
"Ma, aku sama Dinda makan malam diluar yah," pamit Arga membuat Maudy menatap sinis Dinda yang berada disamping Arga, hal itu sontak membuat Dinda menunduk. "Ma, jangan tatap istriku seperti itu," lanjut Arga berucap dan tangannya sudah menggenggam erat tangan Dinda. Lelaki itu tau istrinya sedang takut.
"Pergilah!"
Sesampainya mereka dicafe, Arga malah mengajak Dinda untuk menari bersamanya, hal itu sontak ditolak Dinda.
"Ayolah Din!"
"Nggak Arga!"
"Disini kan nggak ada orang, jadi buat apa malu," Arga memang sengaja menyewa restoran itu untuknya dan Dinda. Lelaki itu hanya berharap akan cepat mencintai Dinda, begitupun sebaliknya, dan alangkah indahnya saat perasaan keduanya sama-sama terbalas.
"Tapi aku nggak tau menari,"
"Huh, yasudalah," bersamaan dengan ucapan Arga datanglah pelayan restoran membawakan mereka makanan. Tak ada suara setelahnya dan mereka berdua asik makan, makanan masing-masing.
__ADS_1
"Kamu kok senyum-senyum sendiri?, tadi kan marah," ujar Dinda membuat Arga menatapnya lekat. Dinda mengira Diamnya Arga karena marah akibat ajakan menari Arga ditolaknya.
"Aku nggak pernah marah Din, kalau kamu emang nggak mau menari sama aku, yaudah. Dan aku senyum karena tempat ini punya banyak kenangan tentang aku dan Maya. Kamu mau tau nggak, ini cerita lucu, dulu Maya makan disini dan dia lupa bawa dompetnya, hampir saja dia disuruh cuci piring, untungnya aku juga berada disana dan aku menolongnya," ujar Arga membuat Dinda terdiam.
Tadinya gadis itu mengira Arga senyum-senyum sendiri karena pergi dengannya, namun nyatanya dalam hati dan pikiran lelaki itu masih tentang Maya.
Kenapa sih semuanya mencintai Maya. apa aku nggak pantas buat dicintai, batin Dinda.
"Aku minta maaf Din, aku kecoplosan bahas Maya, maafin aku," ujar Arga yang sadar akan kesalahannya sehingga menyebabkan Dinda sontak terdiam.
"Nggak papa, aku ngerti, lagipula aku nggak punya hak kan buat marah, yang ada aku cuman punya hak sepatu doang," Dinda memaksakan senyumannya didepan Arga, dia juga tidak mau Arga kegeeran dan merasa dia cemburu, padahal Dinda... entahlah gadis itu bingung dengan perasaannya, intinya ini bukan perasaan cinta.
"Ohiya Arga, ini makanan aku udah habis, kita pulang sekarang aja yah," ucap Dinda yang melihat Arga juga sudah selesai makan.
"Iya, kamu duluan aja, aku bayar makanan ini dulu," Dinda pun mengangguk, lalu melangkahkan kakinya keluar restoran. Gadis itu berfikir malam ini adalah awal untuk belajar mencintai Arga, namun beberapa menit yang lalu, Dinda berubah fikiran, dan memilih menutup hatinya untuk Arga dan untuk siapapun itu.
__ADS_1
"Arga itu aneh banget sih, mobilnya kok malah diparkir disana, kan harus nyebrang lagi," gerutu Maya kesal. Pasalnya Arga malah memarkir mobilnya dijalur sebelah sehingga membuat wanita itu harus menyebrang lagi, tapi sebenarnya Arga memarkir disana agar bisa gandengan dengan Dinda untuk menyebrang, namun sayangnya, lelaki itu melupakan hal tersebut dan malah menyuruh Dinda untuk duluan ke mobil.
"Dinda!" teriak seseorang membuat Dinda yang tengah berada ditengah-tengah jalan menoleh kearah samping dan mendapati Maya berjalan kearahnya.
"Buat apa kamu disini?" tanya Dinda saat Maya sudah berada dihadapannya.
Mungkinkah Maya mengikutiku dengan Arga, batin Maya.
"Aku kesini mau cari udara segar sekalian mau mampir ke Indomaret sebelah sana," tunjuk Maya pada Indomaret yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kenapa nggak naik mobil atau taxi, kok malah milih jalan kaki, sendirian lagi, bahaya malem-malem kayak gini, apalagi untuk wanita, kamu ngerti lah maksud aku apa," ujar Dinda membuat Maya mengangguk sembari tersenyum. Walaupun memang Dinda terlihat jelas menjauhi darinya saat ini, namun Maya bersyukur karena Dinda masih perhatian dengannya, itu tandanya Dinda masih sayang pada Maya.
"Rumahnya kak Rio dekat kok dari sini, jalan kaki lima menitan juga sampai,"
"Awas!!" teriak Arga membuat dua orang gadis yang tengah berada di tengah-tengah jalan menoleh kearah samping dan mendapati mobil melaju cepat kearah mereka, bahkan tinggal beberapa jarak saja mobil itu bisa menabrak keduanya.
__ADS_1
Brukk.
"Aaa sakit," keluh Dinda dengan memegang kakinya yang berdarah. Sedangkan Maya, gadis itu baik-baik saja sebab tadi yang ditolong oleh Arga adalah Maya, membuat Dinda yang berusaha berlari ketepi jalan malah duluan terserempet mobil.