Story Maya

Story Maya
Menghindar


__ADS_3

Saat Aldo sampai dirumah dan masuk kekamar, dia melihat Maya tengah main hp disisi ranjang, gadis itu seolah tak perduli dengan Aldo yang baru saja masuk, pandangannya tak sedikitpun teralih dari hpnya.


Aldo pun berjalan kearah lemari dan mengambil surat perjanjiannya dengan Maya, membaca surat itu sebentar, lalu merobeknya.


"Kenapa dirobek?" tanya Maya terkejut.


"Aku akan nurutin satu permintaan kamu May, sebutin aja, setelah itu kalau kamu mau mengakhiri pernikahan ini, aku nggak akan menahan kamu lagi,"


"Kamu menginginkan pernikahan kita berakhir?"


"Sudah tidak bisa dihitung lagi berapa kali aku ngecewain kamu, jadi mungkin lebih baik aku melepaskan kamu, dengan itu nggak akan ada lagi kecewa yang tercipta," ujar Aldo.


"Kenapa tiba-tiba berubah, bukankah kamu bilang kamu akan nunggu aku sampai kapanpun itu, bukankah kamu bilang kehilangan aku adalah hal yang paling kamu takutkan," ujar Maya. Gadis itu tak ingin berpisah, bahkan berfikir meninggalkan Aldo pun tidak, dia hanya kecewa karena baru mengetahui hal itu setelah sekian lama, lagipula jika difikir Dinda sudah menikah, dan soal cinta itu bisa hadir karena terbiasa.


"Aku nggak berubah May, tapi aku takut akan ngecewain kamu lagi. Aku sedih kalau kecewanya kamu selalu karena aku,"


"Kamu jahat tau nggak kak," ucap Maya lalu melangkah keluar kamar.


Gadis itu tak kembali lagi kekamar setelah dia keluar dan Aldo pun menahan diri untuk tidak menemui Maya. Dengan menjaga jarak, mungkin adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

__ADS_1


"Sarapan kak," ucap Maya pagi itu saat melihat Aldo keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapih hendak berangkat menuju kantor.


"Aku makan dikantor aja. Aku langsung pergi yah, assalamualaikum," Maya terdiam sambil matanya menatap kearah Aldo yang semakin lama melangkah menjauh, benarkah itu suaminya, kenapa Aldo seperti orang lain, lelaki itu tak pernah seperti ini sebelumnya, menolak makanan buatan Maya dan lebih memilih makan diluar.


Kenapa sesakit ini rasanya diabaikan, batin Maya.


"Maafin aku May, aku tau lagi-lagi kamu kecewa, kamu hanya akan terus kecewa jika disamping aku, mungkin memang lebih baik kita berpisah," gumam Aldo sembari mengendarai mobil.


Ditengah perjalanan menuju kantor, Aldo dikejutkan saat melihat Arga tengah berkelahi dengan lima orang bertubuh besar, jalanan itu juga sangat sepi sehingga tak ada yang menolong Arga. Dengan cepat lelaki itu keluar dari mobil dan membantu Arga mengalahkan lima orang itu. Cukup lama mereka bertarung, bahkan mereka berdua sempat kewalahan melawannya, namun pada akhirnya merekalah yang menang.


"Kamu nggak kenapa-napa Arga?" tanya Aldo saat penjahat itu sudah pergi.


"Kenapa kamu bisa bertengkar sama mereka?" tanya Aldo lagi.


"Aku dibegal, mereka meminta mobil dan barang berharga lainnya, tentu aku tidak memberikannya, sehingga pertengkaran itu pun terjadi,"


"Lain kali hati-hati lewat jalanan sepi seperti ini,"


"Sekali lagi makasih," ucap Arga dingin lalu masuk kedalam mobilnya dan segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


***


"Lo belum pulang kak?" tanya Rio saat masuk kedalam ruangan Aldo dan Aldo masih ada diruangannya. Ini tak seperti biasanya, Aldo itu selalu pulang sebelum Maghrib dan sekarang jam menunjukkan pukul 9.00 malam dan Aldo belum juga pulang.


"Aku masih banyak kerjaan," sebenarnya bukan karena itu, tapi untuk menghindari Maya, ini menyiksa untuk Aldo, namun sepertinya ini yang terbaik.


"Ada masalah lagi sama hubungan kakak dan Maya?" tanya Rio menebak.


"Nggak kok, tapi pekerjaan aku benar-benar nggak bisa ditinggal. Kamu juga kok belum pulang, kasihan Vina nungguin pasti,"


"Maya juga pasti nungguin kakak, gimana kalau kita sama-sama pulang sekarang,"


"Pulang aja duluan, aku masih banyak kerjaan,"


"Ini perusahaan milik keluarga, nggak usah lah terlalu dipaksain kayak gitu kerjanya,"


"Iya, sebentar lagi aku pulang,"


"Yaudah, kalau kayak gitu aku duluan yah kak," ucap Rio lalu melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Aldo.

__ADS_1


__ADS_2