
"Kamu jangan salah paham dulu. Besok pagi kamu ikut aku, aku akan bawa kamu kesuatu tempat," ucap Aldo membuat Maya bingung.
"Tempat?, tempat apa dan apa hubungannya sama kakak yang bohongin aku,"
"Setiap orang pasti punya alasan kenapa bohong, Maya, aku juga seperti itu, dan aku akan bilang alasan itu besok pagi, sekarang mending kamu lanjut tidur," ujar Aldo dan Maya pun menurut, gadis itu masuk kekamar dan langsung merebahkan tubuhnya diranjang kemudian kembali terpejam.
Sinar matahari, membangunkan Maya dari tidurnya, dan dia tidak melihat keberadaan suaminya.
"Selamat pagi my wife," ucap seseorang sambil membuka pintu kamar dan ditangannya membawa mangkok berisi sup.
"Kak Aldo," gumam Maya.
"Aku bawain sup spesial buat kamu, ayo dicobain," ucap Aldo sambil menyerahkan mangkok ditangannya itu dan Maya segera mengambilnya, lalu dia pun menyuap sup itu kedalam mulutnya.
"Kak Aldo ini enak banget," jawab Maya sembari tersenyum membuat Aldo ikut tersenyum.
"Bagus deh kalau kamu suka," jawab Aldo lalu mengacak gemes rambut Maya.
"Kapan kita pergi ketempat yang kakak bilang semalam?" tanya Maya.
"Sekarang juga bisa, kak Aldo mah terserah kamu aja," jawab Aldo.
__ADS_1
Setelah makan dan bersiap, Maya dan Aldo pun pamit pergi, dan urusan kantor, Rio yang akan menghendelnya hari ini.
Aldo memberhentikan mobilnya disebuah rumah sederhana yang disamping rumah itu ada taman yang dihiasi bunga, sungguh indah rumah itu dimata Maya, sederhana namun enak dipandang dimata.
"Ini rumahnya siapa kak?" tanya Maya heran. Aldo memilih menarik Maya masuk tanpa menjawab perkataan istrinya itu.
"Den Aldo ini kuncinya," ucap seorang paruh baya sembari memberikan sebuah kunci saat mereka sudah tiba di pintu rumah.
"Makasih mbok," jawab Aldo, Maya hanya menyimak percakapan itu sampai mbok itu melangkah pergi dan Aldo membawa Maya masuk kedalam rumah setelah dia membuka kunci rumah itu.
"Gimana, kamu suka rumahnya?" tanya Aldo.
"Ini rumah siapa kak?"
"Rumah kita?"
"Iya, gimana kamu suka nggak?"
"Suka banget kak, rumahnya keren," jawab Maya dan mereka pun saling berpelukan.
"Kakak bohongin kamu karena surprise ini, sebenarnya kakak ingin mengatakan ini saat satu bulan pernikahan kita nanti sebagai hadiah buat kamu, tapi karena kakak nggak mau kamu salah paham soal kakak yang pergi dari kantor semalam, jadi kakak bilangnya sekarang. Semalam kakak kesini buat urus semua tentang rumah ini," ucap Aldo. Maya sungguh merasa bersalah sekarang, Aldo begitu baik padanya, tapi selalu saja dia curigai.
__ADS_1
"Maafin aku yah kak. Aku kayak gini karena aku takut dikecewain lagi, maaf kalau aku terlalu berlebihan," ucap Maya dan Aldo pun melepaskan pelukannya lalu memilih menatap wajah istrinya itu yang mata Maya sudah berkaca-kaca.
"Dirumah ini kita akan bangun istana kita, Maya. Kamu mau kan tinggal berdua sama kakak dirumah yang sederhana seperti ini?"
"Aku mau banget kak," jawab Maya.
Aldo pun mendekatkan kepalanya kekepala Maya sehingga kening mereka menyatu, mereka pun menutup mata bersama lalu tidak lama, bibir mereka pun menyatu.
"Aku sangat mencintai kamu," ucap Aldo sambil melepaskan ciuman itu lalu mengecup singkat kening Maya. "Apa kamu belum mencintai kakak?" tanya Aldo karena Maya hanya terdiam dan tak membalas pernyataan cintanya.
"Aku memang belum mencintai kakak sepenuhnya, tapi jujur, sekarang rasa cinta itu mulai tumbuh secara perlahan, ini hanya tentang waktu, aku mohon kakak sabar yah," ujar Maya, lalu Aldo memeluknya kembali, namun kali ini lebih erat.
"Kakak bahagia dengernya May, semoga secepatnya kamu bisa mencintai kakak sepenuhnya,"
Amiin, batin Maya.
Mereka pun keliling rumah itu dan sekitarnya sembari tersenyum bahagia, tangan mereka terus terpaut dan tak pernah lepas sedikitpun, senyuman juga terbit diwajah keduanya.
"Maaf yah karena rumah ini nggak sebesar rumah Rio," ucap Aldo.
"Nggak papa kak, malah aku lebih suka rumah seperti ini, sederhana," jawab Maya sambil melihat sekelilingnya dan menghirup udara yang segar. "Kapan kita pindah kesini kak?" tanya Maya.
__ADS_1
"Terserah kamu, sekarang, besok, atau nanti, kakak ikutin yang istri tercinta kakak ini bilang," ucap Aldo, dan lagi-lagi, Maya merasa sangat beruntung menikah dengan Aldo, sebab Aldo bisa sekaligus menjadi kakak, suami, dan sahabat untuknya.
Untung aja aku sudah lama menyiapkan rumah ini untuk Maya. Sebenarnya aku memang akan memberikannya, tapi nanti setelah Maya mencintaiku bukan tunggu satu bulan pernikahan, namun aku tidak punya pilihan lain selain memberikannya sekarang supaya Maya tidak curiga kemana aku pergi semalam. Biarkan dia mengira, bahwa aku kesini semalam untuk mengurus tentang rumah ini, karena aku belum siap jika Maya tau semua yang sudah aku perbuat untuk mendapatkannya, aku belum siap dan takkan pernah siap jika Maya membenciku, batin Aldo.