
"Aku mau menikah dengan kamu," ucap Dinda membuat Arga tersenyum.
Dinda menerima Arga sebab dia tau Arga adalah orang yang baik, dia juga butuh pelindung, dan umurnya sekarang sudah sangat cocok untuk menikah. Setelah Aldo, Dinda tidak pernah dekat atau mencintai laki-laki lagi karena dia selalu menjauh dan membangun tembok berjarak untuk lelaki, namun sekarang takdir membuatnya menikah dengan orang yang baru saja dikenalnya.
"Kita akan ke Jakarta besok bertemu dengan orang tuaku, jadi siapkan dirimu," ujar Arga lalu melangkah pergi untuk mengurus keperluan pemberangkatan besok.
Setelah Arga pergi, Dinda langsung terduduk lemas disofa, besok dia juga harus mempersiapkan diri bukan hanya untuk bertemu dengan keluarga Arga, tapi juga mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dia bertemu dengan Maya, terlebih Aldo.
Kak Aldo, apa sekarang kakak sudah berhasil memiliki Maya, apa sekarang Maya sudah melihatmu lebih dari seorang kakak untuknya, batin Dinda penuh tanya.
Sedangkan ditempat lain, kondisi Maya semakin membaik, dia juga sudah bisa membantu memasak didapur.
"May, kak Vina minta tolong liatin Rafael yah, kayaknya dia nangis deh," ujar Vina yang masih sangat sibuk didapur.
"Oke kak," ucap Maya lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Sesampainya disana ternyata benar Rafael tengah menangis, dengan lembut Maya menggendong keponakannya itu dan membawa Rafael keluar.
"Maya!" panggil seseorang saat Maya melewati ruang tamu, gadis itu pun berbalik dan mendapati Aldo berjalan kearahnya.
"Ngapain kamu kesini kak?"
"Ayo kita pulang kerumah kita, Maya, rumah sepi tanpa kamu, aku juga sepi tanpa kamu," ujar Aldo.
Kak Aldo, wajah kakak tampak lelah, sekarang kakak juga punya kantong mata, apa kakak sangat terluka saat aku pergi, batin Maya.
"Kak lepas!, aku lagi gendong Rafael," ucap Maya berusaha melepaskan pelukan Aldo, tapi pelukan itu malah semakin erat.
"Biarkan seperti ini untuk sesaat May, sungguh aku merindukanmu," ujar Aldo dan perlahan air matanya jatuh, begitu pula dengan Maya.
"Maya, Rafaelnya udah kamu am..." ujar Vina teriak dan itu sontak membuat Aldo melepaskan pelukannya karena Maya juga langsung melangkah sedikit menjauh dari Aldo, namun saat Vina sampai diruang tamu ucapannya pun terhenti karena melihat ada Aldo disana.
__ADS_1
"Kak Aldo kapan datangnya?" tanya Vina sambil mengambil alih Rafael dari gendongan Maya.
"Barusan. Rafael gemesin banget yah Vin," ujar Aldo sembari tersenyum lalu mencubit gemes pipi Rafael.
"Iya kak, tambah hari tambah gemes. Ohya, kak Aldo dan Maya udah baikan?, nggak baik loh lama-lama marahan apalagi suami istri," ujar Vina sembari melirik keduanya.
"Kita nggak pernah marahan kok kak, cuman pisah rumah buat intropeksi diri aja dulu, itu pun kalau sadar akan kesalahannya," ucap Maya lalu melangkah pergi menuju dapur.
"Aku bukan mau ngajarin kak Aldo atau ceramahin kakak, tapi perempuan itu akan luluh jika diperjuangkan dan dibujuk terus, jadi jangan pernah menyerah untuk mendapatkan kepercayaan Maya lagi, sebab setelah seseorang nggak percaya lagi setelah dikecewakan, maka rasa percaya itu membutuhkan proses yang lama untuk timbul kembali," ujar Vina.
"Aku tidak pernah ada niatan sedikit pun untuk menyerah, aku tau kesalahanku dan aku akan terus perjuangkan Maya," ucap Aldo mantap.
"Yaudah, aku kekamar Rafael dulu yah kak," ujar Vina lalu melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Aldo.
Aku tau pernikahan ini berawal dengan tidak baik, tapi aku akan berusaha untuk menjadikan pernikahan ini baik-baik saja untuk selamanya, batin Aldo.
__ADS_1