya.
"Sepertinya aku mulai mencintai kamu Ga," kata Dinda lagi beberapa menit setelahnya, gadis itu menunggu apa yang akan dikatakan Arga, namun sudah beberapa detik berlalu dan Arga masih belum ada pergerakan.
Apa dia sudah tidur, batin Dinda.
"Yah, beneran udah tidur, berarti Arga nggak dengar dong yang aku ucapin barusan," ucap Dinda saat melihat mata Arga yang tertutup, saat ini wanita itu tengah jongkok dihadapan Arga.
Tanpa sadar Dinda mengusap lembut rambut Arga dan matanya mengamati setiap inci wajah suaminya itu, lagi-lagi senyum mengembang dibibirnya.
__ADS_1
"Good night my husband,"
Cup.
Entah kerasukan apa dan mendapat keberanian dari mana, Dinda mengecup singkat kening Arga lalu kembali naik keatas ranjang dan masuk ke alam mimpi.
Sedangkan dilain tempat.
Aldo baru saja pulang dari kantor, jam menunjukkan pukul 10.00 malam dan dia yakin bahwa Maya pasti sudah tidur. Dia pun memasuki rumah setelah membuka pintu yang terkunci, untung saja dia punya kunci cadangan. Tapi, saat melewati ruang tamu, lelaki itu dikejutkan oleh Maya yang berada disana dan sepertinya gadis itu sudah tidur.
Aldo merasa tambah bersalah saat melihat wajah lelah istrinya, dia yakin pasti Maya menunggunya pulang sehingga tertidur disofa.
__ADS_1
"Aku sudah ingin melepaskanmu May, membebaskanmu dari pernikahan ini, tapi kenapa, kenapa kamu malah mendekat, dan membuat hatiku jadi tidak rela melepasmu," gumam Aldo sambil menatap wajah Maya yang sudah berada diatas kasur dikamar mereka.
Setelah puas memandangi wajah Maya, Aldo pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, cukup lama dia dikamar mandi karena memikirkan tentang masalah ini.
"Diminum tehnya kak," ujar Maya secara tiba-tiba membuat Aldo yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut membuat Maya ikutan terkejut sehingga gelas yang dipegangnya terjatuh dan mengenai kakinya.
"Awh," keluh Maya sebab air teh itu panas ditambah dengan gelas yang pecah dan goresannya sedikit mengenai kaki Maya. Aldo pun dengan sigap langsung menggendong istrinya itu dan mendudukkan Maya ditepi ranjang lalu dengan cepat dia mengambil kotak p3k dilaci meja kamar dan dengan telaten mengobati luka Maya.
Terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik untukku kak, batin Maya yang tersentuh dengan perlakuan Aldo.
"Sakit banget yah?" tanya Aldo khawatir karena melihat mata Maya berkaca-kaca, padahal itu bukan hanya karena sakit dikaki wanita itu, tapi juga karena dia bahagia oleh perlakuan Aldo.
__ADS_1
"Lebih sakit hati aku saat kakak mengabaikanku tadi pagi. Aku minta maaf kalau kata-kata aku selalu nyakitin kakak, tapi itu juga karena kakak yang nggak jujur tentang Dinda ke aku," kata Maya sambil menunduk karena tak sanggup menatap wajah Aldo, dia berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya saat ini, namun saat tangan kokoh merengkuh tubuhnya, saat Aldo memeluknya begitu erat, pecah sudah tangisan Maya disana.
Maya merindukan pelukan ini, rasa nyaman dan tentram yang selalu dirasakannya setiap berdekatan dengan Aldo dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah. Sedangkan Aldo, berpelukan dengan Maya juga adalah tempat ternyaman baginya, pria itu pun mencium dalam-dalam aroma Maya seolah-olah sebentar lagi mereka akan berpisah dalam jarak yang begitu jauh.