
"Silahkan dimakan," ujar wanita yang Arga tolong semalam. Pagi itu wanita itu langsung memasak sembari menunggu Arga bangun dan saat Arga datang makanannya pun sudah jadi.
"Kamu ngapain masih disini?, sekarang kamu pulang aja kerumah kamu, dan makasih buat masakannya, satu lagi, kamu juga harus ingat buat bayar utang kamu ke saya," ujar Arga lalu menyuapkan makanan kedalam mulutnya, gadis itu memasak ayam kecap, perkedel udang dan sup.
Masakan gadis ini enak juga, batin Arga.
"Tapi...saya nggak punya rumah," ucap gadis itu membuat Arga langsung melihat kearahnya.
"What!!, kamu emang nggak punya keluarga?"
"Mama sama papa saya sudah meninggal satu bulan yang lalu karena kecelakaan," ujar gadis itu sembari menunduk, ingin sekali dia menangis saat ini karena mengingat bahwa dirinya sekarang sendirian.
"Sorry, saya nggak tau,"
"Bagaimana kalau saya kerja sama kamu, apapun pekerjaannya asal halal pasti saya akan lakukan, itu juga untuk membayar utang saya ke kamu,"
"Nama kamu siapa?" tanya Arga.
__ADS_1
"Nama saya Dinda,"
"Baiklah, saya sudah makan, dan saya akan pikirkan pekerjaan apa yang cocok buat kamu," ucap Arga lalu melangkah menuju ruang televisi.
Sedangkan Dinda, setelah gadis itu membereskan dapur, dirinya langsung masuk kekamar Arga untuk membereskan kamar itu juga, tapi Dinda malah menemukan sebuah foto dibalik bantal kepala Arga.
"Ini kan Maya," gumam Dinda terkejut saat melihat foto itu, foto Arga dengan Maya disebuah taman, foto itu mereka ambil saat masih pacaran dulu.
"Letakkan kembali foto itu!!" ujar Arga yang perlahan mendekat kearah Dinda, Dinda pun langsung menaruh foto itu ditempatnya kembali.
"Jangan sentuh barang-barang saya tanpa seizin saya," ujar Arga yang langsung diangguki Dinda.
"Kenapa kamu bisa berada ditempat itu semalam?"
"Saya belum siap untuk cerita," lirih Dinda.
"Saya akan maafkan kelancangan kamu hari ini asalkan kamu cerita kenapa kamu bisa sampai ditempat itu," ujar Arga membuat Dinda terdiam. "Kalau kamu nggak mau cerita, keluar dari rumah saya, karena saya nggak mau tampung orang sembarangan dirumah ini," lanjut Arga.
__ADS_1
"Papa punya banyak utang sama pemilik tempat itu untuk membayar gaji karyawan dan perusahaan milik papa saya yang perlahan bangkrut. Pemilik tempat itu juga seorang rintenir. Setelah papa meninggal, rentenir itu selalu datang buat nagih utang papa, dan saya hanya punya rumah, harta satu-satunya peninggalan papa, tapi rumah itu malah disita bank karena papa juga punya utang dibank dan ternyata papa menggadaikan rumah itu. Saya bingung saat itu mau tinggal dimana, dan bersamaan dengan itu rintenir itu datang lagi dan menawarkan pekerjaan pada saya, katanya kalau saya terima, maka utang papa bisa lunas, tanpa bertanya pekerjaan apa itu, saya langsung menyetujuinya, sehingga semalam saya bisa berada ditempat itu," ucap Dinda dengan air mata yang satu per satu jatuh dari matanya, dia sebenarnya tak ingin menangis didepan orang, tapi air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa ditahannya, Dinda memang selalu lemah saat mengingat kejadian itu.
Kasihan wanita ini, ternyata masalah yang dia alami jauh lebih parah dari yang aku alami, batin Arga.
"Baiklah, saya minta maaf karena membuat kamu mengingat kejadian itu lagi, saya hanya tidak ingin sembarangan menerima seseorang," ucap Arga.
"Iya, saya mengerti," ujar Dinda sambil menghapus air matanya.
"Dinda,"
"Iya,"
"Menikah lah dengan saya," ujar Arga sontak membuat gadis itu melototkan matanya saking terkejutnya.
Apa maksud lelaki ini, dia mengajak ku menikah sementara tadi aku melihat fotonya bersama Maya sangatlah mesra, dia ini sebenarnya siapanya Maya, batin Dinda.
"Kamu hanya bisa menjawab iya, Dinda, karena kalau kamu mengatakan tidak, maka saya akan mengembalikan kamu ke tempat semalam," lagi-lagi Dinda dibuat terkejut oleh kata-kata Arga, baru sehari dia bersama Arga dan dia sudah mendapatkan tiga hal sekaligus yang membuat dirinya terkejut.
__ADS_1