
"Kamu kemana aja Din?, aku sama teman-teman cariin kamu loh dihari kelulusan dan ternyata kamu udah nggak ada disini," ujar Maya. Saat ini mereka berdua tengah berada dihalaman belakang rumah Maudy, semua orang mengizinkan mereka untuk bicara berdua sambil melepaskan kerinduan.
"Maaf May, aku tiba-tiba langsung pergi gitu aja," ucap Dinda yang terlihat sangat canggung.
"Kamu kenapa sih Din?, ada yang aneh tau nggak sih sama kamu,"
"Aneh?, aneh apanya?"
"Kamu terlihat lebih dingin dan seperti orang yang baru kenal sama aku," lirih Maya sedih.
"Bukan gitu Maya, aku..." ujar Dinda menggantungkan kalimatnya, tidak mungkin kan gadis itu mengatakan jika dulu dia pergi karena ditolak Aldo dan merasa malu pada Maya. "Mungkin karena kita udah lama nggak ketemu," lanjut Dinda sembari tersenyum, namun senyuman Dinda malah membuat Maya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Dinda.
"Din, dulu kita sedekat nadi kenapa sekarang sejauh matahari?"
Setelah bertemu dengan Dinda, Maya pun memilih untuk pulang duluan dibandingkan Halwa dan Kevin, Halwa dan Kevin juga menyetujui itu karena jika Maya lebih lama disini dia hanya akan mendapat cacian dan makian dari Maudy lagi.
Sesampainya dirumah, gadis itu langsung membaringkan tubuhnya diranjang kamarnya, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi dan Maya bisa menebak bahwa Aldo pasti didalam dan belum pulang kerumahnya.
__ADS_1
"Sudah pulang?, bagaimana dengan calon istrinya Arga?" tanya Aldo yang baru saja keluar dari kamar mandi, Maya yang tadinya memejamkan matanya akhirnya membukanya saat mendengar suara suaminya dan langsung menatap kearah suaminya itu.
"Astaga kak Aldo, kenapa nggak pake baju!!" pekik Maya sambil menutup matanya kembali karena melihat Aldo hanya mengenakan handuk yang dililit sebatas pinggang.
"Apaansih May, kamu teriak-teriak kayak gitu nanti dikira aku ngapa-ngapain kamu lagi,"
"Yah emang kak Aldo ngapa-ngapain aku, mata aku jadi tercemar karena kakak,"
"Tapi kamu harus terbiasa melihat aku seperti ini Maya, sebab kita akan sama-sama sampai menua, nggak mungkin kan kita nggak punya keturunan hanya karena kamu baru ngeliat aku nggak pake baju udah teriak duluan, gimana kalau ngeliat yang lain, bis.."
"Cukup kak!!, nggak usah diterusin," ujar Maya yang pipinya sudah memerah menahan malu.
"Kak Aldo udah pake baju?" tanya Maya, Aldo pun mendekat kearah istrinya itu dan memaksa Maya membuka matanya, pada akhirnya Maya pun membuka matanya dan merasa lega saat melihat Aldo sudah mengenakan baju.
"Ngeselin!" gumam Maya hendak beranjak pergi, namun tanpa sengaja kakinya tersandung membuatnya jatuh dipangkuan Aldo dan seketika pandangan mereka bertemu.
Aku memang membencimu kak, tapi tak bisa ku pungkiri jika setiap dekat denganmu aku merasakan kenyamanan, batin Maya.
__ADS_1
"Kapan aku bisa mengambil hak ku, Maya?" tanya Aldo sontak membuat Maya langsung berdiri akibat terkejut.
"Maksudnya?"
"Aku ingin kamu menjadi istriku seutuhnya,"
"Sebelum itu, kakak harus ingat bahwa aku nggak akan memberikannya jika masih ada rasa benci dalam hatiku untukmu,"
"Kita udah lama seperti ini Maya, menikah tapi berbeda rumah, inikah namanya pernikahan?" entah kenapa semakin hari, Aldo merasa semakin lelah, dia mempunyai istri namun menyiapkan semuanya sendiri bahkan dia harus bolak-balik dari rumahnya ke rumah Rio hanya untuk bertemu Maya yang notabennya adalah istrinya, sungguh dia lelah, belum lagi masalah kantor yang harus dihadapinya.
"Kak Aldo sadar nggak sih siapa yang buat pernikahan kita seperti ini, sadar nggak?!"
"Maya.."
"Kalau kak Aldo datang kesini cuman buat ngajakin aku bertengkar mending pulang, kakak fikirin dirumah bagaimana sakit hatinya kakak jika berada diposisiku. Aku yakin jika aku melakukan apa yang kak Aldo lakukan, kakak pasti akan sangat membenciku, bahkan untuk melihat wajahku pasti kak Aldo sudah tidak mau," ujar Maya yang air matanya sudah menetes, lalu gadis itu pun berlari memasuki kamar mandi.
Huft.
__ADS_1
Aldo menghembuskan nafasnya kasar, dia sadar, lagi-lagi dia menyakiti Maya, lagi-lagi air mata gadis itu jatuh karenanya, tapi jujur Aldo mulai lelah dengan semua ini. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak memiliki Maya seutuhnya, Aldo juga berfikir jika dia dan Maya sudah saling memiliki, maka pernikahan mereka pasti akan membaik dan Aldo tidak akan kehilangan Maya.