
"Jadi kalian bakal tinggal berdua aja?" tanya Rio sedikit terkejut saat Maya dan Aldo mengatakan bahwa mereka akan tinggal berdua dan mereka sudah membeli rumah juga.
"Iya Rio, kak Aldo akan membawa Maya kerumah kami,"
"May, jangan pergi yah, nanti kak Vina sama siapa kalau mas Rio kekantor, nanti kak Vina kesepian dong dirumah ini," ujar Vina sedih dan matanya juga berkaca-kaca mungkin hal itu karena efek kehamilannya.
"Sayang, kamu jangan nangis dong, kalau Maya udah nggak disini lagi, mas Rio janji akan selalu nemenin kamu, toh sekarang juga yang lebih banyak dikantor itu kak Aldo kan," ucap Rio sambil menggenggam lembut tangan Vina untuk menenangkan istrinya itu.
"Maya janji sama kak Vina akan sering kesini, Maya kan juga bosan dirumah sendiri kalau kak Aldo kekantor," ucap Maya sembari tersenyum.
Hari berganti hari, Maya dan Aldo sudah tinggal dirumah mereka sejak seminggu yang lalu dan tepat hari ini adalah satu bulan pernikahan mereka.
Hari-hari mereka lalui dengan penuh suka cita, canda tawa mengisi pernikahan mereka dan semakin hari pula rasa cinta dihati Maya mulai tumbuh semakin berkembang.
Maya tersenyum menatap kalender, dia sudah punya rencana akan mengajak Aldo dinner bersama dan dia juga akan membeli kue untuk mereka tiup bersama nanti, Maya pun menelfon suaminya itu dan seperti biasa tak butuh waktu lama, Aldo langsung mengangkatnya.
Dalam telfon.
"Kenapa sayang?" tanya Aldo. Akhir-akhir ini Aldo memang sudah jarang menyebut Maya dengan nama, dia lebih sering menggunakan kata sayang.
"Nanti kak Aldo pulang kantor jam berapa?"
__ADS_1
"Seperti biasa, paling jam delapan,"
"Bisa lebih cepat nggak kak pulangnya, jam lima mungkin," ucap Maya.
"Kakak nggak janji yah sayang, memang kenapa?" tanya Aldo.
"Emang kakak nggak ingat apa hari ini hari apa?" tanya Maya penuh harap.
"Hari kamis. May kakak matiin dulu yah soalnya kakak ada meeting, sebentar baru kakak telfon lagi," ucap Aldo lalu mematikan telfon itu sepihak.
Kok kak Aldo bisa lupa sih hari ini, bukannya dia bilang dia cinta sama aku, tapi kok satu bulan pernikahan kita aja dia lupa, batin Maya.
"Aku nggak boleh kecewa sama kak Aldo, mungkin karena faktor kerjaan jadi dia lupa, mending aku ke mall aja beliin dia kado," gumam Maya lalu beranjak pergi.
Om Kevin.
Maya, kamu kerumah Rio sekarang, om sudah tau siapa yang sudah menjebak kamu, dan om pastikan kamu akan kaget dengernya
Itulah pesan dari Kevin membuat Maya langsung pergi kerumah Rio, entah kenapa hatinya serasa tidak siap mendengar siapa pelakunya, dia takut mendengar sebuah kenyataan yang akan menyakiti hatinya.
Sesampainya dirumah Rio, dia menguatkan hatinya lalu masuk, disana semua orang sudah berkumpul diruang tamu.
__ADS_1
"Siapa pelakunya om?" tanya Maya to the point.
"Om akan jelaskan semuanya dari awal. Jadi beberapa minggu yang lalu, orang yang teman om tangkap itu hampir kabur, ada beberapa orang yang membantunya kabur, tapi untung saja teman om bisa mengatasinya dibantu oleh beberapa bodyguard nya, dan malahan mereka semua ditangkap. Selama seminggu ini mereka dipakasa bicara siapa pelakunya, tapi tidak ada yang membuka suara sampai teman om mengusulkan sebuah rencana untuk membawa keluarga mereka dalam masalah ini. Rencana itu berhasil, mereka ketakutan saat keluarga mereka terancam, mereka mengatakan bahwa jika mereka bilang siapa bosnya, bosnya juga akan menghancurkan keluarganya. Teman om pun bernegosiasi dengan mereka, mereka akan dilindungi beserta keluarganya dan akan diberikan uang dalam jumlah yang banyak, dan mereka setuju mengatakan siapa bosnya setelah teman om meyakinkan mereka lebih dalam lagi," ujar Kevin menjelaskan panjang lebar.
"Lalu siapa bosnya om?" tanya ulang Maya dengan perasaan campur aduk.
"Om berharap kamu akan baik-baik saja setelah mendengarnya, percayalah satu hal bahwa setiap orang punya alasan dalam melakukan sesuatu,"
"Om siapa pelakunya?,, Maya mau tau sekarang!"
"Aldo, suami kamu," ucap Kevin membuat Maya menggeleng tak percaya, air matanya perlahan jatuh satu persatu.
"Nggak mungkin, om Kevin bohong, kak Aldo nggak sejahat itu," ucap Maya dengan berlinang air mata.
"Tenangkanlah diri kamu Maya," pinta Rio sambil mengelus pundak Maya.
"Inilah kenyataannya May, tapi om yakin Aldo pasti punya alasan besar kenapa dia melakukannya,"
"Bicarakanlah hal ini baik-baik dengan Aldo, Maya," ujar Halwa.
"Aku pulang," ucap Maya sambil berlari pergi, Rio hendak mengejarnya, namun Rico menahannya dan mengatakan bahwa Maya butuh waktu untuk sendiri.
__ADS_1
Selama satu bulan mereka menikah, Aldo tidak pernah membuatnya kecewa, namun kenapa hari ini, tepat satu bulan mereka bersama, Aldo harus membuatnya kecewa. Maya sungguh tak habis pikir, kenapa Aldo melakukan itu.
Kenapa kak Aldo, disaat aku sudah memberikan hati ini baru kakak mengecewakanku. Orang yang sudah kuanggap sebagai bahu untukku bersandar ternyata adalah orang yang dengan sengaja menjebakku dan membuat aku seperti orang bodoh, batin Maya.