Story Maya

Story Maya
Calon istri


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Arga saat dia dan Dinda sudah tiba di Jakarta, sebab sedari tadi sangat terlihat bahwa Dinda gugup, dia juga sangat berkeringat padahal cuaca sedang tidak panas.


"Aku mau ke toilet dulu bisa nggak?" tanya Dinda membuat Arga tertawa kecil.


"Kamu aneh, hal kayak gitu perlu ditanyain, yah jelas bolehlah,"


Arga pun menemani Dinda ke toilet bandara dan menunggu gadis itu diluar, sedangkan Dinda, dia membasuh mukanya berulang kali untuk menghilangkan rasa gugupnya saat sudah berada dikamar mandi.


Aku belum siap bertemu kak Aldo lagi, terus gimana juga kalau orang tua Arga nggak setuju sama aku, bisa-bisa Arga balikin aku ketempat kotor itu lagi, batin Dinda cemas.


Setelah gugupnya mulai berkurang, dia pun memberanikan diri keluar dan melihat Arga dengan setia menunggunya.


"Kamu ngapain aja sih, lama banget," gerutu Arga.


"Maaf," ujar Dinda sembari menunduk, beberapa saat kemudian, Arga menggenggam, lalu menarik tangannya dan itu membuat Dinda menatap kearah Arga.


Apa setakut ini Dinda bertemu dengan papa dan mama sampai tangannya menjadi dingin, batin Arga terlebih lagi dia juga melihat wajah Dinda yang pucat.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arga dan dijawab anggukan oleh Dinda.


Sesampainya dirumah, Arga segera turun dengan Dinda yang masih digenggamnya, dia memasuki rumah dan langsung mendapatkan pelukan dari Maudy.

__ADS_1


"Mama rindu kamu, sayang," ujar Maudy.


"Aku juga rindu mama,"


Saat Maudy sadar bahwa anaknya itu tidak sendirian melainkan bersama seorang gadis, dia pun menjadi bingung.


"Arga, dia siapa?" tanya Maudy.


"Calon menantu mama," ucap Arga membuat Maudy terkejut. Bukankah anaknya itu ke bali karena putus cinta, lantas setelah kembali dia malah membawa calon istri.


"Arga, jangan bercanda, kembalikan gadis itu ke keluarganya,"


"Aku nggak bercanda mam, dia udah nggak punya keluarga, dan dia akan menjadi keluarga kita," ujar Arga.


"Cinta akan hadir karena terbiasa, dan aku percaya itu,"


"Kalau pada akhirnya kalian tidak saling mencintai, bagaimana?"


"Pernikahan ini akan terus berlanjut, dengan ada atau tidak adanya cinta," ucap Arga membuat Maudy terdiam, wanita itu terlalu syok melihat anaknya membawa calon istri padahal jelas Maudy tau, Arga tidak mencintai calon istrinya. "Aku minta tolong bawa Dinda kekamar tamu yah ma, aku mau kekamar istirahat sebentar, nanti kita bicara lagi kalau papa sudah pulang," lanjut Arga lalu melangkah pergi.


"Halo tante, saya Dinda," ucap Dinda sambil menyalimi tangan Maudy, itu dia lakukan untuk menghilangkan rasa canggung yang tercipta antara dirinya dan Maudy.

__ADS_1


"Dinda, apa tante boleh tanya sesuatu sama kamu," ujar Maudy sambil berjalan memabwa Dinda kekamar tamu.


"Boleh, tanya apa tante?"


"Kenapa kamu mau menikah dengan Arga?, kamu tau kan resikonya menikah dengan orang yang tidak mencintai kita," ujar Maudy yang sudah duduk bersama Dinda ditepi ranjang kamar tamu itu.


"Karena Arga lelaki yang baik, dia juga sudah menolong saya, jadi saya percaya dia tidak akan menyakiti saya, tante," ucap Dinda.


"Menolong?, Arga menolong kamu apa?" tanya Maudy lebih lanjut.


"Arga membayar orang yang ingin menjadikan saya wanita malam, dia menebus saya ke orang itu," jawab Dinda jujur membuat Maudy terdiam, ingatannya kembali pada beberapa tahun yang lalu saat perselingkuhan Rega dan Alisha.


Bukankah saat itu Rega juga menebus Alisha yang dijadikan wanita malam, tanpa terasa air mata Maudy jatuh begitu saja dari matanya. Dia memang sudah memaafkan Rega dan ikhlas atas semuanya, namun rasa trauma itu ada dalam dirinya, psikisnya sangat terguncang saat itu, apa lagi dia juga kehilangan anak pertamanya karena perselingkuhan Rega dan Alisha.


"Tante kenapa?" tanya Dinda sambil memegang tangan Maudy.


"Jangan sentuh saya!!" teriak Maudy sembari menghempaskan kasar tangan Dinda membuat Dinda terkejut dan takut. Maudy berjalan menjauhi Dinda dan dia pun terjatuh kelantai saat kakinya sudah sangat lemas, tak mampu berdiri lebih lama lagi.


"Mama kenapa ma?!" ucap Arga yang tiba-tiba saja datang karena mendengar suara teriakan, lelaki itu menjadi panik saat melihat mamanya menangis histeris terduduk dilantai. "Ini mama aku kenapa, Dinda?" tanya Arga sembari menatap Dinda.


"Aku nggak tau, tiba-tiba mama kamu menangis histeris seperti itu," ucap Dinda yang juga sudah panik.

__ADS_1


"Tega kamu, tega kamu!!" lirih Maudy sembari terus menangis dan memukul-mukul pelan dada Arga yang tengah memeluknya, Arga berharap pelukannya dapat membuat mamanya lebih tenang dan menjadi nyaman.


__ADS_2