
"Selamat pagi istriku," ucap Aldo sambil memeluk Maya dari belakang.
"Kak Aldo lepasin, aku lagi masak, bisa nggak sih nggak usah ganggu, aku masih marah loh, jangan buat aku tambah marah," ujar Maya dan Aldo pun melepaskan pelukannya dan duduk dimeja makan sambil matanya terus menatap sang istri yang sibuk memasak.
Tiba-tiba terdengar suara ketekukan pintu, Aldo pun memilih untuk membuka pintu rumahnya dan melihat siapa yang datang.
"Rio, Vina," ucap Aldo.
"Boleh kita masuk kak, aku pengen ketemu Maya," ucap Rio.
"Silahkan," ujar Aldo.
"Kakak!!" teriak Maya lalu berlari memeluk Vina, mereka berdua berpelukan cukup lama dan terlihat bahwa keduanya sangat bahagia bertemu.
"Jadi gitu yah, meluknya cumakan ke kakak iparnya aja, nggak mau meluk kakaknya," ucap Rio bercanda membuat kedua wanita itu tersadar dan sontak Maya langsung memeluk Rio.
"Kak Vina sama kak Rio tumben kesini?" tanya Maya.
"Kakak kesini karena pengen berangkat bareng sama Aldo kekantor, Vina juga dari kemarin pengen ketemu kamu, jadi yah kesini deh,"
__ADS_1
"Yaudah kalau kayak gitu, gimana kalau kita sarapan dulu habis itu kalian kekantor," ucap Maya dan mereka semua pun makan bersama.
"Sayang, aku berangkat dulu yah," ujar Rio, Vina pun mencium tangan suaminya itu dan dibalas kecupan didahinya.
"Kakak berangkat dulu yah, May," ujar Aldo, Maya pun menyalimi tangan Aldo, dan tanpa diduga oleh Maya, Aldo mengecup keningnya.
Maafin aku May, maafin semua kesalahan aku, batin Aldo.
Dulu, tidak pernah aku sangka bahwa kita akan bersama, bahwa aku akan mencintaimu kak, namun ternyata cintamu dapat membuatku jatuh cinta pula, batin Maya.
Setelah pamit, Aldo dan Rio pun berangkat menuju kantor, sedangkan Maya dan Vina memilih menonton drama korea.
"Yah, memang aku kenapa?"
"Kamu udah baikan sama kak Aldo?" ucap Vina dan hanya mendapat gelengan dari Maya. "Alasan utama kak Vina dan kak Rio kesini karena khawatir sama kamu dan kak Aldo?" lanjut Vina membuat Maya menatap kearah wanita itu.
"Kak Aldo udah minta maaf ke aku, bahkan udah berkali-kali, cuman aku masih pengen lihat perjuangannya dulu untuk mendapatkan maaf itu. Jujur emang aku kecewa, tapi kalau difikir lagi, seandainya waktu itu kak Aldo nggak jebak aku, mungkin sekarang aku masih jomblo dan mungkin masih terjebak dalam rasa ke Arga," ucap Maya.
"Yah kakak ngerti, semua yang terjadi pasti punya hikmahnya sendiri,"
__ADS_1
"Iya," Mereka berdua pun terdiam, menikmati drama korea yang mereka tonton.
"Aduh May, perut aku sakit, kayaknya aku udah mau lahiran deh," ucap Vina beberapa jam kemudian membuat Maya yang tengah asik menonton menjadi terkejut.
"Apa kak!!, terus kita harus ngapain sekarang," ujar Maya panik.
"Maya, perut aku sakit banget," keluh Vina kesakitan.
"Tenang dulu kak, kakak tarik nafas terus hembusin pelan-pelan," ujar Maya dan langsung diikuti oleh Vina. "Yaudah aku telfon kak Rio dulu," lanjut Maya.
Tidak lama setelahnya menelfon Rio, Rio bersama dengan Aldo pun datang dan langsung membawa Vina menuju rumah sakit. Diperjalanan menuju rumah sakit, entah mengapa Vina malah menjambak rambut Aldo dari belakang membuat lelaki itu tidak bisa menyetir, sehingga digantikan oleh Rio dan Aldo harus menerima rambutnya yang terus dijambak oleh Vina sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Rio sedikit lega karena bukan rambutnya yang dijambak Vina padahal letak duduk mereka bersebelahan dan Maya didepan bersama dengan Aldo, namun Vina malah memilih menjambak rambut Aldo. Sedangkan Maya, saat melihat kakak iparnya itu menjambak rambut suaminya, dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak, tapi saat melihat wajah kesakitan Aldo, gadis itu malah menjadi kasihan.
"Kakak nggak papa?" tanya Maya pada Aldo saat Vina sudah ditangani oleh Dokter dan mereka bertiga menunggu diluar.
"Untung rambut aku nggak botak ditarik Vina," ujar Aldo dengan wajah kesakitan sambil tangannya memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Kasihan, sini aku pijitin kepalanya kak, pasti sakit banget yah," ujar Maya khawatir, lalu tangannya dengan lembut mengelus rambut suaminya itu, dan sesekali wanita itu pun memijat kening Aldo.
__ADS_1
Ternyata ada hikmahnya Vina jambak rambut aku, dengan begitu, aku bisa lebih dekat dengan Maya dan bisa melihat wajah khawatirnya terhadap aku lagi, batin Aldo sambil terus memperhatikan wajah istrinya itu.