
Rencananya pagi ini Maya dan Aldo akan langsung pulang kerumah mereka, namun saat hendak membuka pintu rumah untuk pulang, mereka dikejutkan dengan kedatangan Maudy beserta keluarganya.
"Dinda!" panggil Maya lalu memeluk wanita itu, Dinda pun membalas pelukan Maya, gadis itu cukup tau apa yang dibutuhkan Maya saat ini.
"Kamu yang sabar yah May, aku tau kamu kuat," kata Dinda pada Maya yang mulai menangis lagi dalam pelukannya.
"Tante Maudy, om Rega ayo masuk, Arga sama Dinda juga, ayo masuk kedalam," ujar Vina yang tiba-tiba datang.
"Mama sama papa kamu ada didalam Vin?" tanya Rega.
"Iya om, mama ada didapur, kalau papa diruang tamu sama mas Rio,"
Mereka semua pun masuk kedalam rumah, Maya dan juga Aldo akhirnya menunda kepulangan mereka. Para lelaki langsung menuju ruang tamu, sedangkan Vina, gadis itu kembali ke dapur membantu mamanya memasak, dan Maya bersama Dinda memilih ke halaman belakang untuk bicara berdua.
"Emang kak Rico kenapa bisa meninggal?, maaf sebelumnya kalau aku nanya kayak gini," ujar Dinda.
"Dia sakit Din, kanker, dan aku nggak tau. Kamu tau, aku ngerasa menjadi adik terburuk didunia, yang nggak ada disaat-saat terakhir kakaknya dan orang yang paling terakhir tau kalau kak Rico sakit,"
__ADS_1
"May, semua udah direncanain Allah, bisanya kita ngikhlasin semuanya. Kamu harus percaya, Allah nggak akan ngasih cobaan diluar kemampuan umatnya," ucap Dinda sembari mengelus bahu Maya, Maya pun mengangguk membenarkan ucapan itu. Allah sayang kakaknya, sekarang kakaknya itu nggak perlu menahan sakit lagi, kak Rico udah bahagia disana, Maya harus ikhlasin semuanya.
"Makasih yah Din. Hari ini aku melihat kamu seperti Dinda yang aku temui saat SMA dulu, hangat dan selalu ada, bukan seperti Dinda yang beberapa minggu lalu kita ketemu, yang dingin dan seperti menjaga jarak dari aku," kata-kata Maya itu sontak membuat Dinda terdiam.
Dinda hanya malu pada dirinya sendiri dan kecewa karena kejadian dulu disaat Aldo menolaknya, itu adalah alasannya kenapa dia menjauhi Maya, dan sekarang saat melihat Maya sesedih itu, dia tak mungkin bersikap dingin, dan jujur Dinda sangat menyayangi Maya, rasa sayangnya tak luntur sedikit pun, masih sama seperti saat SMA dulu.
"Mata kamu itu bengkak banget May, hilang loh nanti cantiknya kalau gitu terus," ujar Dinda sambil tersenyum menggoda Maya.
"Apaansih Din, bisa aja,"
Sebenarnya aku pengen banget nanya ke Maya soal masa lalunya sama Arga dan kak Aldo, tapi ini bukan waktu yang tepat, Maya masih dalam keadaan berduka, aku harus mengerti itu, batin Dinda.
"Nggak papa May, aku hanya menikmati pemandangan disini aja,"
"Kirain kenapa, kamu nggak ada lagi yang mau ditanyain gitu ke aku?" kata Maya sontak membuat Dinda salah tingkah, kenapa Maya seolah tau apa yang dipikirkannya.
"Hmm, aku...aku..."
__ADS_1
"Aku apa?, emang apa sih yang ingin kamu tanyakan, nggak usah gugup gitu," ucap Maya memotong ucapan Dinda.
"Aku udah dua kali liat kak Aldo datang kerumah untuk minta maaf, Arga juga udah cerita kalau kak Aldo pernah hampir membunuhnya, kalau aku boleh tau kenapa kak Aldo nggak jadi bunuh Arga waktu itu?"
"Oh soal itu. Aku yang selamatin Arga,"
"Tapi kamu nggak kenapa-napa kan?"
"Aku kena tembakan dari kak Aldo yang seharusnya buat Arga," Dinda sontak menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar ucapan Maya. Kisah mereka benar-benar seperti sebuah drama. "Tapi itu masa lalu, jadi sekarang yang kak Aldo bisa cuman minta maaf sama Arga dan keluarganya atas kejadian itu," lanjut Maya berucap.
"Aku udah paham sekarang, makasih udah mau jawab pertanyaan aku,"
"Sekarang boleh aku yang nanya balik nggak ke kamu?" tanya Maya dengan tatapan serius.
"Boleh, tanya apa?"
"Apa kamu masih mencintai kak Aldo?, tolong jawab jujur Din!"
__ADS_1
Deg.