
"Kamu mandi aja duluan," ujar Arga membuka suara saat dia dan Dinda sudah bangun dari tidur mereka. Dinda pun tak banyak bicara dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Semalam tak terjadi apapun diantara keduanya, bahkan tidur mereka sangat berjarak mengingat kasur Arga memang besar dan tak lupa pula dengan bantal guling ditengah-tengahnya. Sebenarnya Arga, terlebih lagi Dinda tak nyaman tidur seranjang, namun Arga tak tega jika harus menyuruh Dinda tidur disofa dan dia tak akan membiarkan itu, begitupula Dinda, gadis itu tak mungkin kan menyuruh Arga tidur disofa sedangkan ini rumah Arga, biarpun tak ada cinta namun gadis itu juga kasihan jika Arga tidur disofa.
Tiba-tiba seseorang menelfon Arga membuat dia menyadari akan satu hal saat melihat siapa yang menelfonnya.
Dalam telfon.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Bu Maya masuk rumah sakit tuan, saya belum tau penyakitnya apa," ucap orang dibalik telfon itu.
"Jangan ikutin Maya lagi, tugas kamu sudah selesai dan saya akan kasih uangnya selama kamu bekerja sama saya," ujar Arga lalu mematikan telfon itu sepihak.
Dulu, memang dia menyuruh orang untuk mengikuti kemanapun Maya pergi dan mengabari keadaan wanita itu pada Arga, namun beberapa Minggu yang lalu sebelum Arga ke Bali, orang yang Arga suruh itu berhenti sementara karena istrinya sedang sakit. Dan tanpa Arga tau, ternyata orang suruhannya itu sudah kembali mengikuti Maya.
__ADS_1
Tak bisa Arga pungkiri ada perasaan cemas dalam hatinya untuk Maya, sakit apakah wanita itu? dan bagaimana keadaannya sekarang?
"Aku sudah selesai, kamu bisa mandi sekarang," sebuah suara membuyarkan lamunan Arga, dia melirik kearah sumber suara itu dan mendapati Dinda sudah rapi dengan bajunya. Karena melamun tadi, Arga sampai tak sadar bahwa gadis itu sudah keluar dari kamar mandi sejak tadi.
Setelah selesai mandi, Arga kembali berfikir apakah lebih baik dia kerumah sakit menjenguk Maya, dia merasa khawatir pada gadis itu, biar bagaimanapun masih Maya wanita yang bertahta dihatinya.
"Ini kopinya. Sepertinya kamu ada beban pikiran yah?" tanya Dinda memberanikan diri, pasalnya pagi ini sudah dua kali dia melihat Arga melamun.
"Terima kasih," jawab Arga tanpa membalas pertanyaannya tadi, lalu meminum kopi yang dibawakan Dinda.
"Apa karena pernikahan ini makanya kamu sering melamun?" tanya Maya lebih lanjut.
"Menemaninya,"
"Kalau misalnya kamu sudah menikah dengan orang lain, bagaimana?"
__ADS_1
"Apa kamu sedang membahas diri kamu sendiri?, apa orang yang kamu cintai itu Maya dan Maya sedang sakit?" tebakan Dinda sungguh benar, gadis itu memang sudah curiga bahwa Arga memang masih menyimpan rasa pada Maya yang notabennya adalah mantannya.
"Aku harus melakukan apa?, aku khawatir padanya?" tanya Arga membuat hati Maya menggeleng tak percaya. Bayangkan, seorang suami, yah walaupun tidak ada cinta dalam pernikahan ini, namun Dinda adalah istrinya, tidak bisakah pria itu menjaga ucapannya didepan Dinda.
"Pantas yah orang yang sudah menikah membicarakan wanita lain, terlebih lagi itu kepada istrinya," bukannya ingin mengekang Arga dalam pernikahan mereka, Dinda hanya menghormati pernikahan ini, walau dia tau dia menikah dengan Arga untuk membayar utang-utangnya, namun bukankah pernikahan ini sah dan dia sudah berhak atas Arga. "Tapi terserah kamu sih, kalau mau jenguk Maya juga nggak papa. Aku nggak pantas melarang, toh aku hanya membayar utangku makanya setuju menikah dengan kamu, tapi kamu harus ingat, Maya juga punya suami," lanjut Dinda berucap karena Arga terdiam, sesaat kemudian gadis itu pun melangkah keluar kamar.
Dinda benar, tidak pantas aku memikirkan Maya mengingat statusku sekarang, lagipula disana sudah pasti ada Aldo dan keluarga Maya, mereka pasti akan menjaga Maya dengan baik, batin Arga.
Sedangkan, Maya, wanita itu baru saja selesai makan setelah disuapi oleh Vina. Gadis itu sudah cerita semuanya kepada Vina saat mereka hanya berdua dalam ruangan itu.
"May, apa yang dilakukan Aldo mungkin salah, namun bukankah itu kewajiban kamu sebagai istrinya," kata-kata Vina itu mampu membuat Maya yang tadinya menangis langsung menhentikan tangisannya.
"Tapi, aku belum siap," lirih Maya. Vina pun tersenyum lalu mengusap lembut kepala adik iparnya itu.
"Terus sampai kapan jika harus menunggu kamu siap. Lagipula nih yah, bukankah kejadian semalam bisa membuat hubungan kalian membaik kembali. Kehadiran seorang anak akan sangat mewarnai sebuah pernikahan. Kamu lihat kak Vina sekarang, keluarga kecil kakak jadi lengkap dan lebih bahagia dengan kehadiran Rafael, bahkan kakak dan kak Rio sudah lupa kapan terakhir kali kami bertengkar, yang ada cuman perdebatan kecil,"
__ADS_1
Ucapan Vina itu memang Maya benarkan, namun Aldo itu bukan kak Rio yang lembut dan tulus pada orang yang dicintainya, yang Maya lihat dari Aldo hanya obsesi memilikinya bahkan pernah sampai berniat membunuh Arga, sungguh kejadian itu tak akan pernah Maya lupakan.
Ya Allah, bukannya aku tak ingin memiliki anak, namun jangan dulu dalam waktu dekat ini, setidaknya sampai kak Aldo sadar betul akan kesalahannya dan ingin memperbaiki diri, batin Maya.