Story Maya

Story Maya
Pendonoran darah


__ADS_3

"Kondisi bu Maya saat ini sangat kritis, dan dia juga kekurangan banyak darah," ujar Dokter itu.


"Ambil darah saya saja Dok untuk Maya," ujar Aldo dengan cepat sebab saat ini dia hanya ingin Maya kembali pulih seperti dulu.


"Golongan darah bu Maya O positif, apa bapak memiliki golongan darah yang sama?" tanya Dokter itu dan seketika Aldo pun menggeleng, golongan darahnya berbeda dengan Maya.


"Apa tidak ada persediaan darah dirumah sakit ini dok?" tanya Rico.


"Ada, tapi cuman 3 kantong saja dan kami membutuhkan 5 kantong darah,"


"Darah saya sama dengan Maya Dok, ambil darah saya saja," ucap Rio. Rio memang memiliki darah yang sama dengan Maya dan hanya Rico yang memiliki darah berbeda, sebab Rio dan Maya mengikuti ayah mereka dan Rico mengikuti golongan darah ibunya.


"Baik, mari pak,"


Setelah selesai, Dokter mengatakan bahwa darahnya masih kurang sedangkan Rio sudah terlihat sangat lemas dan tidak mungkin darahnya lagi yang diambil karena itu akan berbahaya untuk Rionya sendiri.


"Nggak papa dok, ambil darah saya saja sebanyak yang Maya butuhkan,"

__ADS_1


"Tapi ini akan membahayakan kondisi tubuh pak Rio,"


"Saya tidak masal..."


"Ambil darah saya saja Dok!" ujar seseorang yang tiba-tiba datang memotong ucapan Rio.


"Arga," gumam Vina.


"Mari pak," ujar Dokter itu.


Aku sebagai suami kamu merasa tidak ada gunanya Maya, aku tidak bisa mendonorkan darahku untukmu, dan kini Arga, lelaki yang ingin aku singkirkan, malah dia yang menjadi penyelamat kamu, batin Aldo.


"Saya tidak pernah punya niatan untuk menyakiti Maya," ucap Aldo.


"Tapi, tanpa kamu sadari, cara kamu mencintainya membuat Maya menderita, dia lebih banyak sedihnya daripada bahagianya bersama kamu," ujar Arga.


"Ini sebenarnya kenapa sih?, kenapa Maya bisa kena tembakan seperti itu?" tanya Rico.

__ADS_1


"Dia berniat membunuh saya kak, namun Maya melindungi saya sehingga dia yang kena tembakan yang seharusnya untuk saya dari Aldo," ucap Arga membuat semua orang serasa tak percaya, mereka tidak menyangka bahwa Aldo bisa melakukan hal sekejam itu.


"Ceraikan adik saya, Aldo!" ucap Rico semakin membuat semuanya terkejut kecuali Rio dan Arga yang memang mendukung ucapan Rico.


"Aku nggak akan pernah menceraikan Maya, dia akan selamanya menjadi istriku!!"


"Maya menderita sama kamu kak, kakak udah sering nyakitin Maya. Dulu aku diam karena aku fikir kakak bisa berubah karena waktu kecil kakak sangat menjaga aku dan Maya, memberikan semua yang terbaik untuk kami padahal kami sama sekali bukan siapa-siapanya kak Aldo, tapi hari ini, aku sangat setuju dengan perkataan kak Rico, lebih baik kak Aldo dan Maya berpisah," ucap Rio berusaha sekuat mungkin menahan emosinya.


"Aku nggak bisa tanpa Maya, aku sangat mencintai dia," ujar Aldo dengan air mata yang perlahan jatuh.


"Aldo, sekarang kamu lihat, didalam UGD itu, wanita yang kamu bilang sangat kamu cintai terbaring tak berdaya melawan maut karena keegoisan dan kecemburuan kamu. Kamu bukan hanya nyakitin batinnya, tapi juga fisiknya hari ini, itu yang dibilang sangat cinta, cinta tidak seperti itu," ucap Rico dan Aldo langsung pergi begitu saja meninggalkan semua yang berada disana.


Pria itu pulang kerumahnya, dia hanya ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Saat sampai didepan rumah, semua kenangan tentang Maya terlintas diotaknya, senyum bahagia Maya saat dia memberikan rumah itu, tawa mereka saat sama-sama membersihkan rumah, dan kecupan singkat yang dia berikan pada Maya setiap berangkat kerja, semua kenangan Maya terputar jelas diotak Aldo.


Apa aku bisa tanpa kamu, Maya, bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku jika tidak bersamamu lagi, batin Aldo.

__ADS_1


-A..ku...mem..ben..cimu..kak..-


"Kata-kata terakhir kamu sebelum tak sadarkan diri sangat jelas di indra pendengaranku, sekarang kamu membenci aku Maya. Apa salah jika aku hanya ingin terus bersama kamu?, maafkan aku jika caraku mencintaimu membuatmu terluka," gumam Aldo.


__ADS_2