
"Berita itu salah!" teriak Maya yang air matanya sudah jatuh mengalir begitu deras ke pipinya.
"Maya tenanglah dulu, kita kebandara sekarang cek semuanya yah," ucap Rio yang juga sudah panik, dia dan Maya pun segera menuju bandara, sedangkan Vina dirumah menjaga Rangga yang sedang sakit.
"Kak, ini nggak mungkin," ujar Maya saat melihat nama Aldo tertera dinama penumpang perawat yang jatuh. Dia menangis histeris dibandara itu, berteriak-teriak memanggil nama Aldo dan semuanya menjadi gelap.
Ini sebuah mimpi buruk yang ingin Maya sudahi. Suaminya itu adalah lelaki kuat, dia pasti akan kembali.
"Kamu sudah sadar?" tanya Rio saat melihat Maya membuka Matanya. "Kamu mau kemana May?, istirahatlah dulu, kasihan kandungan kamu," lanjut Rio sambil mencekal tangan Maya yang hendak pergi dari rumah sakit itu. Rio sudah tau tentang kandungan Maya saat Dokter selesai memeriksa wanita itu tadi, jangan tanya lagi bagaimana perasaan Rio, dia sangat kasihan pada Maya.
__ADS_1
"Kakak suruh aku disini, sedangkan aku nggak tau bagaimana keadaan suami aku sekarang, bisa aja kak Aldo kedinginan, kelaparan, dan aku harus nolongin dia," kata Maya histeris sambil berusaha pergi, tapi terus ditahan oleh Rio. "Aku cuman pengen pastiin kak Aldo baik-baik aja, lepasin aku!!" tak lama Dokter pun datang memberikan Maya obat penenang, lalu Rio kembali menggendong adiknya itu menuju ranjang pasien saat Maya sudah tak memberontak lagi.
"Kak Aldo, kak Aldo jangan tinggalin aku," gumam Maya.
dua hari berlalu dan Aldo tak juga ditemukan, bahkan sampai saat ini belum ada korban yang ditemukan, hanya puing-puing pesawat dan barang korban. Diduga saat jatuh pesawat juga meledak. Setiap hari pula tak hentinya Maya duduk didepan telvisi menunggu kabar baik bahwa Aldo baik-baik saja.
"May makanlah dulu," ujar Vina lalu menyuapi Maya. Andai saja bukan janinnya yang dia pikirkan, dia tak akan makan, namun wanita itu sadar, anaknya butuh asupan. Maya tidak mau karena kesedihannya ini anaknya pun ikut menderita dalam kandungannya. Setidaknya jika memang Aldo sudah pergi, masih ada satu hadiah yang Aldo tinggalkan yang begitu berharga untuk Maya.
"Tapi bukankah kak Aldo juga tak suka melihat air mata kamu, bagaimana dia bisa datang kalau apa yang tidak disukainya terjadi," Maya pun segera menghapus air matanya, lalu tersenyum, tapi sayang tak bisa, walau bibirnya menyunggingkan senyuman, tapi air matanya terus saja mengalir.
__ADS_1
Bertahanlah kak, bertahanlah untukku, ku mohon, batin Maya.
"Sudah ada beberapa korban yang ditemukan May," ucapan Rio itu membuat Maya sontak berdiri.
"Selamat kan kak?"
"Semuanya meninggal," bagai tersambar petir, Maya seolah membeku di tempatnya, masih adakah harapan kalau suaminya akan baik-baik saja.
"Tapi kak Aldo..." Maya tak dapat melanjutkan ucapannya karena tangisannya yang semakin deras, Vina pun juga sudah memeluk adik iparnya itu untuk menenangkannya. Maya kira kehidupannya dengan Aldo setelah ini akan bahagia, namun mengapa malah sebaliknya, Allah terlalu cepat mengambil lelaki itu.
__ADS_1
"Kak Aldo salah satu korban yang sudah terindentifikasi dan sudah meninggal,"
Aku sudah memberikan semuanya untuk mu kak Aldo, bahkan kebahagiaanku, jadi saat kau pergi, kau membawa serta kebahagiaan itu bersamamu, batin Maya.