
Pukul setengah delapan, keluarga Ghara sudah sampai di gedung pernikahan. Seperti perkataan Arabella saat masih di rumah, kini dua bapak-bapak tampak sibuk mengurus anak masing-masing.
Cio terlihat sangat tampan dengan jas dan dasi kupu-kupunya. Sementara Amora begitu menggemaskan, dengan balutan dress selututnya, dress yang memiliki warna senada dengan Lily dan Arabella.
Baru saja mereka menginjakkan kaki di tanah, para wartawan sudah bergerombol. Namun, semua kamera justru menyorot ke arah dua bocah gembul yang ada di gendongan ayah masing-masing.
"Hadeuh ribet, mana bini lagi bunting!" gumam Ghara.
Satu tangan Ghara menyanggah tubuh Amora, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menggenggam tangan Lily. Dia menghindari pertanyaan-pertanyaan para pemburu berita itu, karena Ghara tidak suka jika kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik.
Sama halnya Alessandro, dia tidak menjawab apapun pertanyaan para wartawan. Akan tetapi orang-orang itu justru dibuat gemas oleh tingkah Cio yang melambaikan tangan dengan wajah yang dibuat selucu mungkin.
"Sedang apa kamu, Nak?" tanya Arabella saat mereka sudah melewati pintu utama.
"Cio cuka difoto," jawab bocah tampan itu narsis.
"Hadeuh nih bocil atu, kayaknya gak ada yang gak lu suka!" timpal Ghara sambil memutar bola matanya jengah. Dia mengusap pelan perut Lily, merasa kasihan jika sang istri harus berdesakan seperti tadi.
"Jangan banyak komentar! Cio kan anak kesayangan Daddy yah?" kata Alessandro, namun Cio malah menggelengkan kepala.
"No, Cio anak Mommy. Cio cayang Mommy."
Mendengar itu, tawa Ghara langsung meledak, sementara Arabella dan Lily melipat bibir ke dalam. Namun, usaha mereka ternyata sia-sia, sebab detik selanjutnya tawa kedua wanita itu ikut pecah.
"Kasihan sekali kamu, Dad. Jelas Cio anak Mommy, kan Mommy yang bawa-bawa Cio waktu di dalem perut," ujar Arabella, sementara wajah Alessandro sudah berubah masam.
"Makanya jangan terlalu percaya diri, Dad. Kayak aku dong, Moya, Moya anak siapa?" tanya Ghara pada sang anak, membuat Amora mengangkat wajah.
"Anyak Daddy Gala," jawab Amora, dan tawa Ghara kembali menggelegar.
Plak!
Tangan Lily langsung melayang mengenai lengan kekar Ghara. Wajah ibu hamil itu tak berbeda jauh dengan milik Alessandro.
"Canda, Sayang," ucap Ghara membujuk Lily agar tidak marah-marah. Dan perdebatan mereka terputus, saat MC mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai.
Ghara dan semua keluarganya ikut bergabung dengan keluarga mempelai. Karena persahabatan yang terjalin membuat mereka merasa seperti saudara.
__ADS_1
"Wuih, Moya cantik bener, pake baju apa ini?" goda Gerry saat melihat Amora datang. Dia gemas sekali dengan bocah cantik itu, karena rambutnya mirip sekali dengan Ghara.
"Bacu Daddy nang tatein," balas Amora, kini dia sudah turun dari gendongan ayahnya.
"Aduh lucunya, Uncle Gerry boleh minjem gak?"
"Ndak oyeh, beyi acah ndiyi."
Mendengar jawaban itu, Gerry langsung tergelak, rasanya dia ingin sekali menguwel-uwel pipi Amora yang cubby dan memerah.
"Boleh gue karungin gak sih, Ghar, anak elu? Lucu banget, rasanya pengen gue jadiin boneka di rumah," kata Gerry.
"Wuih bibit premium, jelas bedalah, apalagi dulu sempet ditampung di sarung rasa strawberry, pasti ada manis-manisnya," balas Ghara menyombongkan diri, karena produk yang dia keluarkan anti gagal.
"Anjirr diperjelas!" kata Gerry sambil geleng-geleng kepala.
Dan akhirnya apa yang mereka tunggu telah tiba. Acara sakral itu dimulai saat MC sudah naik ke panggung, semua tamu undangan termasuk keluarga duduk menyaksikan acara janji suci antara Edo dan Minnie.
Edo berjalan gagah saat melewati semua orang. Dia memakai tuksedo berwarna putih lengkap dengan dasi kupu-kupu. Awalnya wajah pria itu sudah serius, tetapi entah kenapa saat melihat dua sahabatnya dia malah jadi ingin tertawa.
Sebab Gerry dan Ghara sedang mengacungkan jari tengah lalu menggerak-gerakkannya, entah apa tujuannya.
"Inget, Do, lu lagi kawinan, jangan sampe kacau gara-gara dua cucunguk itu," batin pria itu sambil tersenyum lebar.
Melihat Minnie yang tampak berbeda dari biasanya. Jantung Edo langsung berdebar keras, apalagi mereka sudah menantikan hari ini cukup lama.
Hingga kini mereka saling berhadapan, Jerry meraih tangan Edo, lalu menyatukannya dengan tangan Minnie. "Daddy titipkan putri kecil Daddy padamu. Jangan sekali-kali kamu menyakitinya, atau memarahinya tanpa alasan yang jelas. Karena baik aku dan ibunya, tidak akan rela jika kamu melakukan itu semua. Dan ingatlah perjuangan kalian untuk sampai di tahap ini, agar kalian tidak mudah berpikir tentang adanya perpisahan."
Mata Minnie langsung berkaca-kaca, apalagi saat Edo mengucapkan kalimat janji suci untuknya. Rasanya dia ingin melakukan sujud syukur, karena Tuhan telah menyiapkan hari bahagia mereka dengan sempurna.
Tepuk tangan langsung bersahutan, saat sepasang pengantin itu telah sah. Bahkan Gerry berteriak keras, membuat semua orang terkekeh. "Happy wikwikk day."
"Si anyingg!" celetuk Ghara sambil menggeplak belakang kepala Gerry. Namun, bibirnya senantiasa tersenyum lebar.
Setelah acara itu selesai semua orang pun berbondong-bondong untuk mengucapkan selamat. Saking ramainya, dua ayah melupakan tugas mereka, hingga kini dua bocah bernama Cio dan Amora menghilang entah ke mana.
"Daddy, ke mana Amoranya? Kok bisa dilepas gitu aja sih?" sentak Lily sambil celingukan mencari sang anak.
"Iya, Cio juga tidak ada, astaga, bagaimana ini Daddy? Anakku ke mana?" timpal Arabella ikut-ikutan marah.
"Jangan marah-marah dulu, Yang. Ini Daddy juga lagi nyari," balas Alessandro.
__ADS_1
"Iya, Mom. Bentar aku hubungi pihak keamanan sekalian," timpal Ghara.
Baru saja Ghara ingin melangkah, namun tiba-tiba dia melihat sekelebat bayangan Cio dan Amora berada di dekat kue pernikahan. Dua bocah itu tampak melompat-lompat, membuat Ghara langsung mendelik. Begitu pun dengan istri dan kedua orang tuanya.
"Cio, Amora!" teriak semua orang dengan cemas.
...TAMAT...
***
Epilog.
Tiga bulan kemudian.
Ghara menangis memeluk Lily yang sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan anak kedua mereka. Dia merasa tak tega sebab sudah dari semalam Lily terus menahan sakit.
"Kamu bisa, Sayang, kamu bisa," ucap Ghara tepat di telinga Lily sambil sesenggukan.
Sementara Lily terus berusaha membawa bayinya untuk keluar. Dia menggenggam erat lengan Ghara. Hingga tak berselang lama, terdengar suara bayi laki-laki mengisi ruangan itu.
Hah!
Lily membuang nafasnya, dia seperti antara hidup dan mati. Hingga dia kembali mengingat tentang Carissa, seseorang yang sudah melahirkannya ke dunia.
"I love you, Li, i love you so much, Sayang," ungkap Ghara dengan derai air mata. Sementara Lily hanya terdiam, fokus dengan rasa melegakan yang memenuhi dadanya.
"Nyonya, silahkan dekap bayi anda," ucap Dokter sambil menyerahkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu.
Lily tersenyum.
"Kak," panggilnya pada Ghara.
"Ya, Sayang."
"Aku pengen ketemu ibu," ucapnya dengan bibir bergetar. Meskipun Carissa jahat, tetapi tetap saja, wanita itu pernah bertaruh nyawa untuknya. Dia berharap setelah beberapa tahun, Carissa sudah berubah.
Mendengar itu, Ghara pun mengangguk paham. "Ya, nanti kita ketemu ibu. Yang penting kamu sehat dulu."
Lily pun menangis, dan Ghara langsung mendekapnya. Kelahiran anak kedua mereka yang diberi nama Sehzade El Barrack, semakin membuat hidup mereka terasa sempurna. Bahkan kini mereka terasa lebih damai, karena telah melupakan kesalahan-kesalahan di masa lalu.
***
__ADS_1
See you guys, terima kasih sudah membaca anak buayaku😍😍😍