
"Kamu ngapain masih bawa wanita itu kesini, Arga. Mama kan udah bilang nggak setuju sama dia," ujar Maudy yang saat ini berada diruang tamu bersama Rega.
"Maafin aku, ma, aku nggak bisa turutin mama soal ini. Aku sudah dewasa dan bisa nentuin pilihanku sendiri, mama hanya trauma sama masa lalu mama, dan nggak semua perempuan malam yang ditebus itu semuanya nggak baik," ujar Arga lalu menarik tangan Dinda menuju kamar tamu.
"Arga tu..."
"Maudy sudah!!" ucap Rega sembari menahan tangan istrinya agar tidak mengikuti Arga.
"Lepasin aku mas, aku harus larang Arga nikah sama perempuan itu,"
"Namanya Dinda, sayang. Ini semua salah aku, aku tau karena masa lalu membuat kamu trauma, tapi Maudy, jika sekarang kamu melarang Arga menikah dengan Dinda, apa menurut kamu Arga tidak akan trauma sama wanita, apa dia tidak akan menganggap kalau semua wanita itu sama aja, akan meninggalkan, biarin Arga menikahi Dinda, aku yang akan tanggung jawab akan semuanya, kamu bisa marah sama aku kalau ternyata Dinda bukan perempuan baik-baik," ujar Rega sambil menatap dalam mata istrinya, dia tau jika istrinya itu hanya takut jika anak mereka memilih istri yang salah.
"Ini berlebihan Arga, kamu ngelawan mama kamu hanya karena ingin menikah sama aku, padahal kita tidak saling mencintai, lantas kenapa kamu bersikap seolah kita saling mencintai?" tanya Dinda saat mereka sudah sampai dikamar tamu.
__ADS_1
"Saya melakukan ini karena saya percaya kamu orang yang tepat untuk saya, yah biarpun diantara kita tidak ada cinta," ujar Arga.
"Kamu kan belum tau semuanya tentang saya,"
"Dengan kamu cerita, saya akan tau semuanya," ucap Arga.
Beberapa hari berlalu, kabar pernikahan Arga pun sudah tersebar, rencana mereka akan menikah lusa, Maya dan yang lainnya pun sudah tau.
"Aku bahagia liat Arga udah punya pasangan kak, dia orang yang baik, tapi aku penasaran sama wajah calon istrinya," ucap Maya kepada Vina yang tengah menggendong Rafael dikamar, dikamar itu pun mereka hanya bertiga.
"Iya sih kak,"
"Kak Vina nggak nyangka loh secepat itu Arga lupain kamu, setau kakak dia orang yang susah melupakan,"
__ADS_1
"Malah bagus kak kalau dia cepat lupain aku, dia hanya akan terluka dengan mencintaiku kak," ucap Maya, lalu Maya pun keluar dari kamar itu dan melangkah menuju kamarnya.
"Sejak kapan kamu datang?" tanya Maya saat melihat Aldo berbaring diatas kasur kamarnya.
"Barusan. Oh yah, kamu tau siapa calon istrinya Arga?" tanya Aldo yang dijawab gelengan oleh Maya. "Kok firasat aku, calon istrinya Arga itu Dinda yah," lanjut Aldo membuat Maya langsung menatap kearah suaminya itu.
"Dinda siapa?"
"Sahabat kamu di SMA itu loh, yang pergi tanpa kabar,"
"Kak Aldo serius!. Kok kakak bisa tebak kalau itu Dinda?" ujar Maya senang, jika memang calon istrinya Arga itu Dinda sahabatnya, berarti dia akan sering bertemu Dinda lagi, dan yang pasti Maya akan tanyakan alasan Dinda pergi begitu saja tanpa bilang apapun padanya.
"Waktu itu aku ketemu Dinda sama Arga, tapi aku nggak tau mereka punya hubungan apa, dan sekarang firasat aku mengatakan kalau Dinda calon istrinya," ucap Aldo.
__ADS_1
"Kita harus kerumah Arga besok kak, aku pengen ketemu Dinda, aku kangen sama dia," ujar Maya yang langsung diangguki oleh Aldo.